“Honey, aku kangen,” seru Sella setibanya Frans di kafe rumah sakit pagi itu.
Tanpa malu-malu Sella segera bergelayut di tangan Frans, kemudian mengajaknya duduk di tempat biasa. Sella benar-benar bahagia bisa mendapatkan pacar seorang dokter kandungan. Sungguh dirinya merasa bangga dan selalu ingin memamerkan kemesraannya di depan umum.
Dirinya bahkan selalu memilih tempat di sekitar jendela di mana ia bisa bermesra-mesraan di sana, menempel dengan kekasihnya dan membuat iri para perawat lainnya yang lalu lalang di sekitar kafe. Betapa bahagia dan bangganya seorang perawat seperti dirinya bisa menggaet seorang dokter kandungan blasteran yang begitu tampan luar biasa.
“Kamu nggak kangen sama aku, Honey?” rengek Sella karena belum mendapatkan senyum kekasihnya sama sekali.
Meskipun ia tahu memang karakter kekasihnya cenderung dingin, tapi tetap saja ia ingin senyuman dan penegasan dari kekasihnya ini. Selama ini dirinyalah yang aktif mengejar Frans dengan memberikan perhatian, selalu aktif menunjukkan perasaannya hingga akhirnya usahanya berbalas. Tiba-tiba Frans mau jadi pacarnya.
Tentu ia tak akan membuang-buang kesempatan. Sella tak membiarkan Frans menjauh darinya. Dirinya yang aktif menelepon, mengajak jalan dan selalu jadi inisiator untuk melakukan hal-hal romantis termasuk mencium kekasihnya ini.
“Tentu. Makanya aku kemari, Honey,” sahut Frans singkat.
Ia masih kesal membayangkan keakraban Reno, Firza dan Liora saat ini di ruangannya.
“Apa hari ini kamu banyak jadwal operasi, Honey?”
“Seperti biasa. Ada tiga lagi sampai sore,” sahut Frans singkat.
Sella lalu mengajak kekasihnya duduk lalu memegangi tangannya sambil meremasnya lembut, kemudian mulai bermanja-manja dengan kekasihnya ini.
“Nggak sampai malam ‘kan, Honey?”
“Nggak, kok! Kita jarang operasi malam, kecuali kalau darurat. Itu pun jarang terjadi.” Frans menyampaikan.
Entahlah, kenapa ia sangat malas berbincang-bincang dengan Sella sekarang. Rasanya ingin kembali naik ke ruangannya sekarang juga.
“Syukurlah! Seperti biasa aku mau mengajak kamu makan malam, Honey,” ucap Sella lagi.
Frans menatap lamat-lamat wajah kekasihnya. Dia cantik, tapi kenapa kecantikan Liora membuatnya sempat terpana tadi. Astaga! Ia harus membuang rasa aneh di hatinya. Kalau tidak, ia berpotensi menyakiti hati kekasihnya ini.
Benar, kekasihnya jauh lebih baik dari Liora. Dia lembut, keibuan, perhatian. Sedangkan Liora dingin, kasar dan pembangkang. Liora jauh di bawah Sella. Frans terus membandingkan Sella dan Liora, ingin mengusir Liora dari pikirannya dengan menjelek-jelekkannya sambil memuji-muji Sella, berusaha menumbuhkan cintanya pada Sella yang seminggu ini terasa hambar.
‘Aku harus menjaga perasaan wanita ini, wanita yang sudah sabar mendampingiku dan sabar menghadapi sifat dingin, cuek dan kasarku,' batin Frans.
Jujur, kalau soal kecantikan, Liora memang jauh di atas Sella. Sebenarnya ia tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Perhatian dan kasih sayang Sella selama inilah yang menyentuh perasaannya. Namun memang, seminggu ini rasa cintanya pada wanita cantik yang ada di sampingnya ini memang berkurang karena satu minggu ini ia selalu terbayang-bayang wajah Liora, terkenang aktivitas panasnya dengan Liora dan juga dirundung rasa bersalah.
Dan kini, setelah ia bertemu langsung dengan Liora, bukan rasa bersalah lagi yang membuncah di dadanya, tapi rasa kesal karena diabaikan, kesal karena Liora begitu tak acuh dan santai padanya. Ia juga kesal karena ancamannya pada Liora seolah-olah berbalik kepadanya dan perasaan itu tidak bisa ia deskripsikan. Yang jelas perasaan itu mengganggu dan mengusiknya saat ini.
“Honey, apa kamu mendengarku?” panggil Sella berkali-kali saat melihat kekasihnya tampak sering melamun saat ia ajak bicara.
“Ah, maaf! Aku kecapean kayaknya, Honey,” kilah Frans menutupi kegundahannya.
“Oh, gitu, ya! Baiklah, aku akan memesan coklat hangat sekarang juga. Setelah menghabiskan coklat hangat tersebut, segeralah kembali ke kantor kamu. Kamu bisa memejamkan mata kamu sekitar setengah jam, baru kamu operasi pasien kamu.”
Frans tersenyum. Ini kelebihan wanita ini. Dia benar-benar perhatian dan pengertian. Perasaan aneh yang ia rasakan tadi, buru-buru ia tepis lalu kembali ia pusatkan pada wanita cantik yang selalu ada di sampingnya, wanita yang selalu mendampinginya, memperhatikannya, dan tidak lelah menghadapinya.
“Makasih, Honey. Kamu benar-benar terbaik. Kamu yang benar-benar kekasih yang luar biasa sempurna,” ujar Frans berusaha memupuk cintanya kembali kepada Sella, membuat Sella menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya.
“Sama-sama, Honey. Love you ...” sahut Sella manja.
Frans terus menekan dalam-dalam perasaan anehnya pada Liora, berusaha memanggil kembali rasa cintanya pada kekasihnya, menikmati kebersamaannya sambil menunggu pesanan kopi dan coklat hangat mereka tiba di meja mereka pagi itu.
***
“Liora, kamu punya jadwal SC hari ini?” sambut Reno semringah saat Liora baru keluar dari dalam lift.
“Aku punya 4 jadwal seharian ini, Dok,” sahut Liora riang.
Reno ikut semringah. “Wah, kamu sudah dipercaya untuk memegang banyak pasien, ya! Aku ikut senang mendengarnya,” seru Reno bahagia sambil menggandeng tangan Liora menuju ruangan mereka.
Satu minggu sudah mereka lalui bersama. Reno dan Firza sama-sama berusaha keras untuk meraih perhatian Liora. Namun, sepertinya Liora tidak menganggap mereka spesial. Liora memperlakukan mereka sama seperti teman biasa.
Namun, baik Reno maupun Firza tidak akan menyerah begitu saja. Mereka yakin mereka bisa menyentuh hati Liora dan akan berusaha bersaing dengan fair. Seperti hari ini misalnya. Reno akan mengajak Liora makan siang berdua saja untuk melancarkan modusnya, sementara Firza akan mengajak Liora makan malam dan akan terus membagi waktu secara bergantian sampai Liora menoleh ke arah mereka dan memilih salah satu dari mereka sebagai kekasihnya.
“Hey, ajak-ajak aku, dong!” seru Firza tahu-tahu sudah berada di dekat Liora dan Reno yang baru saja masuk ke ruangannya.
Reno dan Liora tertawa. “Mau diajak ke mana emangnya, Dokter Firza?” canda Liora.
Firza menarik tangan Liora mendekat ke arahnya lalu berseru riang.
“Ajak ke mana aja aku mau, asal sama kamu,” rayu Firza, membuat Reno cemberut.
“Heh, yang fair, dong! Jangan asal rayu depan umum gitu!” omel Reno sewot.
Liora geleng kepala. Ia tahu niat Reno dan Firza padanya, tapi ia tak mau membina hubungan dengan siapa pun saat ini.
“Yeee, namanya juga usaha!” cibir Firza pada Reno lalu kembali fokus pada Liora.
“Kamu hebat, Liora. Baru kerja seminggu di sini kamu sudah dikasih jadwal yang cukup banyak.”
“Iya, dokter benar. Aku benar-benar bahagia bisa dipercaya oleh dokter Reynaldi untuk memegang banyak jadwal SC.”
“Ke depannya, jadwal kamu akan semakin padat. Kamu juga akan dipercaya memeriksa pasien di poli kandungan, bahkan nanti kamu akan menerima pasien VVIP di rooftop langsung dari helikopter,” tambah Firza lagi.
Liora membelalak lebar. “Kayak di film-film itu, ya?”
“Iya, tapi itu jarang terjadi. Kalaupun itu ada, kamu akan dipercaya untuk memegang pasien super mahal tersebut seperti dokter Frans,” timpal Reno menambahkan.
Frans yang sejak tadi sudah berada di ruangan, merasa kesal diabaikan oleh tiga orang ini. Dan kini, hatinya semakin panas kala melihat usaha keras dari Reno dan Firza untuk merayu Liora, tapi sayangnya ia tidak bisa berkata-kata. Seminggu ini ia menahan kesal dalam hatinya. Semakin lama rasa kesalnya semakin menumpuk dan berimbas pada hubungannya dengan Sella yang terasa semakin hambar saja.
Itu dikarenakan setiap hari ia harus melihat kebersamaan, keceriaan antara Liora dan dua sahabatnya, yang tidak bisa tidak membuatnya jengkel. Kenapa? Karena ia diabaikan. Saking kesalnya, ia bahkan melakukan hal-hal impulsif di luar kebiasaannya, yaitu mengurai kebersamaan mereka bertiga dengan memberikan tugas-tugas di luar tugas yang diberikan oleh dokter Reynaldi.
“Heh, kalian! Nggak usah banyak ngobrol di sini. Langsung masuk ke ruangan operasi masing-masing sekarang! Jangan buang-buang waktu untuk flirting di sini! Ini jam kerja, tahu nggak?” seru Frans ingin memisahkan dua sahabatnya dari Liora.
Reno menoleh sekilas lalu mencebik pada Frans.
“Jangan rese, deh! Kami mau usaha ini,” seru Reno lantang.
Liora tertawa lepas, seperti biasa tak mau repot melihat Frans. Sejak awal ia menganggapnya tidak ada, saking bencinya ia padanya.
Karakter Frans sungguh membuatnya muak. Sampai kapan pun ia tak akan mau beramah-tamah dengan Frans kalau bukan terpaksa.
“Usaha apaan, Dok?” tanya Liora geli.
“Usaha buat deketin kamu. Apa kamu nggak tahu seminggu ini kami berusaha untuk menggoda kamu, merayu dan berusaha mencuri perhatianmu?” seru Reno kian gamblang.
Liora menatap serius wajah Reno dan Firza, pura-pura polos. Padahal ia tahu persis dua orang ini mengejarnya dan berlomba-lomba memberi perhatian padanya.
“Benarkah?” serunya bergantian menatap Reno dan Firza.
“Beneran, Ra. Kami berdua pengen mendapatkan kamu, pengen jadi pacar kamu.”
Firza menarik pelan tangan Liora agar menatapnya.
“Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus makan malam sama aku malam ini, Ra.”
Reno juga menarik dan menggoyang-goyangkan tangan Liora.
“Pokoknya aku juga nggak mau tahu, siang ini kamu harus makan siang sama aku, ya!”
Liora geleng kepala. Bukankah mereka berdua juga tahu kalau ia tidak akan memberikan harapan pada siapa pun?
“Kenapa kalian melakukan hal yang sia-sia, sih?” seru Liora tersenyum geli.
“Nggak ada hal yang sia-sia, Ra. Kami ‘kan terus berusaha? Kami ‘kan ....”
“Kalian ini benar-benar tidak tahu malu ,ya! Ini jam kerja. Kenapa kalian bahas soal pribadi di sini?” sembur Frans jengah, menyela rengekan Reno pada Liora.
Ia muak, kesal, geram melihat dua sahabatnya merayu Liora. Dan ia marah melihat Liora terlalu sering menebar senyuman pada sahabatnya.
Seperti sebelumnya, Liora sama sekali tidak menganggap Frans ada. Ia hanya fokus pada Reno dan Firza, mengabaikan omelan Frans.
“Nggak usah didengerin omelan Frans, ya! Fokus aja ke kami berdua! Dia udah ada yang punya, jadi nggak usah hiraukan dia!”
“Sialan kalian!” Frans semakin geram.
Reno mengibaskan tangannya tanpa mau repot menatap wajah Frans lagi. “Udah, pergi sana! Kami mau usaha. Jangan ganggu kami, dong!” usir Reno lagi membuat Frans emosi.
Hari ini tidak punya alasan sama sekali untuk memisahkan mereka bertiga. Karena itu dengan kesal, akhirnya ia kembali ke mejanya, menatap interaksi tiga orang yang membuatnya dongkol. Namun, sialnya matanya terus-terusan tertuju pada Liora yang semakin hari semakin cantik.
Sayangnya, Liora sama sekali tak ingin bicara padanya. Sekuat tenaga ia berusaha menyela percakapan mereka, tetap saja Liora mengabaikannya. Bahkan, Liora tak mau repot menatap ke arahnya. Ia geram dan jengkel dibuatnya. Ia tak mengerti apa yang terjadi padanya. Apa ia hanya kesal karena Liora merebut dua sahabatnya? Karena semenjak Liora masuk ke RS ini, Reno dan Firza pun ikut mengabaikannya.
“Baiklah, aku akan makan siang dan makan malam bersama kalian berdua kapan pun kalian mau, kecuali weekend. Namun, aku perlu tekankan kalau kalian tidak bisa memaksaku. Andai aku tetap tidak jatuh cinta pada kalian, jangan marah, ya! Tetap perlakukan aku seperti sekarang karena aku benar-benar suka berteman dengan kalian berdua,” ucap Liora pelan.
Mendengar kata-kata Liora tadi, tanpa sadar tangan Frans mengepal keras. Kertas-kertas data pasien yang berada di atas mejanya pun ikut menjadi sasarannya. Dia meremasnya dan menggumpalnya, benar-benar geram mendengar kata-kata Liora juga merasa kesal melihat senyuman manis yang ia tebarkan di depan dua sahabat sialannya ini sambil mengumpat di dalam hatinya.
‘Dasar wanita sialan! Kamu ingin tebar pesona dengan dua sahabatku rupanya? Tidak akan aku biarkan. Aku akan mengatur jadwal sahabatku agar tidak bisa bertemu dengan kamu sama sekali, bahkan aku bisa memecatmu dari sini kalau aku mau. Tunggu saja! Aku akan segera merealisasikan ucapanku, Liora!’
Bersambung ...