Kekesalan Frans

1546 Kata
“Lama amat, sih, ngobrolnya di atas,” omel Reno kesal langsung menarik Firza mendekati Frans dan juga Liora yang turun beriringan dari rooftop. Frans yang sejak awal kesal pada Liora, belum dapat menetralkan raut wajahnya, segera melampiaskan kekesalannya pada Reno, sahabatnya yang paling bawel. “Nggak usah bawel, deh! Gue cuman mau kasih tahu mekanisme rumah sakit ini biar dia nggak kagok,” kilah Frans. “Lah, kan, bisa diomongin bareng-bareng di sini? Nggak harus berdua aja di atas kayak kalian udah kenal lama aja,” timpal Firza sebal. Frans semakin kesal dengan tingkah kedua sahabatnya. Ia saat ini masih benar-benar kesal dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Liora tadi. Entah kenapa dadanya bergemuruh, benar-benar emosi dengan tingkah santai dan abai dari Liora. Baru kali ini ia bertemu dengan karakter wanita yang membuatnya kesal. Wanita ini tipe wanita pembangkang. Kenapa pula ia harus terlibat dengan wanita ini? Awas aja kalau sampai dia hamil! Amit-amit punya keturunan dari wanita pembangkang macam dia. Frans menatap keseluruhan tampilan wanita ini. Tadi ia belum sempat melihatnya dengan seksama karena Liora membelakanginya. Hati kecilnya mengakui kalau Liora benar-benar cantik. Kecantikannya jauh di atas Sella. Rambutnya yang panjang dan hitam, memiliki hidung yang begitu mancung, alis mata yang tebal, juga memiliki wajah tirus yang benar-benar diinginkan oleh wanita zaman sekarang. Dia benar-benar sempurna. Orang tidak akan tahu kalau dia mempunyai sifat yang buruk dan suka berkata tajam. “Lo kenapa mandangin Liora kayak gitu, Frans? Eh, inget lo udah punya kekasih! Lo bilang lo mau setia sama Sella,” tegur Reno sedikit jengah melihat cara Frans menatap Liora. “Nggak usah lo ingetin juga, gue udah tahu, Woy! Gue nggak mungkinlah ke mana-mana lagi. Hati gue udah jadi milik Sella. Lagian apa salahnya juga menatap rekan sendiri? Gue mau mengenali wajahnya. Mana tahu ketemu di jalan. Bawel amat, sih, lo!” sembur Frans kesal. “Yeee, diingetin malah sewot. Gue cuma ingetin supaya lo nggak terpana dan jatuh cinta pada Liora secara dia cantik banget begini tampilannya. Lo mending urusin aja data pasien lo. Gue sama Firza mau ngajak Liora ke tempat duduknya.” Tanpa menunggu respon dari Frans lagi, Reno dan Firza langsung menarik pelan tangan Liora masuk ke ruangan mereka, yaitu satu buah ruangan besar di mana ada empat meja di sana. “Nah, Liora! Ini adalah ruangan kita. Ini ruangan terbuka. Jadi kalau ada keperluan, kita bisa saling berkunjung ke meja masing-masing dan menanyakan kesulitan kita menghadapi pasien, berbagi informasi juga bisa saling berdiskusi jika kita mengalami kondisi baru dan mendapati kesulitan menangani pasien kita. Konsep kita di sini adalah konsep kekeluargaan.” Liora tersenyum lega. Sepertinya dirinya akan betah berada di sini. Dua orang ini bisa ia jadikan teman. Sudah terlihat mereka begitu ramah dan baik hati, beda dengan laki-laki yang sedang berada di depannya saat ini. “Jadi saya duduk di mana, Dokter Reno?” tanya Liora sopan. “Kamu duduk di sini aja. Kursi dan mejanya cuman ada 4. Kemungkinan nanti akan ditambah satu buah kursi dan meja lagi ketika dokter Reza pulang.” Reno menyampaikan. “Iya, dokter Liora. Eh, aku nggak mau, ah, panggil dokter lagi! Kita saling panggil nama aja gimana? Apalagi kita dulu satu sekolah? Apa aku boleh memanggil kamu dengan nama saja?” tanya Firza lembut. “Silakan saja, Dokter! Kalau saya tidak akan mungkin kurang ajar pada senior saya.” Reno mengerucutkan bibirnya. “Bisa nggak, nggak usah formal kayak gitu ngomongnya?” Firza ikut menambahkan. “Iya, Liora. Kami ingin lebih akrab sama kamu.” Frans tiba-tiba merasa geram. Apalagi wanita yang membuatnya kesal ini tak henti-hentinya melempar senyum dan sesekali memainkan rambutnya, membuatnya jengah. Ia kesal melihat Liora yang sepertinya akan tebar pesona pada Reno dan Firza. Dasar penggali emas! Tidak berhasil menargetnya, sepertinya Liora akan menarget sahabat-sahabatnya. “Hei, kalian jangan aneh-aneh, ya! Dia itu dokter baru. Tentu dia harus menggunakan bahasa formal saat bicara pada kita yang merupakan seniornya,” tegur Frans yang saat ini sedang duduk menatap kesal pada dua sahabatnya yang sibuk menggoda Liora. Ada rasa yang menggumpal di dalam hatinya yang tidak bisa ia deskripsikan ketika melihat dua orang itu berusaha untuk menggoda Liora. Ada juga rasa jengkel melihat Liora yang tampak kegenitan tebar pesona di depan sahabatnya. Sambil mencebikkan bibirnya, Reno meminta Frans untuk tidak ikut campur urusan mereka. “Daripada lo jadi nyamuk dan senewen sendirian, mending lo telepon Sella aja. Mana tahu dia lagi enggak sibuk. Jalan aja ke mana, kek! Ke rooftop atau ke kafe kek! Jadwal operasi lo juga masih satu jam lagi. Kami mau bercengkerama dulu dengan dokter Liora.” Reno segera kembali menatap Liora, mengabaikan Frans. “Nggak usah terlalu formal dengan kami berdua. Kami nggak mau dipanggil dengan sebutan dokter. Kami juga nggak mau mendengar kamu bicara bahasa formal. Anggap aja kami teman kamu! Kita cuma beda beberapa tahun saja, kan?” “Reno bener, tuh, Ra! Pokoknya kami nggak mau kamu formal sama kami. Kami beneran mau akrab sama kamu,” timpal Firza. Liora yang tadinya masih bingung bersikap pada seniornya, kini mencoba untuk lebih santai. Ia akhirnya tersenyum lebar, membuat 3 orang pria yang ada dalam ruangan itu terpana. Sungguh senyuman yang begitu indah. Wajah cantik Liora tanpa tersenyum pun sudah begitu indah, cantik jelita dan begitu sempurna. Ditambah tersenyum begini. Reno dan Firza semakin ingin bersaing dengan fair mendapatkan hati dokter cantik ini. “Baiklah, kalau kalian memaksa. Namun, aku tidak akan mungkin bisa memanggil kalian dengan nama saja. Pertama, kalian lebih dewasa, lebih tua dibanding aku. Kedua, kalian seniorku. Aku harus menghormati kalian. Aku tetap akan memanggil kalian dengan sebutan dokter, tapi aku akan mengubah bahasaku menjadi lebih informal.” Liora menegaskan. Reno dan Firza tersenyum bahagia. Akhirnya Liora mau sedikit akrab dengan mereka. No problem kalau Liora masih ingin memanggil mereka dengan sebutan dokter, tapi mereka berdua tidak akan melakukan hal yang sama. Mereka akan memanggilnya dengan namanya saja. “Oke, deal! Mulai sekarang kita temenan, ya!” seru Reno riang. “Iya, kita teman mulai hari ini, Liora. Duduk dulu, yuk! Kita berbincang-bincang,” ujar Firza sambil mengeluarkan aneka camilan dari laci mejanya plus aneka jus lalu menyodorkannya pada Liora. Reno pun tak mau kalah. Ia mengeluarkan snack favoritnya dari dalam lacinya lalu meletakkannya di atas meja. “Wah, apa ini? Ini welcome party buatku, Dokter?” seru Liora semringah. Reno dan Firza tertawa. “Ya, boleh juga kalau menganggapnya demikian,” seru Reno riang. “Ini apaan, Dokter? Kok, ada banyak makanan di laci kalian?” Reno dan Firza pun menyeret kursi mereka ke dekat meja Liora lalu menjelaskan kenapa mereka punya banyak makanan. Itu karena terkadang mereka tidak punya waktu untuk sekedar nongkrong di kantin atau di restoran untuk makan karena ada masanya jadwal mereka begitu padat. Reno, Firza dan Liora pun terus berbincang dan mulai mendapatkan kemistri satu sama lain. Sementara Frans geram melihat kebersamaan dua sahabatnya dengan Liora. Ia benar-benar tersinggung juga merasa iri. Bagaimana tidak? Liora memutuskan untuk berbicara santai pada dua sahabatnya, tapi tidak akan mungkin bisa bicara santai dengannya. Apalagi ketika ia mengingat perkataan Liora di atas barusan. Liora mengatakan bahwa ia ingin menjaga jarak darinya, ingin mengabaikan dirinya dan hanya akan bersikap formal di depan orang lain saja. Selebihnya dia tidak akan menganggapnya ada. Dan entah kenapa ia tidak senang karena hal ini. Sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ketika ia melihat layar ponselnya, nama Sella sang kekasih sudah berkedip-kedip di layar ponselnya. Tiba-tiba muncul keinginan untuk menunjukkan kemesraannya pada Sella di depan sahabat-sahabatnya, terutama di depan Liora. Buru-buru ia mengangkat panggilan video dari Sella lalu menyapanya dengan mesra. [Hai, Honey. Sudah merindukanku?] [Tentulah, Honey. Aku kangen banget sama kamu. Apa kamu punya jadwal?] [Kurang lebih satu jam lagi, Honey] [Bisa nggak kamu ke kafe sebentar? Kita pacaran bentar, yuk!] [Kamu emang nggak kerjaan saat ini?] [Ada, sih, tapi kebetulan tugasku sudah selesai pagi ini. Pasien yang harus aku rawat juga sudah tidur. Dia pasien GERD, memiliki gangguan pencernaan dan asam lambungnya sering kumat sehingga dokter meminta untuk menyuntikkan obat. Tak lama kemudian dia tidur. Apa mungkin dokter memberinya obat tidur, ya?] [Biasanya begitu. Karena orang yang kena penyakit lambung itu biasanya harus dibikin tenang. Semakin dia banyak pikiran semakin tinggi produksi asam lambungnya.] [Iya, Honey. Jadi gimana? Mau nggak ngedate sama aku?] [Ya, mau, dong, Honey! Kalau gitu aku turun sekarang. Sampai jumpa di bawah, Honey] Dengan bangga Frans menoleh ke arah Liora, kemudian melangkah mendekatinya lalu tersenyum miring. Liora meliriknya sekilas lalu segera memalingkan wajahnya kembali. Tidak mau malu sendiri karena diabaikan Liora, Frans akhirnya menyapa kedua sahabatnya. “Gue turun bentar. Gue mau pacaran dulu sama kekasih gue,” ujar Frans menekankan, sengaja mengeraskan suaranya di depan Liora, menegaskan kalau ia sangat mencintai Sella, kekasihnya. Namun Liora bergeming, tidak peduli ataupun bereaksi sama sekali, membuat Frans keki. “Ya, buruan turun sana! Kami juga mau pacaran dulu sama si cantik Liora,” usir Reno lalu kembali berbincang dengan Liora, mengabaikan Frans lagi. Frans seketika cemberut mendengar kata-kata yang terlontar dari Reno barusan. Kenapa ketiga orang ini membuatnya kesal? Frans langsung berbalik badan, kemudian melangkah keluar dari ruangannya. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan begitu malas untuk menemui kekasihnya sendiri. "Ada apa denganku? Kenapa aku ingin berada di ruangan ini bersama kedua sahabatku dan wanita itu? Kenapa aku begitu malas menemui kekasihku sendiri?" Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN