“Apa yang ingin anda bicarakan, Dokter Frans?” tanya Liora malas.
Kalau bukan gaji dan karir cemerlang yang akan ia dapatkan di RS ini, rasanya ingin mengundurkan diri sekarang juga. Kenapa dunia sekecil ini? Kenapa pula laki-laki ini harus menjadi rekannya?
Frans menatap sinis Liora. Ia berniat menyelidiki niat terselubung Liora padanya. Rasanya tak mungkin ada kebetulan seperti ini. Liora pasti ada niat khusus padanya secara ia tampan dan kaya. Apa jangan-jangan Liora ingin panjat sosial dengan meminta pertanggungjawabannya agar bisa masuk ke circle orang kaya melalui dirinya?
Bukannya ia tak tahu kalau Liora bukan orang kaya. Dia cantik dan elegan, tapi pakaian yang ia kenakan, bukan barang branded seperti yang ia kenakan. Liora pasti jadi dokter karena beasiswa. Fix, itu tak akan terbantahkan lagi.
“Kamu tahu apa yang akan aku bicarakan padamu?” cecar Frans dingin.
“Maaf, saya tidak tahu karena saya adalah dokter baru yang akan bekerja mulai hari ini. Ini hari pertama saya, jadi saya tidak tahu maksud anda, Dokter.”
“Kamu tahu persis kita sedang membahas apa?” desis Frans melotot tajam.
Liora tersenyum. “Saya tidak mengerti, Dokter Frans,” serunya tak mau memperpanjang masalah, apalagi sampai membahas hal yang sudah ia kubur.
“K-kamu!? Jangan buat aku emosi, ya? Apa tujuan kamu sebenarnya terkait peristiwa malam itu?”
Liora menghela nafas. Ternyata laki-laki ini benar-benar ingin mempertegas semuanya.
“Maaf, saya tidak ingin membahas masalah pribadi di sini,” sahut Liora dingin.
"Kurang ajar! Kenapa dia bisa berkata begitu santai padaku?" batin Frans geram lalu kembali mendesis tajam.
“Aku juga malas membicarakan ini padamu karena itu tidak penting bagiku. Namun, aku perlu menarik batas yang jelas di antara kita berdua. Hal yang terjadi minggu lalu itu semuanya tidak disengaja. Sama sepertimu, aku juga meminum sesuatu yang aku tidak ketahui apa isinya. Dan ketika kamu menggodaku begitu, maka semuanya terjadi begitu saja. Aku pun tidak bisa menolaknya sama sekali, tapi sekali lagi aku tegaskan. Semua yang memicunya kamu sendiri. Kamu yang memulai semuanya.”
Liora berbalik badan sambil mengibaskan tangannya beberapa kali, malas membahas ini.
“Tidak usah dibahas lagi, Dokter. Saya tidak mau mendengarnya.”
Frans geram dibelakangi begini. Ia lalu melanjutkan perkataannya dengan kesal.
“Fine, bagus kalau kamu tidak mau mendengarnya karena aku juga tidak mau membahas soal ini lagi. Ini adalah pertama dan terakhir kali aku menegaskan soal ini karena waktu itu kamu tidak membiarkan aku bicara sedikit pun. Aku hanya ingin memberi ultimatum padamu. Jangan pernah menuntut pertanggungjawaban dariku! Segeralah minum kontrasepsi darurat agar tidak hamil! Dan kalaupun kamu kebablasan hamil, gugurkan saja! Aku tak sudi punya anak darimu, apalagi sampai menikah denganmu.” Frans menegaskan.
Liora membelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki ini. Seorang dokter kandungan seperti dirinya, bisa-bisanya memintanya untuk menggugurkan kandungan? Gila! Ia sungguh tak menyangka, seorang malaikat penolong wanita melahirkan, bisa begitu keji seperti ini.
“Kamu pasti tidak bodoh ‘kan? Tidak mungkin kamu tidak meminum kontrasepsi darurat pasca kejadian, kan?” tandas Frans mengonfirmasi.
Liora berbalik badan lalu menatap laki-laki b******k, biadab dan keji bertopengkan profesi dokter ini lalu tersenyum miring, merasa miris melihat tampilan tampan, tapi jahat di depannya ini.
“Itu bukan urusan anda. Itu urusan saya.”
Frans semakin geram. Dengan garang ia mengancam Liora.
“Dengar, jangan kamu biarkan sesuatu bertumbuh di dalam rahim kamu! Karena sampai kapan pun aku tidak akan mungkin bertanggung jawab padamu. Aku memiliki seorang kekasih dan aku sudah membina hubungan dengannya setahun lebih. Aku tidak mau mencederai hubungan kami hanya kesalahan yang tidak direncanakan sama sekali. Aku tidak menyukai kamu dan aku tidak kenal kamu. Aku tidak sudi masuk ke dalam hidup dan kamu jangan sekali-sekali memanfaatkan rahim kamu untuk mengikat dan menjeratku, ya!”
“Sekali lagi itu urusan saya, bukan urusan anda. Lebih baik kita menjaga jarak dan tidak sering berinteraksi, Dokter Frans. Saya hanya akan berinteraksi sebagai seorang rekan pada seorang senior saja. Dan jangan khawatir! Saya tidak akan mungkin mengganggu hubungan anda dengan pacar anda karena saya juga tidak terlalu peduli dengan anda.”
Frans kesal mendengar nada sombong wanita yang tak sengaja ia tiduri ini.
“Apa kamu bilang?”
Liora menatap sinis Frans lalu tersenyum meremehkannya.
“Seperti anda yang tidak menginginkan masuk dalam kehidupan saya, begitu pun saya tidak sudi masuk dalam kehidupan anda. Apalagi saya sudah mengetahui kalau anda adalah tipikal laki-laki biadab dan keji yang bersembunyi di balik topeng seorang dokter kandungan. Bisa-bisanya meminta saya untuk menggugurkan kandungan, padahal tugas kita adalah mengantarkan nyawa manusia ke dunia kita, menjadi jembatan seorang bayi untuk lahir ke dunia.”
“K-kamu!?” Frans tersinggung. Darahnya mendidih.
“Bisa-bisanya anda meminta saya untuk melakukan itu? Gila!” sambung Liora sambil berdecak tidak percaya.
“Karena aku tidak mau terlibat apapun dengan kamu yang aku tidak kenal sama sekali. Aku tidak tahu motif kamu. Bisa jadi kamu akan menuntut macam-macam dariku, seperti menuntut hartaku, ingin masuk circle keluargaku yang kaya raya, dan menuntut segala macam atas nama bayi dalam kandungan kamu. Banyak kejadian yang seperti itu ‘kan? Banyak wanita-wanita yang menumbalkan tubuhnya untuk panjat sosial dan aku pastikan kamu tidak akan bisa melakukan itu padaku,” desis Frans berapi-api.
Liora geleng kepala, tak percaya kata-kata keji bisa keluar dari mulut seorang dokter kandungan.
“Saya benar-benar tidak menyangka pekerjaan yang begitu mulia sebagai seorang dokter tidak mencerminkan watak pribadi seseorang. Memang di atas dunia ini kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Jangan khawatirkan itu, Dokter! Andai pun terjadi kehamilan, saya tidak akan mungkin meminta pertanggungjawaban dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti anda, laki-laki blasteran keren, tapi tega ingin membunuh anak sendiri seperti anda. Tidak usah terlalu akrab dengan saya. Kalau bisa atur jadwalnya tidak berdekatan. Bila perlu atur jadwal yang pas agar kita tidak bertatap muka,” tegas Liora.
“Kurang ajar! Berani kamu mengguruiku, hah?” bentak Frans emosi.
Liora mencibir lalu melanjutkan perkataannya.
“Jangan pernah ikut campur urusan saya dan juga jangan mempersulit saya karena saya baru ingin mengembangkan karir saya di sini! Anggap saja kita tidak kenal satu sama lain! Saya akan menghormati anda di depan orang, tapi saya tidak akan menganggap anda ada jika kita hanya berdua saja. Permisi! Saya harus bekerja!” cetus Liora lalu bergegas meninggalkan Frans, menahan geram di dalam hatinya.
Frans meradang. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Kenapa ia tampak jahat di sini? Niatnya untuk mengultimatum Liora, berbalik padanya sendiri.
Ia juga tidak mengerti, kenapa ia mengatakan kata-kata keji seperti tadi. Ia tahu pekerjaan sebagai seorang dokter adalah pekerjaan mulia. Dirinyalah yang menyelamatkan ibu-ibu agar bisa melahirkan bayi-bayi mereka dengan selamat. Namun, membayangkan dirinya akan memiliki anak dari wanita yang tidak ia kenal, sungguh benar-benar memukul batinnya, terutama karena ia sudah memiliki kekasih yang selama ini begitu perhatian padanya. Ia tidak menyakiti hati kekasihnya sendiri karena itu ia melontarkan kata-kata kejam tadi.
Dan sungguh ia tidak pernah menyangka, wanita yang ia ingin ultimatum malah membalasnya dengan kata-kata pedas dan itu membuatnya sakit hati juga tersinggung.
“Dasar wanita b******k sialan! Siapa juga yang menginginkan kamu? Siapa juga yang ingin bertegur sapa dengan kamu? Sampai mati pun aku tidak mau terlibat dengan kamu, Wanita sialan!”
Bersambung ...