“Gue sudah punya satu yang akan gue jaga sampai halal nanti.” Frans menegaskan.
Reno dan Firza berdecak kagum.
“Beruntung banget Sella dapetin lo. Lo setia banget untuk ukuran laki-laki tampan dan blasteran. Rasanya nggak percaya aja dokter setampan lo bisa setia dengan satu cewek aja,” seru Firza takjub.
“Kita ‘kan berpendidikan? Orang berpendidikan seperti kita tidak akan mungkin mempermainkan orang lain. Kita punya moral dan yang kita tolong selama ini adalah seorang wanita. Kita ‘kan membantu ibu-ibu melahirkan anak-anak mereka? Tentu itu membuat diri kita tidak akan mungkin mempermainkan wanita, mengingat betapa susahnya mereka melahirkan generasi penerus ke dunia,” ujar Frans bijak.
“Yee, nggak usah lo bilang juga, gue juga sama kayak lo. Di antara kita berempat, emang ada yang terjerumus pergaulan bebas? Enggak ‘kan?” seloroh Reno sewot.
Frans terdiam sejenak. Ia sudah tidak perjaka lagi karena tak sengaja terjebak di situasi yang salah dengan seorang wanita cantik. Apa dirinya sudah terjerumus pergaulan bebas sekarang?
“Nggak, sih. Cuman kalian asem banget, deh! Kenapa kalian bertiga membatalkan janji waktu itu dan bikin gue datang sendirian ke klub malam waktu reuni SMA kita berlangsung,” cetus Frans kesal.
Gara-gara sahabatnya, ia jadi tak sengaja meniduri seorang wanita.
“Sorry, gue mendadak ada urusan keluarga,” ujar Reno tak enak hati sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Frans.
Frans mengerucut masam sambil menatap kesal dua sahabat di depannya.
“Masa kalian bertiga mendadak ada urusan keluarga semua?” sembur Frans sebal.
Firza cengengesan sambil menepuk pelan bahu Frans lalu menjelaskan alasannya tak bisa hadir malam itu.
“Ya, mau gimana lagi, Frans. Semuanya enggak bisa diprediksi. Tiba-tiba saja mama gue mendadak sakit. Otomatis gue terpaksa membatalkan janji gue,” terang Firza.
“Terus si Reza?” tanya Frans lagi.
“Dia bilang mamanya tiba-tiba nelpon dan udah ada di parkiran apartemennya, jadi nggak memungkinkan bagi dia untuk nyusul lo ke klub malam karena mamanya jauh-jauh datang dari luar kota untuk menemui Reza. Nah, sekarang lo tahu alasan kita semua ‘kan? Sorry, ya!”
“Dasar! Alasannya tepat semua lagi,” omel Frans kesal. "Gara-gara kalian aku kehilangan keperjakaanku. Gara-gara kalian aku menghilangkan keperawanan seseorang wanita, tahu nggak?" sambung Frans dalam hati sambil bersungut-sungut.
Namun, semua itu hanya bisa Frans pendam dalam hati. Sampai kapan pun dia tidak akan mungkin memberitahukan soal ini pada siapa pun. Ia yang selama ini selalu menjunjung tinggi soal kesetiaan, tidak akan mungkin memberitahukan permasalahan yang terjadi padanya.
Lamunan Frans buyar saat dua temannya mulai berisik membicarakan dokter wanita yang sedang melangkah ke arah mereka.
“Eh, itu dia datang! Wah, dari perawakannya saja terlihat begitu cantik, ya! Nggak sabar rasanya pengen segera kenalan dengannya,” seru Firza antusias.
Reno menyenggol bahu Firza, mengingatkannya untuk bersaing secara adil mengejar dokter cantik ini.
“Ingat, kita bertiga harus benar-benar fair bersaing kalau kita tertarik pada wanita ini. Jangan ada yang menyalip dan jangan ada yang curang! Biarkan dia memilih di antara kita. Itu pun kalau kita naksir sama wanita itu. Lebih baik gue ngomong gini karena kita sudah berteman sejak lama. Gue nggak mau kita ribut soal wanita,” tegas Reno diamini oleh Firza.
Sementara Frans tersenyum geli sambil geleng kepala melihat sahabatnya yang sebentar lagi akan berebut seorang wanita.
Tak lama kemudian dokter Reynaldi datang memperkenalkan seorang wanita cantik yang membuat mereka semua terpana, termasuk Frans yang menganga lebar saat melihat wajah dokter wanita yang akan bekerja di sini mulai hari ini.
“Dokter Liora, perkenalkan ini dokter Frans, ini dokter Firza dan ini dokter Reno! Masih ada satu orang dokter lagi yang akan jadi rekan kamu, namanya dokter Reza. Dia masih dinas di luar kota. Hari Senin depan dia akan kembali ke sini.”
Liora tersenyum lembut pada dr. Reynaldi lalu menunduk hormat pada tiga seniornya, kemudian menyapa mereka dengan ramah.
“Selamat pagi, Kak. Saya dokter Liora Florensia yang akan menjadi rekan para Kakak sekalian. Mohon bimbingannya!”
Dan ketika Liora mengangkat wajahnya, betapa terkejutnya dirinya karena melihat laki-laki yang ingin ia lupakan. Laki-laki yang membuatnya tidak virgin lagi.
"Astaga! Kenapa dia ada di sini?" rutuk Liora dalam hati.
Sementara Frans membeku, belum bisa berkata-kata. Kenapa wanita ini kemari? Apa dia sengaja mengikutinya kemari? Apa dia ingin menghancurkan imagenya di RS ini? Apa dia ingin mengacaukan hubungannya dengan Sella, kekasihnya?
“Kalian berdua saling mengenal?” tanya Reynaldi, Reno dan Firza serempak, sontak merasa bingung dengan reaksi keduanya.
Frans tersentak. Buru-buru ia menetralkan wajahnya dan tersenyum.
“Saya nggak kenal dia secara dekat, tapi saya tahu siapa dia. Dia adik tingkat di SMA dulu, Dok,” jelas Frans berkilah untuk menutupi kegundahannya.
Liora membantu menetralisir keadaan agar pemilik RS dan rekan barunya percaya.
“Yang dikatakan dr. Frans benar, Dok. Makanya saya agak sedikit kaget tadi.”
Reno dan Firza seketika semringah.
“Apa benar kamu sekolah di SMA Persada?” seru mereka kompak.
Liora tersenyum manis lalu mengangguk pelan.
“Wah, kebetulan sekali, ya!” seru Reynaldi. “Kalau gitu kalian nggak akan susah lagi untuk bergaul di sini. Oke, kalau begitu selamat bergabung, Dokter Liora. Jika kamu tidak mengetahui ataupun ragu menghadapi pasien-pasien kamu, konsultasilah dengan ketiga kakak senior kamu ini, ya!”
“Siap, Dokter!” sahut Liora cepat.
Reynaldi tersenyum. “Kalau gitu saya tinggal dulu.”
Liora membalas senyum Reynaldi lalu menunduk hormat.
“Makasih banyak, Dok.”
Frans menatap lamat-lamat wajah cantik bertabur senyum yang ada di depannya saat ini, benar-benar tidak percaya dengan takdir yang sedang ia alami sekarang. Kenapa ia bisa ketemu lagi dengan wanita ini? Apa dia sengaja ingin membuatnya hancur? Apa dia ingin minta tanggung jawab darinya?
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera bicara empat mata dengannya," batin Frans panik.
Ia lalu menatap Liora dan dengan raut dan suara dinginnya ia menyapa wanita yang sudah bermalam dengannya tersebut.
“Dokter Liora, bisa ikut denganku sebentar?”
Reno dan Firza buru-buru protes pada Frans.
“Eh, kok, lo kayak gitu? Nggak bisa kayak gitu, dong! Kita berdua mau kenalan juga,” protes Reno sebal.
Frans menatap kedua sahabatnya lalu menerangkan tujuannya bicara pada Liora.
“Bentar aja, kok! Ada hal yang harus gue sampaikan padanya terkait jadwalnya. Nggak usah protes dan bantah lagi. Paling 10 menit.”
“Yaah, lo nggak asyik, Frans. Inget, ya, lo udah punya Sella! Jangan macam-macam sama dokter Liora!” seru Firza mengingatkan.
“Iya, iya, berisik! Sana urus pasien kalian! Gue perlu briefing dokter baru ini sebentar,” usir Frans cepat lalu kembali menatap dingin Liora.
“Dan kamu, ikut aku ke rooftop sekarang juga, tidak ada bantahan!”
Bersambung ...