Kegundahan Frans

1020 Kata
“Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengannya lagi,” gumam Frans pelan sambil menatap pemandangan gedung-gedung dari atas rooftop RS Internasional pagi hari itu. Frans baru saja membantu menurunkan seorang pasien elit yang akan melahirkan mendadak dari sebuah helikopter di rooftop rumah sakit. Persalinan pasien VVIP itu pun berakhir manis di mana tak ada drama yang terjadi. Persalinannya lancar. Ibu dan bayinya pun selamat. Frans ingin menghirup udara segar pasca membantu persalinan tadi dan tiba-tiba terbayang malam panasnya dengan wanita asing yang bayangannya selalu hadir saat dirinya sedang senggang. Terus terang saja, satu minggu ini Frans dirundung rasa bersalah. Biar bagaimanapun juga dirinya sudah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. “Kenapa aku sampai datang ke klub sialan itu, sih?” sesal Frans. Kesalahan terbesarnya adalah datang ke klub malam untuk menghadiri pesta reuni SMA-nya tanpa teman sedikit pun. Itu karena teman-temannya yaitu dokter Reno, Firza serta Reza yang merupakan teman satu SMA-nya berjanji akan datang bersamanya malam itu. Namun nyatanya, mereka semua membatalkan janji, sedangkan dirinya sudah berada di parkiran klub dan mau tidak mau harus masuk. Apalagi saat itu dirinya sudah ditarik paksa oleh salah satu teman SMA-nya, membuatnya tidak bisa menolak. Bahkan saking bodohnya, dirinya sampai terpaksa menyesap minuman yang tidak seharusnya ia konsumsi dan ujungnya membuatnya tidak sadarkan diri. “Kenapa pula aku minum sesuatu di sana malam itu?” rutuknya menyesali kebodohannya. Semua rasa bersalah itu menumpuk di dalam hatinya karena wanita yang bermalam dengannya itu adalah wanita baik-baik. Ia melihat darah keperawanannya menetes di atas seprei putih yang ada di klub tersebut. Dirinya samar-samar mengingat semua itu, sampai-sampai dia bisa merasakan begitu nikmatnya menyentuh wanita untuk pertama kalinya. Frans sudah menjaga dirinya dengan baik selama ini. Dirinya hanya berkutat dengan pendidikannya hingga menamatkan sekolah kedokterannya sampai mengambil spesialis kandungan dan tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun hingga ia bertemu seorang perawat di RS ini lalu menjalin hubungan dengannya kurang lebih 1 tahun. “Sella, semoga saja kamu memaafkan kekhilafanku,” lirih Frans merasa bersalah kala teringat kekasihnya. Frans takut ini diketahui oleh kekasihnya karena dirinya benar-benar serius menjalani hubungan dengannya. Frans bahkan berkeinginan menikah dengan Sella, meskipun ia belum mengutarakan niatnya padanya. Namun, kejadian ini benar-benar membuatnya ragu. Apakah dia harus meneruskan niatnya untuk menikahi Sella dan menganggap malam itu tak pernah terjadi? Ataukah ia harus jujur pada kekasihnya? Namun, Frans merasa terbebani oleh kejadian itu dan jujur, setelah kejadian itu terjadi, rasa cinta yang ia rasakan pada Sella sedikit demi sedikit memudar tergerus rasa bersalahnya pada wanita yang sudah kehilangan keperawanan karena dirinya. "Semoga saja aku tidak pernah bertemu dengannya lagi," lirih Frans. Harapannya, ia tidak bertemu lagi dengan wanita itu selamanya. Frans juga tidak akan mungkin bisa bertanggung jawab andai bertemu lagi dengannya karena ia tidak memiliki perasaan padanya. Yang Frans heran kenapa ia jadi merasa tidak nyaman dan dihantui rasa bersalah terus-menerus seperti ini? “Aku tidak boleh jadi begini. Harusnya aku terus memupuk cintaku pada Sella karena dia sudah mendampingiku selama setahun ini.” Frans mengusir pikirannya tentang malam itu lalu mulai melangkah ke arah lift, ingin kembali ke ruangannya. Jadwal operasinya masih cukup lama, yaitu kurang lebih 1 jam lagi. “Frans ...” panggil Reno, buru-buru menyeret sahabatnya ke ruangan mereka sesaat Frans keluar dari lift. “Apaan, sih? Kok, pakai acara seret-menyeret segala?” tanya Frans cepat. “Apa lo tahu kita bakal kedatangan seorang dokter wanita?” seru dokter Reno antusias. “Yang bener?” Frans balik bertanya. “Iya. Sejak awal kita masuk ke rumah sakit, kita selalu berkutat dengan pasien wanita, tapi tidak pernah menemukan dokter kandungan wanita, kan?” sambung Reno lagi. Frans mengangguk. Dokter Firza yang ada di sana, ikut menimpali ucapan Reno. “Iya, Frans. Kita tahu persis bahwa dokter kandungan rata-rata laki-laki ‘kan? Dan kini kita akan kedatangan satu orang untuk dokter kandungan wanita yang kabarnya cantik jelita,” sambung Firza ceria. “Dari mana kalian tahu soal ini?” tanya Frans ingin tahu. “Dari dr. Reynaldi, owner RS ini. Beliau yang memberitahu bahwa dokter wanita itu sudah lolos seleksi dan juga lolos karena rekomendasi salah seorang dokter yang dikenal oleh dokter Reynaldi.” Reno menyampaikan.” “Baguslah! Bagi kalian yang jomblo, memang cocok kalau memiliki rekan seorang dokter wanita. Paling nggak kalian nggak sumpek-sumpek amat. Kalau gue nggak terlalu pusing mikirin mau ada dokter wanita atau nggaknya,” seru Frans santai. “Iya, iya, beda banget kalo udah punya pacar, ya!” cibir Firza iri. “Iya, nih! Rada sombong dia,” timpal Reno. Frans tertawa geli. “Bilang aja kalian iri.” “Hiiii, amit-amit! Gue belum mau serius. Gue masih tahap seleksi. Nggak kayak lo yang baru jalan setahun, kayak udah mau nikah aja,” ledek Reno. Firza menatap serius sahabatnya lalu menyuarakan rasa penasarannya. “Lo serius udah yakin membina hubungan lebih jauh sama Sella?” Frans tersenyum bangga. “Yakin, dong! Dia sudah 1 tahun menemani gue, bawain camilan buat gue, memperhatikan makan siang gue dan terus berada di sisi gue, serta bikin gue merasa nyaman. Dia benar-benar pengertian, mana cantik lagi. Apalagi kurangnya dia coba?” “Lo nggak kepikiran buat cari pasangan sesama dokter gitu?” tanya Reno ingin tahu. “Lho, emang jodohnya dokter harus sesama dokter apa? Meski Sella perawat, gue udah klik sama dia.” Frans berusaha memupuk rasa cintanya kembali pada Sella dengan terus memuji-muji kekasihnya tersebut di depan para sahabatnya. Firza dan Reno saling melirik lalu serempak menatap Frans. “Bagus, deh, kalo gitu! Lo mengurangi jatah saingan kita. Kalau dia cantik, kami berdua mau saingan mengejarnya,” seru Firza semangat. “Eh, kita bersaing bertiga, Firza! Jangan lupain sohib kita dr. Reza yang lagi dinas di perbatasan, dong!” ujar Reno mengingatkan. Firza menepuk keningnya pelan sambil tertawa. “Oh, iya, gue lupa sama Reza.” Frans geleng kepala melihat wajah-wajah sumringah sahabatnya yang akan berebut mencari perhatian dokter baru yang sebentar lagi akan datang ke tengah-tengah mereka. “Selamat berebut aja, ya! Kalau gue sudah sold out. Gue nggak peduli mau dia cantik, mau blasteran kayak gue, mau ala-ala artis Korea karena gue sudah punya satu yang akan gue jaga sampai halal nanti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN