Challista telah dipindahkan dari UGD ke ruang kamar inap bernomor tujuh. Tepat di sebelah Amera yang masih terbaring. Amera sudah sadar, tapi Dokter Rama memaksanya untuk tetap berbaring sampai dia diperbolehkan jalan-jalan untuk mencari udara segar. Ethan duduk di kursi sebelah ranjang. Menatap kosong pada pemandangan yang menyedihkan di depan matanya. Challista yang terbaring dan belum membuka mata jauh lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah Ethan temui. Ketika iris segelap malam itu menatap sebekas goresan dalam yang berubah agak samar karena menyaru dengan warna kulit di pergelangan tangan Challista. Ethan meraihnya dalam diam. Menatap lekat bekas itu dan seketika napasnya tersekat. Kedua matanya yang hampa berubah nanar, lalu lirih dan kemudian hancur tak bersisa. "Seharusnya

