"Kau bersama Challista." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Seumpama Ethan benar-benar berpura-pura tuli sekarang, maka dia akan mengalihkan pertanyaan lain untuk Amera yang kini berbaring. Menatap kosong pada jendela yang buram. "Aku bersamanya," balas Ethan datar. Tidak ada emosi yang terpias di wajah kakunya. Matanya nyalang menatap Amera, menilai ekspresi gadis itu yang serupa dengan buku terbuka. Amera dalam mode kalut dan menyedihkan sangat mudah tertebak. "Aku bersamanya sejak dia dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan." "Dokter Rama bilang, Challista mengalami kecelakaan tunggal. Apa itu artinya percobaan bunuh diri?" Amera mendengus tajam. "Menyedihkan sekali kalau dia mencoba melenyapkan nyawanya sendiri ketika hidupnya bahagia dan baik-baik saja." Ethan mengangk

