"Kau tidak mencoba menghubungi Amera?" Ethan mendongak. Menatap Challista yang berdiri di ambang pintu kamarnya, menatapnya datar. Dan saat gadis itu berjalan, bertelanjang kaki, Challista duduk di samping ranjang. Menatap berkas-berkas kelengkapan untuk Ethan melamar kerja. "Apa kemampuan bahasamu bagus? Kalau bagus, kau akan mudah cepat diterima." Ethan mengangguk. "Aku yakin dengan kemampuanku." Challista mendengus, tapi tak ayal senyum di wajahnya terpias lembut. Giok teduhnya menerawang ke langit-langit kamar. "Aku percaya padamu," ujarnya lembut. "Hanya kau satu-satunya yang bisa menyaingi posisi pertamaku di sekolah dulu. Tidak Ten, tidak Agnia. Hanya dirimu." Ethan terdiam. Menatap dokumen yang sedang ia pangku, kemudian melirik Challista yang tengah menatapnya. Memiringkan ke

