"Willy!" Willy mengepalkan tangan. Rasa sakit akibat tamparan ayahnya tidak berarti apa-apa dibanding melihat ibunya yang sekarang terbaring. Nyaris tertidur untuk selamanya karena kesehatannya yang memburuk, diperparah karena kelakuan dirinya yang tidak pernah berujung benar. Kedua mata Willy berpendar pilu. Memandang Hatari, ibu yang ia kasihi terbaring lemah. Ibunya menolak untuk pergi ke rumah sakit. Banyak alasan yang membuatnya memilih untuk rawat jalan. Uang jelas bukan masalah bagi keluarganya. Terlebih Willy bukan berasal dari keluarga miskin sejak ia dilahirkan. Tetapi, kali ini kebersamaan dan keinginan ibunya yang kuat untuk menatap putranya-lah yang membuat Willy meratapi rasa bersalahnya sendiri. "Sudah, suamiku. Sudah." Willy menggeleng lemah. Dia tidak sanggup menatap

