Kellan Agnia menarik napas. Menatap pantulan dirinya pada kaca sebuah restauran yang tidak terlalu ramai dalam diam. Saat dia mengecek mobilnya sekali lagi, dan mendorong pintu kaca itu untuk masuk ke dalam. Matanya tertaut pada sosok yang duduk. Terlihat rapuh dan tak berdaya. Bersandar di dekat jendela yang agak besar, yang menghadap langsung ke pekarangan kecil beraneka bunga hias yang cantik. "Selamat datang. Apa sudah punya janji temu sebelumnya?" Agnia memalingkan muka. Mengangguk dengan senyum tipis. "Itu, meja nomor delapan. Aku menemui temanku." Pelayan berdasi itu segera mengangguk. Mengantarkan Agnia sampai ke meja nomor delapan. Saat Agnia mengangguk, dan saat pelayan pergi. Atau saat kepala Kanar Nakaya menoleh, menatapnya dengan sorot hampa. "Maaf menunggu lama. Aku puny

