Eight

2023 Kata
Setelah memastikan kebenaran tentang status sang gadis di dalam perusahaannya yang mana memanglah dia itu merupakan salah seorang karyawati di bagian divisi pemasaran, maka kini Dhafin pun mulai mengerti kenapa gadis bernama lengkap Hansa Kumara itu sempat menyinggung soal dirinya yang adalah seorang karyawati di perusahaan milik si pria. Rupanya memang benar, gadis itu sudah cukup lama bekerja di perusahaannya semenjak ia diterima melalui seleksi pencarian karyawan baru yang diadakan oleh bagian HRD di perusahaannya. Dan tentu, Dhafin pun mendapat informasi mengenai Hansa dari HRD terpercaya yang untungnya bersedia mengangkat telepon dari Dhafin meskipun di tengah malam seperti ini. Membuat Dhafin merasa salut karena rupanya HRD nya itu rela terbangun di malam hari hanya untuk menjawab telepon dari atasannya. Dan ya, Dhafin memang sempat menggeledah seisi tas selempang milik sang gadis yang pada saat itu masih dikendalikan penuh oleh pengaruh alkohol yang dikonsumsinya, di dalam tas tersebut Dhafin menemukan sebuah dompet bermotif floral dan pria itu pun mencoba membukanya hanya untuk mencari sebuah kartu identitas guna mencari tahu nama sang gadis yang tengah mabuk tersebut. Sampai ketika Dhafin sudah berhasil menemukan sebuah kartu di dalam dompet gadis itu, ia pun akhirnya tahu bahwa gadis itu bernama Hansa meski alamat yang tertera di kartu identitasnya itu bukanlah di ibu kota ini. Dhafin duga, pasti gadis ini merupakan seorang perantau dari luar kota. Mengingat alamat di kartu identitasnya saja tertulis kota lain, maka pantas saja jika gadis ini sempat berkata bahwa dirinya hidup sendirian di kota ini dan tidak tinggal bersama ayahnya. Lantas, seusai Dhafin mengetahui fakta bahwa sang gadis adalah salah satu karyawatinya di kantor pusat, maka mendadak ia merasa semakin bertanggung jawab atas keselamatan karyawatinya tersebut. Walau Dhafin tidak tahu harus membawa sang gadis pulang ke mana--mengingat ia masih belum mengetahui alamat tempat tinggalnya selama merantau di ibu kota--maka pada akhirnya Dhafin pun memutuskan untuk membawa gadis itu ke apartemen pribadinya saja. Tidak peduli jika sang gadis nanti akan marah ketika sadar dari pengaruh alkoholnya karena tahu bahwa ia dibawa oleh Dhafin ke apartemennya, yang penting malam ini, Dhafin tidak mungkin membiarkan Hansa terlunta-lunta di dalam kelab malam dengan keadaan yang tak memungkinkan untuk ditinggal seorang diri. Lagipula, kenapa juga gadis ini harus datang ke kelab malam di saat dirinya yang sedang mengalami patah hati jika didengar dari perkataannya tadi sewaktu Dhafin menanyainya soal alamat. Dan ya, Dhafin pun sempat mendengar dari keterangan William bahwa sang gadis datang ke kelab malam itu bersama dengan bos Ervan dan juga kekasihnya. Itu artinya, Dhafin menduga bahwa gadis ini adalah teman dari salah satunya yang William sebutkan. Jika bukan teman dari Ervan yang Dhafin tahu adalah anak lelaki dari Haris Dinata pemilik kelab malam tersebut, maka bisa jadi sang gadis merupakan teman dari kekasih Ervan yang mungkin saja sudah mengajak gadis ini untuk bersenang-senang di kelab malam mengingat ia yang tengah dilanda kesedihan pasca hatinya dilukai. Ya, setidaknya untuk sementara ini, Dhafin hanya bisa mencetuskan sebuah prasangka semacam itu. Membuat Dhafin semakin yakin bahwa ia harus membawa sang gadis ke tempat yang aman selagi dia masih berada dalam kondisi mabuk sehabis menenggak cairan alkohol tanpa sempat bertanya-tanya dulu kepada yang lebih tahu. Maka di sinilah mereka sekarang, di dalam mobil McLaren 720S milik Dhafin yang baru saja tiba di basemen parkiran gedung apartemen mewah yang salah satu unitnya merupakan milik Dhafin pribadi. Untuk sesaat setelah mematikan mesin mobilnya, Dhafin pun mengembuskan napasnya pelan seiring dengan ia yang melirik ke arah sisi kirinya di mana ada Hansa yang sepertinya tengah tertidur di sepanjang perjalanan tadi. Dan kemudian, Dhafin pun menatap wajah natural sang gadis yang jika diperhatikan, sepertinya gadis ini jarang sekali mengenakan riasan yang berlebihan. Terlihat dari tekstur wajah aslinya yang malam ini sama sekali tidak dipoles make up apapun. "Baru kali ini rasanya aku menemukan jenis perempuan yang tidak mendempul wajahnya dengan riasan make up. Apa gadis ini sengaja membiarkan wajahnya terlihat natural? Atau, mungkin dia lupa tak memoleskan make up ke wajahnya mengingat ia sedang mengalami putus cinta? Ah entahlah, sebaiknya aku segera bawa dia ke unitku saja sebelum dia kembali terbangun dan membuat kekacauan lagi sebelum berhasil kubawa ke dalam unitku. Kuharap, dia akan terus tidur sampai besok pagi tiba. Dengan begitu, aku tidak perlu berbuat apa-apa selama dia tidur setelah meminum minuman alkohol yang seharusnya tidak perlu ia tenggak!" gumam sang pria mendesah kasar. Pertama-tama, Dhafin pun menyampirkan tas selempang sang gadis ke sebelah bahunya dengan terpaksa. Kemudian setelah itu, ia pun bergegas menuruni mobil dan berjalan dengan cepat memutari muka mobilnya. Sesampainya di luar pintu penumpang satunya lagi, Dhafin pun lekas membuka pintu tersebut dan mulai membungkukkan posisi badannya agar bisa meraih tubuh sang gadis yang masih anteng tertidur. Namun di tengah Dhafin yang sedang berusaha melepas sabuk pengaman di tubuh sang gadis, tahu-tahu gadis itu pun merengek dan perlahan-lahan ia pun membuka matanya diiringi dengan gerakan secepat kilat dari kedua tangannya yang tiba-tiba melingkari tubuh sang pria. Bersamaan dengan sabuk pengamannya yang berhasil dilepas, Dhafin pun sempat membeku ketika gadis itu menempelkan bagian wajahnya ke cerukan leher Dhafin yang membuatnya sedikit agak meremang. Lalu seakan tidak ingin terjadi sebuah tragedi yang membangkitkan sesuatu di dalam diri Dhafin yang sudah cukup lama tak tersentuh dari terakhir kali ia melakukannya bersama dengan seseorang dari masa lalunya, maka buru-buru Dhafin pun menjauhkan wajah sang gadis dari cerukan lehernya sekaligus dengan cepat membopong tubuh gadis itu guna ia bawa menuju lift khusus yang tersedia di basemen parkiran gedung apartemennya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mobil mewahnya, Dhafin pun sigap melenggang menuju ke arah lift sembari menggendong tubuh sang gadis yang untungnya kembali tertidur dengan posisi kepalanya yang bersandar ke d**a bidang sang pria. Dan untungnya saja, Dhafin pun sudah sempat memakaikan sweater gadis itu demi menutupi bagian atas tubuhnya yang hanya mengenakan tank top putih saja. Meski harus dengan susah payah, tapi akhirnya sweater itu berhasil juga Dhafin pasangkan di tubuh sang gadis. Lalu kini, pria itu pun sudah memasuki lift dan berharap kalau ia bisa segera tiba di unit apartemennya di tengah rasa kaku yang sudah menggandrungi bagian leher belakangnya. *** Dhafin membaringkan tubuh sang gadis ke atas kasur empuk berseprai putih berbahan satin dengan hati-hati. Ia tidak mau jika gadis itu harus terbangun andai kata Dhafin membaringkannya secara kasar dan terkesan buru-buru. Untuk itu, sebisa mungkin Dhafin membuat tubuh gadis itu berada dalam kenyamanan agar dia bisa terus tertidur hingga pagi menjelang. Dan berhasil! Setelah tubuh sang gadis ia lepas dari gendongannya, Dhafin lihat mata gadis itu pun masih terpejam rapat meski sebelumnya sempat terusik yang tentu saja membuat Dhafin agak dagdigdug. Tapi untung saja dia tidak bangun, maka dengan sigap, Dhafin pun mengembuskan napasnya lega hingga ia bersiap-siap untuk melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut. Akan tetapi, sebelum sempat Dhafin benar-benar menggerakkan kedua kakinya dari posisi terakhir ia berdiri, tiba-tiba salah satu tangannya ditangkap oleh tangan kecil yang seketika membuat Dhafin menoleh cepat ke arah tempat tidur. Dilihatnya, gadis itu tampak membuka matanya dan menatap ke arahnya dengan sorot sayu. Selain itu, ia pun sedikit meremas tangan Dhafin yang sesaat tadi dia tangkap hingga membuat Dhafin tak jadi melangkah. Lalu di detik berikutnya, gadis itu pun mulai merengek, "Jangan pergi...." Mendengar rengekan bercampur dengan nada memohon, Dhafin pun seketika balas menatap gadis itu diiringi dengan jakunnya yang bergerak naik turun. "Plis, Satya... Jangan tinggalin aku lagi hanya demi wanita berbuah d4da besar itu!" seru sang gadis lagi. Kali ini diikuti dengan tatapan melasnya. Dan sontak membuat Dhafin membelalak tak percaya karena sepertinya, gadis ini mulai mengigau dalam keadaan mabuk yang kian memarah. "Aku tau kenapa kamu memilih buat tidur sama wanita itu. Karena tubuhku gak semenarik tubuh wanita itu, kan? Terus kamu lebih suka sama d4da wanita s1alan itu kan, Sat? Emangnya kenapa sama buah d4daku ini? Apa segini kurang gede? Kamu mau aku suntik silikon biar gede juga kayak wanita itu, hah?" lontar Hansa mulai dibalut emosi. Sementara itu, Dhafin masih memilih untuk diam saja selagi gadis di hadapannya terus meracau. Hansa melepaskan genggaman tangannya di tangan Dhafin, kemudian ia pun menarik diri dari posisi berbaringnya. "S1alan! Sejak kapan aku pake sweater ini lagi," gumamnya mendecak. Lalu dengan cepat, Hansa pun menanggalkan sweaternya lagi yang kemudian ia lempar secara asal. Melihat itu, Dhafin pun memelotot. "Kenapa kau lepas?" tanya pria itu sedikit membentak. Menoleh ke arah sang pria, Hansa pun mendesis kesal, "Tentu saja karena gerah. Lagipula, aku juga ingin menunjukkan buah d4daku kepadamu. Aku mau tau, besaran mana buah d4daku dengan wanita yang kau c*mbu di apartemenmu waktu itu. Sepertinya, kau bahkan belum melihat ya kalo aku--" "Berhenti, Nona!" seru Dhafin mencegah. Gadis itu baru saja akan melepaskan tank top-nya juga, maka itulah sebabnya Dhafin berteriak untuk menghentikan pergerakan dari gadis itu. "Kenapa? Apa kamu gak mau melihat ukuran payud4raku? Tapi, kenapa kamu terlihat begitu bersemangat saat menc*mbu buah d4da wanita itu, Satya? Kenapa tidak denganku saja!" ujar Hansa mulai tersulut emosi. Dad4nya terlihat naik turun di tengah amarahnya yang sudah mencuat. Dhafin mengusap wajahnya kasar. Kemudian, dia pun memungut kembali sweater yang sempat gadis itu lempar ke atas lantai tak jauh dari letak tempat tidurnya. Setelah meraih sweater itu, Dhafin pun menyodorkannya lagi ke arah Hansa. "Pakailah kembali sweater ini, Nona! Atau kau hanya akan membuatku menjadi lepas kendali saja apalagi dengan kenekatanmu barusan. Dan coba dengarkan aku! Aku bukanlah pemilik nama yang sudah kau sebut dalam kata-katamu tadi. Namaku Dhafin, dan aku adalah atasanmu ketika di kantor. Tapi malam ini, aku sengaja membawamu kemari karena aku tidak tau alamat tempat tinggalmu. Jadi berhentilah menyebutku Satya, karena aku bukan Satya yang kau kira!" tutur Dhafin mencoba menyadarkan sang gadis. Namun tanpa disangka, Hansa justru malah tertawa membahana hingga membuat Dhafin harus sedikit berjengit kaget di kala mendapati sang gadis yang tengah tergelak sesuka hati alih-alih mendengarkan penuturannya barusan. Hansa mulai beranjak. Mula-mula ia mengambil sweater miliknya yang sedang dipegang oleh Dhafin, tapi kemudian, sweater itu malah Hansa lempar jauh dengan sembarang. Lalu setelahnya, Hansa pun kembali beringsut bahkan menuruni tempat tidur dan mendekatkan dirinya ke arah sang pria. Kemudian tanpa diduga, Hansa pun mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Dhafin. Membuat pria itu kembali membelalak apalagi di saat Hansa mulai menelusurkan jemari lentiknya ke arah wajah Dhafin sembari berkata, "Kamu jangan begitu, Satya. Aku tau, kok... Selama ini kamu mencoba untuk menahan diri buat gak nyentuh aku kan? Tapi kenapa, Satya? Di saat aku berpikir kalo kamu gak nyentuh aku karena memang kamu adalah lelaki baik-baik yang ingin menjaga kesucianku sampai kita menikah nanti, tapi kemudian aku sadar bahwa kamu gak nyentuh aku karena kamu gak tertarik kan sama tubuh aku yang kerempeng ini? Sungguh aku sedih banget kalo kamu memang mempunyai pemikiran kayak gitu. Tiga tahun kita menjalani hubungan ini, tapi bahkan kamu belum pernah menciumku sama sekali tepat di bibir. Hanya pipi dan kening saja yang kamu kecup di setiap ada kesempatan. Membuatku berpikir bahwa sepertinya aku benar-benar tidak menarik di mata kamu. Kenapa, Satya? Kenapa kamu memperlakukanku setidak adil itu. Kamu berc*mbu dengan wanita lain, tapi menjalin hubungan asmara bersama denganku. Apakah itu yang kamu bilang mencintaiku setulus hati? Kamu jahat, Satya. Kamu jahat!" urai Hansa terisak pilu. Lalu merebahkan sisi kepalanya di d4da bidang sang pria yang masih saja ia kira bahwa pria ini adalah Satya. Sementara itu, kini Dhafin pun tau bahwa ternyata Hansa sedang mengalami sebuah ketidak adilan yang diciptakan oleh kekasihnya yang bernama Satya. Tiga tahun? Tanpa menyentuh dan disentuh? Oh yang benar saja! Dhafin merasa miris mendengarnya. Dia tidak menyangka bahwa ternyata ada saja pria licik semacam Satya. Seolah-olah dia ingin menjadikan kekasihnya tetap suci tapi di belakang kekasihnya justru dia main-main bersama wanita lain. Sungguh sangat mencengangkan. Membuat Dhafin mendadak iba terhadap kisah cinta tragis yang tengah dialami sang gadis. Sampai ketika Hansa yang sudah selesai dengan isak tangisnya, gadis itu pun kini menjauhkan sisi kepalanya dari dad4 sang pria. Mendongak dan melayangkan tatapan penuh minatnya, Hansa lantas berkata, "Tidurlah denganku malam ini, Satya. Atau aku hanya akan terus merasa bahwa aku bukanlah gadis yang menarik hingga kamu lebih memilih tidur dengan wanita berbuah d4da besar itu saja dibanding aku yang sudah tiga tahun ini mendampingimu," cetus Hansa mengutarakan keinginannya. Membuat Dhafin sontak memelotot horor di tengah rahangnya yang mulai mengeras seakan ia sedang bersiap-siap untuk meluapkan kekesalannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN