Seven

2158 Kata
Dhafin terlihat sedang menikmati segelas wine yang ia pesan dari bartender bernama William ketika ponsel di dalam saku celananya bergetar-getar pertanda ada panggilan masuk. Secepat kilat, ia lantas merogohnya demi memeriksa siapa gerangan yang sedang berusaha meneleponnya. Lalu setelah ia sudah berhasil mengeluarkan ponselnya dari saku, barulah ia bisa melihat bahwa ternyata Shadana lah yang sedang mencoba menghubunginya. Untuk sesaat, Dhafin pun mendesah kasar. Padahal sedari tadi ia berusaha menelepon asisten merangkat teman akrabnya itu, tapi entah kenapa, tidak ada jawaban secuil pun dari Shadana meski sudah berkali-kali Dhafin menghubunginya. Namun sekarang, justru Shadana sendiri lah yang tengah menghubunginya balik. Kontan, Dhafin pun segera menjawab panggilan masuk tersebut setelah menekan tombol hijau yang tersedia di layar ponselnya. Bersamaan dengan itu, ia pun menempelkan benda tersebut ke telinganya sembari berseru, "Ya, halo!" "Ah, Bos! Sori... Sori banget. Gak tau kenapa mendadak perut gue melilit. Kayaknya tadi sore gue sempat salah makan. Ini pun gue abis beberapa kali bolak-balik dari WC. Gue gak bisa nemuin lo deh malam ini. But, gue janji! Besok pagi gue bakal nemuin lo di tempat biasa. Tiap minggu pagi lo suka ngegym di tempat fitnes yang biasa itu kan?" "Hem." "Ya udah, besok gue ke sana. Tapi sekarang, gue beneran gak bisa. Lo gak masalah kan kalo malam ini gue batalin janji temunya," ujar Shadana terdengar sedikit gusar. Namun mengingat Dhafin sudah telanjur malas juga membahas perihal urusan kerjanya dengan Shadana di tengah ia yang sudah keburu menikmati waktu santainya bersama segelas wine yang menemani, maka tentu Dhafin pun tidak mempermasalahkan jikapun Shadana tak bisa menemuinya di malam ini. Lagipula, masih ada waktu satu hari lagi sebelum senin tiba dan segala urusan kantor akan kembali digelutinya. Untuk itu, tanpa berniat menolak pembatalan janji yang Shadana buat, Dhafin pun lantas menyepakati perkataan Shadana yang katanya besok akan menemuinya langsung di tempat fitnes yang biasa Dhafin gunakan untuk membentuk otot-otot tubuhnya. "Its okey! Gue tunggu lo besok sesuai janji lo malam ini." "Siap, Bos! Thanks before. Kalo gitu, gue tutup dulu ya teleponnya!" tukas Shadana menyudahi percakapannya. Sementara Dhafin, dia hanya mengangkat bahunya tak acuh sembari meletakkan ponselnya tersebut di atas meja bar dan meminta William untuk menuangkan kembali cairan keunguan dari dalam botol yang masih tersedia ke dalam gelas miliknya. "Thanks, Willy!" cetus Dhafin sembari mengangkat gelas minumnya. Lalu perlahan, ia pun menyesap cairan beralkohol itu secara berkala. PRANG. Mendadak, kepala Dhafin menoleh cepat ke arah di mana ia mendapati bunyi pecahan botol yang cukup mengejutkan. Meskipun musik DJ masih menguar di seluruh ruangan kelab ini, tapi bahkan telinga Dhafin masih bisa mendengar bebunyian lainnya yang seketika membuat pandangannya mengedar ke segala arah. Tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini, Dhafin lantas menangkap sebuah pemandangan yang mencengangkan. Dilihatnya, seorang perempuan yang tampak dari belakangnya saja sedang melenggang-lenggokkan tubuhnya sesuai irama. Pertama-tama, Dhafin hanya mengernyitkan dahinya saja. Merasa janggal dengan tarian asal yang perempuan itu lakukan di luar areal dance floor. Ya, padahal jika ia memang ingin menari-nari mengikuti musik yang dimainkan, maka dia bisa langsung bergabung dengan sejumlah manusia yang semakin menggila di lantai menari sana. Tapi justru entah kenapa, Dhafin malah menyaksikan tubuh molek perempuan itu bergerak ke sana kemari di depan meja bartender yang otomatis membuat setiap lelaki yang melihatnya tampak b3rgairah jika sepengamatan Dhafin. Sampai ketika perempuan itu memutar tubuhnya secara sembarang dan sempat menunjukkan wajahnya juga ke arah di mana Dhafin berada, barulah ia tahu bahwa perempuan yang sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya itu pun adalah perempuan yang sama dengan sosok yang sempat Dhafin tolong tadi ketika ada dua lelaki yang menggodanya. Maka dalam sekejap, Dhafin pun dibuat tertegun hingga rasanya, ia ingin sekali memaki perempuan itu karena saat ini, Dhafin melihat sudah ada beberapa lelaki yang siap memangsa dirinya jika tarian asalnya itu tak segera dihentikan. "Wah, dia itu kan cewek yang tadi keliatan bengong sendiri di sini ya, Wil!" ungkap seorang bartender lainnya di sebelah William. Secepat kilat, Dhafin pun mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah dua bartender di balik meja bar tersebut yang sedang sama-sama memperhatikan perempuan yang juga sempat membuat Dhafin tercengang sesaat lalu. Diiringi dengan rasa penasarannya, Dhafin lantas bertekad untuk menanyai kedua bartender itu mengenai apapun yang mereka ketahui tentang perempuan tersebut. "Apa kalian mengenal perempuan itu?" lontar Dhafin to the poin. Menoleh cepat, William lantas sigap menggeleng sembari berkata, "Sebenarnya kita gak kenal siapa perempuan itu. Tapi tadi sempat datang bersama dengan Bos Ervan dan juga kekasihnya. Kayaknya dia teman mereka deh. Cuma ya gitu, awalnya perempuan itu milih bengong doang di sekitaran sini. Saya rasa dia lagi semacam galau gitu deh. Tapi gak tau kenapa, kok, tiba-tiba sekarang udah kayak gitu aja kelakuannya. Padahal pas saya tawarin minuman di sini tadi, dia nolak. Katanya dia gak biasa minum minuman yang mengandung alkohol. Jadilah dia milih buat duduk sambil bengong aja sampai ada dua cowok asing yang mendatanginya dan saya kurang tau menau lagi karena tadi sempat ke belakang juga buat ambil stok minuman yang udah habis," papar William mengutarakan ceritanya. Membuat Dhafin menangkap sebuah kesimpulan, bahwa sepertinya perempuan yang sempat ditolongnya tadi sedang mengalami fase patah hati meski Dhafin masih belum yakin 100% mengenai dugaannya. Hingga entah kenapa, walaupun Dhafin tidak benar-benar mengenal siapa perempuan itu sebenarnya, mendadak ia merasa harus mengamankan perempuan itu sebelum ada kalangan dari para pemangsa yang siap menerkamnya apabila si perempuan terus saja meliuk-liukkan kemolekan tubuhnya itu tanpa sadar bahwa ada sebuah bahaya yang sedang mengintainya. Maka demi menghindari segala macam praduga yang berpotensi membuat perempuan itu terseret ke dalam lubang berbahaya, Dhafin lantas meletakkan gelas winenya ke atas meja dan mulai bangkit dari duduknya sambil bersiap menghampiri si perempuan sambil tak lupa meraih ponselnya di atas meja yang kembali ia kantongi ke dalam saku celananya. Meninggalkan William dan seorang bartender lainnya yang memilih untuk kembali fokus dalam pekerjaannya, Dhafin pun mengambil langkah lebar guna menghampiri si perempuan yang sudah semakin menggila dalam liukan tubuhnya yang kian tak terkendali. Membuat setiap mata pria yang memandangnya semakin bernafsu seolah-olah mereka sudah siap menerkam mangsaannya yang masih sibuk dalam aksinya saat ini. Bahkan, saking lincahnya si perempuan di tengah tariannya, salah satu tali tank topnya tampak merosot melewati bahu hingga membuat pundaknya tercetak dengan jelas yang sontak membuat salah seorang pria dari kalangan tim pemangsa mulai beranjak menjauhi kursinya dan bersiap menghampiri perempuan tersebut. Akan tetapi, belum sempat langkah kakinya benar-benar ia ayunkan ke arah di mana si perempuan masih menari-nari dengan liukan yang mulai oleng, pria itu lantas dihentikan oleh seorang pria lainnya yang tentu saja adalah Dhafin Ryszard. Sambil kebetulan melintasi kursi yang semula diduduki oleh pria itu, Dhafin pun kini tengah menghalangi si pria pemangsa tersebut dengan tatapan elangnya yang menusuk. "Berani kau melangkah ke arah perempuan itu, maka akan kuhajar kau sampai babak belur!" desis Dhafin mengancam. Maka dalam sekejap, pria tersebut pun langsung mengurungkan niatannya semula dan memilih untuk kembali ke tempat duduknya saja selagi Dhafin yang sudah pergi melenggang menuju ke arah si perempuan yang masih menggila dalam ketidaksadarannya di sana. *** Rupanya, reaksi yang Hansa dapat sehabis menenggak sebotol cairan hijau yang sempat ia minta dari bartender tadi hingga tandas tak bersisa, justru telah membuatnya menjadi mabuk parah hingga ia kehilangan akal sehatnya. Selain karena Hansa yang baru pertama kali mengonsumsi minuman beralkohol, salahnya itu adalah dia sudah menenggak sejenis minuman dengan kandungan alkohol yang berkadar paling tinggi di antara jenis minuman lainnya yang tersedia. Maka itulah sebabnya, kenapa bartender yang sempat dimintai Hansa untuk memberikan gadis itu minuman tersebut sontak sempat membelalak dan memekik tak yakin. Itu disebabkan karena ia merasa kaget ketika ada seorang perempuan menunjuk botol berjenis absinth yang ia ketahui betul bahwa kadar alkoholnya begitu tinggi. Namun apa mau dikata? Bartender itu pun hanyalah seorang pekerja yang harus tetap patuh dan diwajibkan untuk memenuhi permintaan dari para pengunjung yang mendatanginya. Alhasil, inilah akibat dari keteledoran si bartender. Membiarkan seorang perempuan polos seperti Hansa menghabiskan satu botol absinth dalam sekali tenggak. Dan kini perempuan itu pun sedang berjoget-joget tak jelas bertepatan dengan seorang pria yang datang menghampirinya sembari sekaligus melingkarkan salah satu lengannya guna menangkap pinggang sang gadis agar ia menghentikan tarian setengah er0tisnya. Merasa bahwa tariannya dihentikan seseorang, Hansa pun sigap mengerang dan tak ragu memberontak. Akan tetapi, si pria pemilik lengan kekar tersebut malah semakin mengeratkan lingkarannya tersebut di pinggang sang gadis. Malah sekarang, ia pun tampak menyeret gadis itu agar setidaknya ia bisa menjauhkan gadis tersebut dari tatapan para pemangsa yang seolah sudah begitu siap untuk menerkamnya. Melangkahi dan memastikan agar kaki gadis itu tak sampai mengenai pecahan kaca dari botol minuman yang berserakan di lantai, si pria pun sigap mengangkat tubuh gadis itu ketika membawanya pergi dari areal meja bar yang membentang panjang. Tidak lupa ia pun meraih tas selempang milik sang gadis berikut sebuah sweater yang juga sigap pria itu raih oleh sebelah tangannya yang bebas. Meski si gadis terus berusaha memberontak guna melepaskan lingkaran tangan yang membelenggu pinggangnya, tapi bahkan kekuatan si pria jauh lebih besar daripada tenaga gadis itu yang tidak ada apa-apanya. Sampai ketika si pria yang tak lain adalah Dhafin sudah berhasil mengamankan sang gadis ke tempat yang tidak terlalu mencolok dari semua mata lelaki pemangsa, maka barulah Dhafin melepaskan lingkaran tangannya tersebut di pinggang Hansa yang siap meraung. "Kenapa sih! Aku masih pengin menari-nari di sana, kau tau? Tapi kenapa kamu malah bawa aku ke sini bos bermulut nyir-nyir!!" seru gadis itu menatap kesal. Di tengah aroma mulutnya yang menguarkan bau alkohol, Dhafin pun menduga kalau perempuan ini pasti sudah menenggak salah satu jenis minuman beralkohol yang tersedia di lemari bartender tadi. "Dengarkan aku, Nona! Tapi kau tidak menari pada tempatnya. Kau tahu? Tarian asalmu itu bahkan sudah membuat para lelaki di sekitaranmu menjadi tergugah untuk menerkammu. Lagipula, kenapa kau harus minum-minum! Apa kau sedang merasa frustrasi?" lontar Dhafin mencoba mengajak gadis itu berbicara. Tapi kemudian, Dhafin lantas tersadar bahwa tidak ada gunanya jikapun ia bersusah payah untuk menceramahi seseorang yang bahkan sedang berada di bawah kendali alkohol. Dan lihat saja! Dibanding mendengarkan perkataan Dhafin, gadis itu justru malah kembali menari-nari aneh meski suara musik yang menguar kencang di pusat kelab sana hanya tersisa sayup-sayupnya saja di bagian sini yang jelas-jelas cukup jauh dari areal dance floor dan juga meja bar. Membuat Dhafin mendesah kasar, hingga ia harus memijit pangkal hidungnya beberapa saat hingga ia menurunkan pandangannya pada sweater yang ia pegang berikut tas selempang milik sang gadis. Sepintas, Dhafin melihat ke arah tank top gadis di hadapannya. Untuk sesaat, ia pun sampai harus menelan kasar salivanya sendiri ketika tanpa sengaja pandangan matanya tertuju ke arah d4da sang gadis yang begitu mulus. Meskipun belum sampai pada belahan d4danya yang masih tertutup oleh kain tanktop yang gadis itu pakai, tapi Dhafin bersyukur karena setidaknya ia masih diberikan otak yang waras di tengah dirinya yang entah kenapa merasa bertanggungjawab atas keselamatan gadis tersebut. Hingga ketika ia melirik kembali ke arah sweater yang masih dipegang oleh tangan kirinya, barulah Dhafin dihampiri ide agar lebih baik ia pakaikan saja sweater itu agar menutupi bagian atas sang gadis supaya tak terlalu memperlihatkan kemulusan kulit tubuhnya. Lalu dengan cepat, Dhafin pun meraih salah satu tangan si gadis yang secara refleks memekik kencang seiring dengan tubuh depannya yang merapat ke tubuh depan Dhafin juga. Untuk beberapa saat, mereka pun saling menatap. Namun selanjutnya, Hansa pun langsung tertawa seorang diri sambil berusaha meronta dan ingin kembali menari. Akan tetapi, dengan kekuatannya yang lebih besar dari sang gadis, Dhafin pun pada akhirnya berhasil juga memakaikan sweater itu meski setelahnya terdapat sebuah protesan kesal dari gadis berambut agak berantakan tersebut. "Apa sih? Kenapa kamu pakein aku sweater ini! Gerah tau...." erangnya menggeram. Lalu berniat untuk menanggalkan lagi sweaternya jika tidak keburu ditahan Dhafin. "Akan lebih baik jika kau memakai sweater itu, Nona! Ayo, katakan di mana alamat rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah lewat tengah malam kurasa. Apa kau tidak takut dimarahi oleh ayah dan ibumu?" tukas Dhafin menatap tajam. Namun dengan segera, gadis itu malah mendecak kasar sembari mendelik. "Aku hidup sendirian di kota sebesar ini. Ayahku tidak tinggal bersamaku. Dan kau! Jadilah Bos yang tidak perlu ikut campur kepada urusanku di sini. Lagipula, untuk apa kau mengurusi urusan karyawatimu ini, huh? Aku sungguh akan merasa senang jika kau membiarkanku kembali menari lagi. Karena dengan menari, rasa sakit hatiku akan sedikit berkurang. Dan bayangan s1alan itu tidak akan terus berputar-putar di benakku. Jadi tolong, berhenti mengurus diriku! Karena aku hanya ingin menari dengan puas sampai bayangan mereka berc*mbu pada saat itu segera terhapuskan di dalam pikiranku ini!" tandas gadis itu dengan suara terseretnya. Membuat Dhafin lantas menyimpulkan, bahwa sepertinya dugaannya tadi benar. Gadis yang sedang mabuk ini, pasti sedang mengalami fase patah hati akibat diselingkuhi kekasihnya. Dan mengejutkannya lagi, Dhafin benar-benar tidak percaya apakah benar gadis ini adalah salah seorang karyawatinya di kantor? Maka demi memastikan segala ucapan sang gadis yang dirasa tidak sedang berkata bohong--mengingat ia sedang mabuk dan orang mabuk pasti akan selalu berkata jujur--, Dhafin lantas bertekad untuk meminta orang suruhannya nanti agar mencarikannya informasi mengenai identitas gadis ini dengan segala macam yang berkaitan langsung pada kehidupan gadis tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN