Hansa memilih untuk duduk menunggu di bangku kayu yang masih kosong. Selagi pesanan nasi gorengnya sedang dibuatkan oleh si abang nasgor, maka Hansa memutuskan untuk duduk menopang dagu sambil sesekali memperhatikan jalanan. Sejumlah kendaraan tampak berlalu lalang di jalanan sana, seakan-akan mereka tidak peduli jika langit sudah menggelap dan akan lebih baik jika para pengendara itu beristirahat saja di rumahnya masing-masing. Namun ya, pemandangan seperti ini memanglah sudah tidak aneh lagi mengingat ini adalah ibu kota. Andai saja di kampung halamannya, maka tentu di jam jam malam begini suasana sudah teramat sepi dan hanya segelintir kendaraan saja yang masih hilir mudik itu pun hanya demi kepentingan yang benar-benar darurat. Akan tetapi di kota sebesar ini, seolah sudah lumrah, para

