Setelah selesai, Khalisa kembali memakai pakaiannya, dia kembali menggunakan cadar, meskipun hanya ada Alexia dan Rani, tetap saja dia ingin menutup dirinya.
Alexia terdiam setelah melihat betapa cantiknya seorang Khalisa. dia percaya akan rumor yang beredar jika wanita bercadar hampir 90% menyembunyikan kecantikannya.
Dia tidak percaya jika Arsen melihat wajah Khalisa tidak jatuh cinta, pria mana yang akan menolaknya. Kepalanya menggeleng, kekhawatirannya semakin membludak.
Khalisa menatap Alexia, kedua mata mereka beradu dengan tatapan yang berbeda.
“Jangan karena wajahmu yang cantik kamu bisa mengandalkannya Khalis, karena di pernikahan ini kamu sama sekali tidak bahagiakan?"
Khalisa tersenyum, wajahnya yang cantik bukan andalan untuk mencapai tujuan apapun, karena semua itu adalah anugerah.
“Aku tahu kalau aku ini cantik dan untuk urusan rumah tanggaku, seharusnya orang asing tidak usah ikut campur." Jawab Khalisa santai namun sangat menyebalkan untuk Alexia.
“Khalisa, aku bukan orang asing, aku kekasih Arsen yang sudah bertahun-tahun bersamanya dan.. "
“Pacaran bertahun-tahun udah kayak kredit motor, udah gitu gak di nikahi. rugi banget dong, cuma buat pajangan doang." Sela Khalisa kembali tersenyum, dia tau kalau ucapannya itu akan mengundang kemarahan Alexia.
Alexia tercengang, selama pacaran bertahun-tahun, Arsen memang belum pernah mengajaknya menikah, entah belum siap atau memang seperti yang di katakan Khalisa hanya pajangan saja.
“Meskipun kamu yang di nikahi, tetap aku pemenangnya, dan reaksimu itu hanya untuk menipu dirimu sendiri." Alexia mencoba berpikir positif dan tidak terpengaruh oleh ucapan Khalisa.
“Pernikahanmu saja bisa aku rebut, apa lagi cintanya." Khalisa menaik turunkan alisnya.
Reaksi Khalisa di luar dugaan Alexia, setiap kali dia memprovokasi Khalis, namun hasilnya seperti mempermalukan dirinya sendiri
Khalisa tidak bereaksi seperti istri pada umumnya yang tantrum dan menapar ataupun menjambak wanita lain suaminya.
“Nona Alexia, aku tidak perduli seberapa lama kalian berdua memiliki hubungan, bagaimana ceritanya aku sama sakali tidak perduli." Khalisa menjeda kalimatnya, dia maju satu langkah.
“Jangan harap ada yang perduli dan simpati dengan hubungan kalian. Karena jika sampai terdengar keluar, kalian berdua akan sama-sama hancur dan mendapatkan gelar yang teramat kotor." Khalisa tersenyum di balik cadarnya.
“Kamu..." Alexia menunjuk wajah Khalisa. Namun dengan santai Khalis menurunkan jari telunjuk kekasih suaminya itu.
“Ingat Nona Alexia, publik belum mengetahui siapa Nyonya Zionathan yang sebenarnya, bagaimana kalau mereka tahu dan ternyata idolanya menjalin hubungan dengan suami orang, hmm?"
Alexia tidak bisa berkata-kata lagi, begitu juga dengan Rani, tidak terkecuali dengan pria tampan yang sejak tadi mendengar pembicaraan kekasih dan istrinya.
Pria tersebut berdiri di balik pintu yang setengah tertutup. Pernikahannya dengan Khalisa memang hanya segerentil saja yang mengetahuinya. Lalu bagaimana kalau sampai publik mengetahui dirinya sudah menikah?
Arsen tidak mengkhawatirkan dirinya, yang dia khawatirkan adalah kekasihnya, pasti akan mendapatkan cemoohan dan cap perebut suami orang.
Selain malu, tentunya karier Alexia akan hancur dan Arsen tidak ingin melihat hal itu terjadi, kekasihnya tidak boleh kehilangan apapun, untuk mencapai ke puncak tidaklah mudah.
**
Satu minggu berlalu, Alexia tidak pernah datang lagi. bukan berarti hubungannya dengan Arsen sudah berakhir, tetapi menghadapi Khalisa membutuhkan mental yang kuat.
Penghinaan yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak bisa menjatuhkan Khalisa, malah dirinya yang terus tertampar oleh ucapannya sendiri.
Tidak ada yang bisa mengubah apapun, faktanya memang Alexia saat ini memiliki hubungan dengan pria yang sudah memiliki istri. Meskipun dirinya lebih dulu menjalin hubungan dengan Arsen, namun tetap saja kalau sampai publik mengetahuinya, gelar sebagai perebut suami orang akan dia dapatkan.
Dan di saat itu, semua yang sudah dia dapatkan dengan susah payah akan hancur, untuk menjadi model terkenal tidaklah mudah, terlebih dirinya tidak memiliki kemampuan apapun selain mengandalkan tubuhnya yang seksi.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Baby?" seorang pria tiba-tiba datang dan memberikan kecupan di pipinya sembari meningkatkan tangan kekarnya di pinggang ramping Alexia.
Alexia mendongak memasang wajah yang muram. menghela nafas lelah, nampak memiliki beban pikiran yang menyiksanya “Aku tidak menyukai wanita itu."
Pria tersebut tersenyum, melerai lingkaran tangannya, lalu membalik tubuh Alexia menghadap kearahnya, memegang kedua bahu wanita cantik itu, sampai beberapa detik kemudian. Sebelah tangannya menyelipkan anak rambut Alexia ke belakang telinga. lalu kembali mengecup keningnya.
“Apa yang dia lakukan padamu?" Tanya pria tersebut.
Alexia menghela nafas berat, Khalisa tidak melakukan apapun padanya, namun setiap kalimat yang keluar dari mulut Khalis, membuatnya merasa menjadi wanita paling rendah.
“Dia tidak menyerang fisikku, tetapi mentalku yang terus dia hajar." jawab Alexia, membuat sang pria menaikan sebelah alisnya, lantaran dia sangat tahu bagaimana sifat Alexia, sangat mustahil Khalisa bisa menyerang mentalnya.
Alexia berdecak kesal. “Aku tau, kamu pasti tidak akan percaya." Lanjutnya sembari memukul manja d**a bidang prianya.
Sang pria pun terkekeh pelan, lalu memberikan pelukan ternyaman agar wanitanya tenang. “Kenapa kamu masih bertahan dengan Arsen? apakah aku tidak cukup untuk membuatmu bahagia?"
Alexia mengendurkan pelukannya, dia menatap dalam pria yang memberikannya segalanya. kemewahan dan juga karier yang cemerlang. Apapun yang dia inginkan akan sangat mudah didapatkan.
Jika mendapatkan pertanyaan apakah bahagia? Tentu saja sangat bahagia, namun tidak ada cinta untuk pria tersebut, dia hanya memanfaatkan kekuasaannya saja, di hatinya tetap Arsen lah pemenangnya.
“Alexia, katakan, apakah aku tidak cukup untuk membuatmu bahagia?"
Alexia tersenyum kaku dengan salah tingkah. “Ten-tentu saja aku bahagia, bagaimana mungkin aku tidak bahagia memiliki suami sepertimu."
Pria tersebut merasa jantungnya berdetak kencang mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita cantik itu. Terlebih dengan kata ‘Suami'
“Kalau begitu, lepaskan Arsen, biarkan dia bersama wanita itu dan kita bisa hidup bersama tanpa sembunyi-sembunyi lagi."
Mata Alexia mendelik sempurna. “Tidak, bukannya kamu sendiri yang mengatakan untuk tetap merahasiakan hubungan kita? kenapa sekarang mendadak mengubah rencana yang sudah kita sepakati."
Pria tersebut menghela nafas panjang, memang dirinya yang awalnya membuat perjanjian agar hubungan mereka disembunyikan. Namun semua rencana itu berubah, setiap kali melihat wajah murung Alexia dan mengadu tentang Khalisa.
Dia ingin memberikan status jelas, agar wanitanya tetap bisa berdiri tegak mengangkat kepalanya. Agar tidak mudah tertindas oleh Khalisa.
“Apa kamu tidak ingin mendapatkan status istri Sah dariku?" Tanya pria tersebut, melihat ekpresi Alexia seperti tidak menginginkan hal tersebut.
Alexia gelapan, jika sampai pernikahan siri nya terbongkar, dia akan menjadi pembicaraan publik dan kehilangan Arsen. Meskipun imbalannya sebagai istri sah juga kekuasaan. Tidak, dia masih ingin bersama Arsen.
“Sayang, kita jalani sesuai kesepakatan awal, aku tidak perduli dengan status istri Sah ataupun siri, kalau sampai hubungan kita di publish, aku sangat yakin, Arsen akan membencimu." Ucap Alexia memegang lengan prianya.
Pria tersebut diam untuk sesaat, perkataan Alexia memang ada benarnya. Namun demi cinta apapun akan dilakukan, meskipun mendapatkan kebencian dari Arsen. Dia memiliki kekuasaan dan kendali dalam bisnis, Arsen tidak akan mampu melawannya.
“Tidak masalah, aku bisa mengatasinya." Ujar pria tersebut. Alexia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau, kalau kamu memang cinta, kita lakukan semua sesuai kesepakatan, agar tidak ada yang tersakiti, sekarang yang perlu kamu lakukan, bagaimana membalas sakit hatiku pada Khalisa."
Andalan dengan merajuk sangat ampuh, nyatanya pria itu langsung memeluknya erat. “Jangan Khawatir, dia akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Sementara di tempat lain, Khalisa baru saja menuruni anak tangan, kebetulan bersamaan dengan itu, Arsen memasuki ruang tengah.
“Mas Arsen, kamu baru pulang?" Baru saja pertanyaan itu keluar dari mulut Khalisa, Arsen langsung memberikan tatapan maut dan menghampiri istrinya.
“Sialan!! Berhentilah mengacaukan hidupku Khalisa, semenjak menikah denganmu, hidupku tidak pernah tenang dan penuh dengan masalah!!" Arsen menunjuk wajah istrinya saking kesalnya.
Arsen mendapatkan tekanan dari sang Ayah, untuk segera membuat Khalisa hamil dan lagi, kekasihnya terus merajuk, mengadu tentang Khalisa yang mengatakan Alexia pelak0r.
“Apa yang aku lakukan?" Tanya Khalisa dengan tatapan mata yang polos, dia tidak merasa mengacukan kehidupan Arsen, semua yang terjadi menurutnya sudah menjadi takdir.
Grep
Arsen mencekik Khalisa, seketika membuat wanita cantik itu terkejut dengan aksi tiba-tiba suaminya itu. Arsen mencekik kuat, Khalis memukul-mukul lengan suaminya. Tetapi Arsen sedang tertutup kabut emosi sama sekali tidak perduli.
“Gara-gara kamu aku harus menanggung semuanya Khalisa. kamu wanita munafik yang pernah aku temui, penampilanmu terlihat seperti wanita baik-baik, tetapi ternyata kau tidak lebih dari wanita mur*n yang menjijikkan." Desis Arsen, tatapannya penuh kebencian.
Khalisa memejamkan matanya, dia hampir kehabisan nafas, pasrah kalaupun malam ini harus mati di tangan suaminya.
“Arrgggggg.. sialan!!" Arsen menghempaskan tubuh Khalisa begitu saja, sehingga membuat tubuh ramping itu hampir tersungkur. Nafas Khalisa terengah-engah, dia meraup udara rakus, sembari memegangi lehernya yang terasa sakit.
Arsen benar-benar membencinya, tatapan pria itu seperti ingin membunuhnya. Tubuh Khalisa gemetar hebat. meskipun mencoba untuk berani, tetap saja Arsen bukan lawannya.
“Jangan pernah mengatakan Alexia sebagai pelak0r, karena di sini, kamulah yang merusak hubungan kami, dan ingat baik-baik, jauhi Darren atau kamu akan menyesal seumur hidup."