Bab 10

1439 Kata
“Kenapa kamu membentakku Mas?" Tanya Khalisa. sedikit memiringkan kepalanya. “Apakah ucapanku ada yang salah? kamu sudah legal untuk mengambil keputusan dan memilih jalan hidupmu sendiri, tetapi kamu tetap memilih menikah denganku daripada memperjuangkan cintamu dengan Nona Alexia." Dia tidak takut sama sekali menatap mata sang suami. Meskipun dalam hatinya bergetar hebat, lantaran yang tengah dia hadapi adalah iblis yang berwujud manusia. Arsen mengepalkan kedua tangannya, wanita yang beberapa hari terlihat lemah dan pasrah, namun hari ini seakan menunjukkan keberaniannya. Pria itu tidak bisa memberikan jawaban atas ucapan Khalisa, Sebab tidak ada yang salah dengan perkataan istrinya, dia bisa memilih untuk menolak dan memperjuangkan cintanya dengan Alexia, tetapi nyatanya dia tetap menikahi Khalisa. Alasan untuk balas dendam untuk Alana, bisa dia lakukan tanpa menikahi Khalisa. dia bisa melindungi Alexia. Arsen menggelengkan kepalanya, kalau dia memperjuangkan Alexia, dia tidak akan mendapatkan apapun dari harta sang Ayah dan tentunya karier kekasihnya akan di hancurkan oleh Ayahnya. Menurutnya keputusan menikahi Khalisa adalah yang tepat. tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulut Khalisa, bagaikan anak panah yang menembus jantung Alexia dan tamparan keras bagi Arsen. Di tengah-tengah keheningan, Tiba-tiba seorang Dokter tampan dan dua suster masuk setelah mengetuk pintu. “Khalisa, bagaimana keadaan mu?" Tanya sang Dokter terdengar sangat akrab. Sehingga membuat Arsen menaikan sebelah alisnya. “Seperti yang kamu lihat, kapan aku bisa pulang?" Jawab Khalisa tak kalah ramahnya. Dokter Juna tersenyum kembali sebelum memeriksa lembaran kertas yang suster berikan padanya, membaca dengan teliti setiap barisnya tanpa terlewatkan. Setelah beberapa saat helaan nafas lega terdengar bersamaan dengan raut wajah yang meyakinkan dari Dokter tersebut. “Hari ini juga kamu bisa pulang, tetapi kamu harus banyak istirahat untuk memulihkan keadaanmu." Ujar sang Dokter. Khalisa menganggukkan kepalanya tanpa membalas senyum Dokter Juna. “Senang sekali kamu Khalisa, di perhatikan oleh pria yang bukan mahram." Celetuk Alexia sembari tersenyum miring. Khalisa menaikan sebelah alisnya, dia benar-benar ingin tertawa. “Pantas saja semakin barani, ternyata sudah ada laki-laki lain yang akan menjadi mangsa barunya." Sambung Arsen, yang semakin membuat Khalisa ingin tertawa. Melihat reaksi Khalisa yang tampak biasa saja malah membuat Arsen semakin kesal. sedangkan Alana menggeleng kecil. “Selain Ayah, Dokter Juna juga salah satu donatur di panti Asuhan Muara Bunda, mereka berdua sudah saling kenal dan menjadi sahabat." Jelas Alana membela Khalisa. Dia tersenyum pada Dokter Juna, lalu kembali menatap sang Kakak. Dokter Juna menganggukkan kepalanya untuk membenarkan ucapan Alana, dia memang salah satu Donatur di Panti Asuhan Muara Bunda, meskipun masih di bawah Tuan Adnan. “Dan satu lagi Mas, aku tidak ada pria lain, tidak sepertimu." Sambungkenyataan Arsen tersentak, ucapan istrinya membuatnya kembali tertampar kenyataan. Tidak ingin membuang waktu, setelah suster melepas infusnya, Khalisa di bantu oleh Alana membereskan barang bawaannya untuk segera kembali ke rumah Arsen. Dia tidak perduli dengan tatapan sang suami. Sampai di kediaman Arsen, Khalisa tidak membawa langkahnya ke dalam kamar utama, dia mencari kamar lain untuk dirinya sendiri. “Khalisa, kenapa harus pisah kamar?" Tanya Alana sembari meletakkan paper bag di atas meja. Khalisa menoleh, tatapannya begitu teduh. “Kalau aku satu kamar dengan kakakmu, itu sama saja aku akan membuatnya mengingkari janjinya lagi." “Janji?" Ulang Alana menatap sahabatnya. "Hmm, Mas Arsen sudah berjanji pada Nona Alexia, tidak akan menyentuhku, tetapi apa kamu yakin? dengan wajahku yang cantik ini, Mas Arsen tidak akan terpikat?" Jawabnya dengan gelak tawa pelan. Khalisa menertawakan kenarsisan dirinya sendiri, begitu juga dengan Alana. “Kamu memang cantik, siapa pun yang melihat wajahmu, pasti akan jatuh cinta, termasuk... " Alana menggantung kalimatnya. Gadis itu tersenyum getir, termasuk tunangannya juga mencintai Khalisa. Khalisa menaikan kedua alisnya, dia menunggu kelanjutan kalimat Alana, namun tak kunjung berlanjut. “Khalisa, bukannya dalam ajaran tidak di bolehkan pisah kamar? lalu kalian?" Alana mengalihkan pembicaraan, dia tidak mungkin mengatakan jika Darren juga mencintai Khalis. “Dalam Islam, suami istri boleh pisah kamar tidur (sleep divorce) selama atas dasar kerelaan bersama. dan aku rasa Mas Arsen sangat rela pisah kamar" Jawab Khalisa santai. Tentunya Arsen tidak akan keberatan dan sangat senang meniru kalau Khalisa dengan penuh kesadaran pindah ke kamar lain. “Masa sih, Khal?" Khalisa kembali menganggukkan kepalanya. “Asalkan tidak melalaikan hak dan kewajiban nafkah batin/biologis dan tidak bertujuan untuk menelantarkan pasangan. Hal ini diperbolehkan untuk menjaga kualitas tidur, namun tidur bersama tetap yang lebih utama dan disunnahkan untuk keharmonisan." Jelas Khalisa sembari menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang. Alana manggut-manggut paham. “Apakah Kak Arsen sudah memberikan nafkah batin?" Deg Khalisa mendongak, mendadak tubuhnya membeku, dia kembali teringat dengan kejadian di malam yang menyakitkan itu. Arsen sudah memberikannya nafkah batin, namun tidak dengan kelembutan, pria itu menyakiti fisik dan batinnya. Bayang-bayangan itu kembali muncul, teriakannya yang begitu keras, namun sama sekali tidak di dengar oleh Arsen. “Khalisa!" Panggil Alana melambaikan tanganya di depan wajah Khalis. Wanita cantik itu kembali tersentak dan tersadar dari lamunannya. Khalis tersenyum kaku, kedua matanya memerah dan keringat dingin membasahi keningnya. “Ah.. Sudah hampir magrib, bagaimana kalau kita sholat berjamaah saja di sini?" Khalisa dengan kalimat terbata-bata mengalihkan pembicaraan, untung saja jam sudah menunjukkan waktunya sholat. Alana menghela nafas berat, lalu dia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menggeleng pelan. “Sorry Khal, kayaknya aku gak bisa berjamaah sama kamu, aku ada janji temu Darren." Memberikan alasan yang sama, ketika di ajak sholat. Khalisa yang sudah terbiasa hanya menganggukkan kepalanya, yang penting tidak ada pertanyaan tentang dirinya dan Arsen. ** Arsen duduk terkulai lemas, dia baru saja menyelesaikan pertemuan dengan rekan bisnisnya, untuk menghargai rekan bisnis tersbut, Arsen terpaksa harus meminum minuman yang mengandung Alkohol tinggi. Sejak Khalisa pulang dari rumah sakit, Khalis menjadi lebih menghindarinya, sehingga keduanya hampir tidak pernah bertatap muka. “Bagaimana pertemuannya lancar?" Tanya Alexia yang tiba-tiba datang membuat Arsen kaget. Arsen mengangguk sembari mengusap wajahnya kasar, dia tetap harus menjaga kesadarannya, biasanya sang kekasih akan memanfaatkan keadaannya yang dalam pengaruh alkohol. Meskipun tidak pernah terjadi sesuatu, namun Arsen tetap waspada. Dia tidak ingin merusak kekasihnya. Alexia duduk di sebelahnya. “Apa yang kamu pikirkan?" “Tidak ada, aku hanya sedikit lelah." Jawab Arsen memaksakan senyumnya. “Kalau begitu ayo pulang, Bunda juga mengundangmu untuk makan malam di rumah." Arsen sudah menggeleng. “Maaf, untuk malam ini aku tidak bisa, aku harus pulang ke rumah." Arsen berdiri. Alexia ikut berdiri melihat Arsen yang sedikit berbeda. “Arsen, ada apa? tidak biasanya kamu menolak undangan Bunda." Arsen memasakan senyumnya. “Aku hanya ingin pulang dan istirahat, sampaikan maafku untuk Bunda, kamu pulangnya Hati-hati, aku tidak bisa mengantarmu." Dia berjalan keluar ruangannya meninggalkan Alexia sendirian. Alexia menatap punggung Arsen yang semakin menjauh, dia merasa jika sikap kekasihnya itu ada yang berbeda. Setelah beberapa saat Arsen sampi di kediamannya, namun dia mendengar suara jeritan dari dapur. Seperti magnet yang menariknya untuk menghampiri suara tersebut. “Ada apa?" Tanya Arsen, terlihat heran, sebab beberapa maid berbeda di dapur dan Khalisa dengan tatapan yang menahan kesakitan. Tidak ada yang menjawab, beberapa maid menundukkan kepalanya. Arsen melihat kompor yang masih hidup dan panci kecil di lantai dan sedikit air yang sepertinya masih panas. “Rina, apa yang terjadi?" Arsen mengalihkan pada salah satu maid kepercayaan Alexia. Rina mengangkat pandangannya. Dia melirik Khalisa sekilas. “Nona Khalisa tersiram air panas." Arsen menaikan sebelah alisnya. “Kamu tersiram air panas?" Khalisa tidak langsung menjawab, dia menatap suaminya sembari melangkah maju. Berdiri tepat di hadapan suaminya. Sampai beberapa detik, Khalisa tidak mengatakan sepatah katapun, lalu dia kembali melangkah melewati suaminya begitu saja. “Berhenti di tempatmu Khalisa." Khalisa menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Arsen membalik tubuhnya mengharap kearah istrinya. “Panggil Dokter umum memeriksa punggungmu." “Tidak usah." “Jangan membantah, kamu tidak boleh mati hanya karena tersiram air panas. karena itu terlalu mudah untuk w*************a dan matre sepertimu." Khalisa memejamkan matanya untuk sesaat, ucapan Arsen sungguh keterlaluan, tetapi dia sudah menebalkan hatinya untuk tidak sakit hati. Dia kembali berjalan setelah membuka matanya, tanpa memberikan jawaban pada Arsen, terserah juga kalau mau memanggil Dokter Keesokan paginya, Alexia kembali datang ke rumah kekasihnya. “Selamat pagi, Nyonya Alexia!" Sapa Rani dengan wajah yang begitu antusias. Alexia tersenyum. “Pagi, apakah Arsen sudah bangun?" Rani menganggukkan kepalanya. “Tuan sedang berada di ruang Gym." Alexia manggut-manggut. “Di mana wanita itu?" Rani menoleh ke kanan dan kiri memastikan situasi aman. “Berada di kamarnya, semalam saya berhasil melakukan tugas yang Nyonya perintahkan." Bisiknya pelan. Alexia menaikan sebelah alisnya. “Kamu yakin?" Rani menganggukkan kepalanya. Alexia ingin memastikan sendiri, dia berjalan menuju kamar Khalisa. Brakk Khalisa menoleh tersentak mendengar suara pintu kamar yang terbuka secara kasar. Mata indah dengan rambut panjang yang terurai, pipi yang begitu mulus dengan bibir berwarna merah muda. Bukan hanya Alexia yang tercengang melihat ciptaan yang Maha Kuasa begitu mendekati kata sempurna. “Cantik"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN