Khalisa terlalu pandai menahan diri, setiap kalimat yang keluar dari mulut Alana sangat menyakitkan, namun dia sama sekali tidak terpancing. Tetapi setiap jawabannya mampu menyulut emosi Alana. dengan begitu Khalis bisa melihat wajah asli dari sahabatnya. “Kamu yang terlalu bodoh Khal" Ucap Alana memberikan senyum tipis. “Kamu pikir dengan menikah dan memberikan keturunan pada kakaku, Panti Asuhan itu akan terbesar dari penggusuran?" Alana menyunggingkan sudut bibirnya, melihat mata Khalisa yang membulat sempurna. “Apa maksudmu Al?" Tanya Khalisa menuntut penjelasan. Gadis cantik itu menunjukan senyum seakan sedang mengejek kebodohan Khalisa. “Menurutmu, apakah harga dirimu sebegitu mahalnya Khal, sampai kamu percaya dengan ucapan Ayahku?" Khalisa menautkan kedua alisnya. “Bicara

