Amirah menatap Gumelar dengan menengadahkan wajahnya, karena posisinya masih di sisi sawah, sementara Gumelar berdiri di pematangnya. Tidak berkata, tetapi melingkarkan tangan ke pinggangnya. Kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Lalu memejamkan mata, meresapi kedekatannya dengan hati yang berdebar-debar. "Kamu tidak apa-apa kan, Mi?" Terdengar suara Gumelar yang lebih berkharisma di telinganya. "Sendal Ami, ada di sini." Ia segera melepaskan diri, padahal Gumelar masih merangkulnya. Mata Amirah mencari-cari ke bawah saat menemukan, ia mengambilnya. "Nih, sandalnya sudah ditemukan." Amirah mengacungkan sandal yang penuh dengan lumpur sawah itu, pada Gumelar. Gumelar menatapnya. Amirah tetaplah Amirah. Meski jarang berinteraksi lagi, tetapi keluguannya tetap melekat

