Gumelar dan Hilman berdiri di depan seorang ibu setengah baya, di luar ruangan perawatan VVIP. Apakah itu ibu Ghea? Gumelar menyalaminya, setelah Hilman terlebih dahulu melakukannya. Wanita itu menatapnya dengan seksama. Pantas saja anaknya begitu mengagumi pemuda ini, selain tampan juga terpancar aura kharisma dalam dirinya. "Maaf, saya tidak tahu kalau Ghea selama ini sakit." kata Gumelar menyatakan penyesalannya. "Ghea memang tidak ingin orang lain tahu kalau dia sedang sakit." Alena, bunda Ghea tersenyum. "Saya, Gumelar." Dia memperkenalkan dirinya. "Nama kamu tidak asing di telinga Bunda." Kembali Alena tersenyum, membuat Gumelar kian merasa bersalah. Bagaimana tidak? Bunda ini yang selalu menyiapkan makan dalam bekal Ghea, untuk disantap bersama dengannya. Dan dia merasakan

