Ethan : Awalnya tak mengerti apa yg sedang kurasakan. Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada. Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku. Aku tahu sesuatu sedang terjadi padamu. Sudah sekian lama ku alami pedih putus cinta. Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara. Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku. Kau berbeda dari yang ku kira. Aku jatuh cinta kepada dirinya. Sungguh sungguh cinta oh apa adanya. Tak pernah ku ragu namun tetap selalu menunggu. Sungguh aku jatuh cinta kepadanya... Coba-coba dengarkan apa yang ingin aku katakan. Yang selama ini sungguh telah lama terpendam. Aku tak percaya membuatku tak berdaya. Tuk ungkapkan apa yang kurasa...
‘Pok pok pok’
“Gila suara kamu, bro. Roultte-aku jatuh cinta, keren banget kamu bawain.”
Arsen menepuk bahu Etha, sambil memainkan alisnya.
Habis pulang sekolah, mereka selalu saja menyempatkan diri untuk main band terlebih dahulu di rumah Satria. Ethan pada vokal, Alex pada gitar, Arsen pada gitar, Sam pada keyboardist, Fey pada Gitar, Satria sebagai penyokong dana, dan Jay sebagai pemegang kamera fujifilm.
Fey mendekati Ethan, tangannya melingkar di leher sahabatnya. “Bro, aku dengar Mauren kemarin bilang dia mau jadi Dokter, suaminya kalau bisa Dokter juga...” pria itu berbisik pelan di telinga Ethan.
Pria itu pun menatap wajah Fey penuh tanya. “Kamu dapat kabar darimana, Bro!”
“Ada deh...”
“Eth, Fey itu sudah gila! Dia lagi cari teman buat penuhi cita-cita calon istrinya...”
Arsen berbicara sambil berjalan duduk ke kursi yang berada di sudut ruangan. Dia memainkan tali sepatu sambil sedikit mengoceh. “Apa yang di bilang Sam itu benar, Fey sedang cari teman buat kuliah! Gila... otakku enggak sampai, bro!”
Alex yang baru saja meletakkan gitarnya merangkul pundak Fey. “Aku akan kuliah bareng kamu, Fey! Kita daftar bareng dan tamat bareng! Teman buat apa, Fey...”
“Buat saling MEMULIAKAN, bro!”
Mereka berdua menyatukan tinju, sambil terkekeh. Setidaknya mereka tahu kalau semua yang ada di sini sebentar lagi akan berniat masuk Universitas dan jurusan yang sama.
“Kalau begitu, aku juga masuk Kedokteran! Lagi pula, kecuali Satria, enggak ada yang bodoh di sini. Kita harus sama-sama bantu dia buat lulus bareng kita, gimana...?”
Fey dan Alex memainkan alisnya. Tembakan mereka pas kena sasaran. Eth adalah pentolan kelompok ini, lihat saja! Sebentar lagi kiblat mereka semua akan berpindah sesuai keinginan Alex dan Fey.
“Oke, mulai hari ini, aku akan jadi Dokter, ANJIR dah...” umpat Satria.
Sam menggeleng... “Aku enggak bisa!”
Mereka semua menatap Sam, Jay yang ada di sudut pun mendekat juga. “Sam, tenang saja! Kamu pasti dapat beasiswanya.”
“Eth, aku yatim piatu, Pendeta bilang aku harus banyak bersyukur. Kalian adalah bentuk kasih sayang Tuhan padaku...” Sam menatap semua teman-temannya satu persatu. “Gimana kalian bisa yakin aku dapat BEASISWA, kalian terus membawa aku pergi seperti ini...”
“Oke, kalau gitu kamu, enggak usah ikut lagi kita main! Kamu duduk saja yang manis sambil belajar. Masalah Band nanti Jay yang akan gantikan kamu...”
“Kok aku...” Pria yang baru saja di sebut namanya itu protes. ���Kalian tahu orangtuaku keras! Aku harus juara, setidaknya jika Sam mengalah, aku sudah dapat Vespa idaman!” umpatnya lagi.
Nongkrong bareng, jalan bareng, usil bareng, semua mereka lakuin sama-sama sampai sore. Tidak ada yang mau pulang kalau sudah seperti ini. Apalagi kalau ada Satria, pria itu sangat sanggup mengeluarkan uang asal dia bisa terus bermain.
“Eth, aku tidur di rumah kamu malam ini, ah rasanya aku malas pulang ke rumah, sepi sekali. Setidaknya di rumah kamu ada Senja, bro.”
Ethan mengangguk.
“Kalau gitu aku juga tidur di rumah kamu, rasanya suntuk sekali kalau apa-apa selalu di tanya Mama.”
“Tidak, khusus kamu, tidak boleh ikut. Aku takut Mama kamu, akan menyusul ke rumah. Aku tidak suka di ganggu, apalagi kalau sedang main nintendo.”
“Ah, sial!” umpat Satria sambil mengacak rambutnya.
Dua jam setelah itu, mereka semua sampai di rumah masing-masing. Ethan masih termenung menatap pintu rumahnya. Sambil menghela napas dia menatap Arsen.
“Jangan ajak Senja main ke dalam kamar... aku malas! Dia akan menghancurkan semuanya. Kamu tahu nama panggilannya sekarang...? mesin penghancur! Semua yang dia pegang akan hancur begitu saja! Uh, sangat menyedihkan.”
Ethan berjalan menarik Arsen, masuk ke dalam rumahnya.
“Hey kak Arsen...”
Arsen menggaruk kepalanya, dia melirik Ethan yang terus menatap dengan membulatkan mata.
“Aku mau naik...” Senja menunjuk punggung Arsen, dia ingin di dukung.”
“Tidak, Senja! Kami sibuk, kamu main saja sama boneka kamu sana!”
Senja mengerutkan kening, dia marah dan kesal. Ada rasa ingin menangis juga! “Aku mau ikut, kak...”
“Tidak...” Eth menarik tangan Arsen yang masih menatap Senja.
Senja dan Eth, punya jarak umur delapan tahun. Bocah satu ini sangat manja, Eth sangat kesal karena Orangtuanya membiarkan Senja melakukan apapun. Akhirnya, adik perempuan itu menjadi anak yang manja. Dia akan menangis jika apa yang dia inginkan tidak di dapatkan.
“Kamu jahat sekali, ETHAN.”
Senja melempar bonekanya, hingga mengenai kepala kakak yang sedang tidak ingin di ganggu itu.
“Jangan main ke kamar, awas ya...”
“Dasar kakak jahat, semua temanku, kakaknya baik, hanya kak Ethan saja yang jahat. Kamu anak nakal kak...”
Eth menghela napas sambil berlalu bersama Arsen, meninggalkan Senja.
“Eth, dia sendirian di bawah, aku rasa Senja kesepian dan dia menunggu kamu pulang...” Arsen berkata dengan pelan.
“Arsen, sudah aku katakan. Jangan banyak ikut campur! Senja harus di ajari dengan benar. Mama dan Papa terlalu memanjakan dia. Aku tidak suka dengan sikap Senja.”
Apa yang bisa di lakukan ketika Eth sudah mengatakan itu. Arsen tidak bisa membantah, karena kakaknya Senja adalah Eth, bukan dirinya.
“Kamu pakai baju ini...”
Eth melempar baju yang akan Arsen gunakan. Pria itu lalu membuka pintu kamar, mengintip di balik tangga. Arsen tahu, sebenarnya Eth sangat mengkhawatirkan Senja. Tapi dia selalu berada dalam mode malas untuk menuruti apa yang adiknya inginkan.
**