Tahun 2000 Bab 2

953 Kata
Mauren masih menatap takjub kehadapan pria yang sedang bercanda tidak jelas. Sesekali dia menyunggingkan senyum saat candaan mereka terasa lucu bagi Mauren. Jay dan Sam yang paling pendiam diantara mereka. Untuk kedua orang pria tersebut, mereka lebih memilih membaca buku pelajaran atau komik. “Kalian tahu, aku hampir gila karena Fey, dia mengajak aku menemui anak Sekolah dasar dan bertanya kamu mau suami seperti apa? Ah gila, aku kacau sekali!” “Kamu akan aku hapus dari daftar teman mulai hari ini, Satria.” Fey menatap kesal mulut Satria yang seperti perempuan. Mereka kembali saling berceloteh, sedangkan Mauren yang kini tersenyum terkejut saat jari tangannya kini penuh. Gadis itu menatap ke bawah dan melihat tangan Ethan sudah meraih tangannya, menggenggam erat. Mata Eth masih menatap teman-temannya, malah dia ikut bercanda. Sesekali dia melirik ke arah Mauren. ‘Degh’ Mauren meminum Es-nya, ugh... rasanya seperti seluruh tubuh gadis itu panas. Dia tidak pernah mengalami ini seumur hidupnya. Dia mengambil napasnya satu-satu, Mauren berusaha melepaskan kaitan tangannya dari Ethan. Tapi pria itu semakin mengeratkannya. “Eth...” “Ya...” “Lepaskan!” “Aku suka begini...” “Nanti mereka melihat!” “Senior akan marah jika aku lepaskan.” “Eth...” Ethan menatap mata Mauren, dia tersenyum manis. Bibir Eth bergerak mengatakan, jangan tolak aku. Uh, Mauren menjadi kaku seketika. Dia terpesona oleh seorang pria yang baru di kenal tadi pagi. “Eth, Mauren! Kalian sedang membicarakan apa? Aku melihat kalian melakukan telepati, bisa aku bergabung...?” “Ah sial! bisa-bisanya kamu menggodaku...” Eth melempar bungkusan Es yang dia pegang ke wajah Satria. “Hey, gila...” Hahahaa.... mereka semua tertawa melihat Satria di lempar seperti itu. Kapan lagi mereka bisa melihat Eth melakukan hal kejam. ‘Iiiiing, Tok Tok’ “Wahai para junior yang budiman, kalian di harapkan segera melakukan tugas masing-masing. Kumpulkan tanda tangan senior secepatnya.” Hah, mereka semua yang asyik berceloteh tadi pun menyandarkan tubuh dengan menghela napas panjang. “Bro, aku duluan...” Ethan berdiri, tangannya masih memegang erat tangan Mauren. “Jangan lihat begitu, kalian dengar sendiri ini perintah senior, kan.” “MODUS banget... iya gak, bro!” Mereka mengangguk bersamaan sambil memajukan bibir. Eth mengibas tangan sambil berlalu pergi. Tangannya memegang erat tangan Mauren, yah...gadis itu tersipu malu karena ulah pria tampan di sampingnya ini. Sepanjang jalan, para siswa dan siswi tidak henti menatap Mauren dan Eth. Mereka pasangan serasi, pria dengan kulit putih, betubuh tinggi, rambut coklat dan berlesung pipi itu sangat cocok dengan Mauren yang sangat mempesona di antara siswi angkatannya. “Cie, Maskot kita. Sudah berapa jam pacarannya...?” goda Senior yang di minta tanda tangan. “Siapa Kambing kalian berdua? Eh maksudnya kakak pembimbing kalian berdua.” “Kak Adit...” Jawab Eth. Mereka yang sedang duduk sambil mengerjakan LKS itu mengangguk. “Adit si cemong, kan.” “Apa...?” Mauren bertanya balik. “Hahahahaa... Ketua Osis kalian, Adit si cemong!” Mauren dan Eth saling pandang. Mereka tidak mengerti apa mereka sedang menghina atau bercanda. Karena di dalam hati Mauren dan Eth, segala jenis penghinaan fisik dapat melumpuhkan kepercayaan diri seseorang. Setelah selesai mereka berdua bergegas pergi. Ethan tidak sedikit pun melepaskan tangan Mauren. Mereka datang berdua menghadapi semua senior berdua, dari yang pandai menggoda, hingga yang sok membentak. “Eth...” Mauren menahan tangan Ethan saat dia sudah mengepalkan tinju. Kali ini senior mereka sungguh keterlaluan. Dengan sengaja dia meminta Mauren untuk berputar. Sehingga rok Mauren tersibak berulang kali. “Sudah, bro! Pacarnya Mauren marah. Kita tidak boleh menyakiti hati junior...” Mereka tertawa sambil meninggalkan Ethan dan Mauren yang masih membatu. Sepeninggalan Senior, Mauren menarik tangan Ethan untuk duduk di bawah pohon beringin di belakang kelas. Mauren tidak sadar jika ada beberapa pasang mata yang mengikuti arah mereka pergi. “Ethan, kamu minum ini, ya!” Mauren memberikan minuman yang dia bawa, pada Pria yang kini wajahnya sudah memerah. ‘Sret, cup!’ Bibir Ethan menempel pada bibir Mauren, tipis! Sangat tipis sekali. ‘Tugh’ Botol minuman itu terjatuh, Mauren mundur beberapa langkah sambil memegang bibirnya. Ethan yang melihat itu tersenyum simpul. Ethan yakin yang dia lakukan saat ini adalah hal pertama bagi Mauren. Semua sangat telihat jelas! Mata Mauren sesekali menatap Ethan, lalu dia memegang bibirnya lagi. Mauren ingin bicara, tapi suaranya tidak bisa keluar. Eth memicingkan mata, dalam hati dirinya pun berpikir apa sebegitu hebatkah apa yang dia lakukan saat ini, hingga membuat seorang gadis menjadi bisu tiba-tiba. Di sudut lain... “Gila, ANJING! Dia uuugh sama Mauren.” ‘Plak’ “Ngomong yang jelas anjir! Uuggh apaan...” Fey menyatukan kedua telunjuknya. “Gila, b******k, Eth! Ah... sial! Dia maju satu langkah dari aku.” umpat Satria sambil meremat rambutnya. Jay yang ada di sana hanya menggelengkan kepala, dia lebih suka membaca bukunya. Sedangkan Sam dia sibuk dengan pekerjaan sekolah. “Arsen, Alex! Kalian ngapain, sih!” Satria merenggut apa yang yang di lihat kedua pria itu hingga tidak mengacuhkan berita besar ini. “Waw... darimana kalian dapat?” Arsen tersenyum sambil menaiki alisnya. “Kamu lupa kalau Mama...” “Stop! I see...” Satria mengayunkan telunjuknya dan ikut menikmati majalah itu. “Kalian harus tahu, ini ukurannya 40, yang ini 39, yang ini hanya 36.” Satria mengibaskan tangan. Arsen dan Alex tertawa, bisa Satria baja hitam satu ini, pikir mereka. “Oke, sudah selesai, siapa yang mau menyalin...?” Sam mengibaskan LKS-nya. Mereka semua yang ada di sana berebut, dengan lincah tangan mereka bermain, setidaknya mereka bisa naik kelas sama-sama nanti, lalu kuliah pun bersama. “Fey, kamu benar mau jadi Dokter...?” “Kenapa tiba-tiba nanya begitu, Sam...?” “Satria bi-” Sam belum selesai bicara, tapi mulutnya langsung di bekap oleh Satria. Pria itu menyipitkan mata, dia memohon agar sahabatnya itu tidak melanjutkan kalimatnya. “Bukankah dia sepupu kamu...?” Jay menutup bukunya lalu bergabung. “Tepatnya sepupu jauh... dia ingin punya suami Dokter, dan aku akan menjadi Dokter dalam waktu yang lebih cepat, agar kami bisa menikah dengan cepat pula.” Alex menggelengkan kepala. “Dia masih bocah, gila saja kamu, Fey! Anak Sekolah dasar, bro!” ‘Oh...’ jawab mereka berbarengan. Mereka sudah tahu kalau petunjuk yang di dapat sangat jelas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN