Delapan Belas

1478 Kata
“Buruan ngapa, gue udah didepan rumah lo.” “Ih iya-iya sabar…” Gadis berseragam putih abu itu terlihat begitu terburu-buru memakai sepatunya sambil menahan dengan bahu ponsel yang menempel ditelinga kanannya. Setelah berhasil mengikat tali sepatunya dengan sempurna, Gebi segera mengambil tas ranselnya yang menggantung dibelakang pintu kamarnya. Gadis itu berlari kebawah tanpa mematikan sambungan teleponnya. “Lo mau sarapan gak? Biar gue bawain.” Gebi beranjak mengambil roti tawar dan berniat untuk mengolesinya dengan selai cokelat. “Gak usah, sarapan ditukang bubur langganan gue aja. Pokoknya gue tunggu satu menit dari sekarang kalo lo nggak turun juga ya gue tinggal.” Gebi membelalakan matanya, dengan gerakan reflek ia kembali menaruh roti yang ia pegang ke atas piring. Ia segera berlari kearah luar, “Ini gue keluar!” “Jangan lupa bawa helm lo.” Tuttt.. Tutt.. Sambngan telepon dimatikan. Gebi segera berlari menuju garasi rumahnya untuk mengambil helm yang  tempo hari Pandu belikan untuknya. “Yuk!” Gebi langsung memakai helmnya dengan begitu buru-buru kemudian naik keboncengan motor Pandu. “Kurang lama.” Gerutu Pandu. Gebi menyengir, “Buruan gue laper belum sarapan…” Pandu segera melajukan motornya, berjalan menuju lokasi tempat tukang bubur langgangannya berjualan. *** “Akang, dua ya Kang, makan sini. Satunya biasa, gak usah kasih kacang.” Ujar Pandu kepada Akang Asep, si tukang bubur. “Siap Kasep!” ujar Akang Asep yang begitu antusias. “Lo sering makan disini?” tanya Gebi sambil menatap lawan bicaranya sebentar. “Sering, udah langganan gue.” Tukang bubur datang membawa dua mangkuk berisi bubur ayam yang konon favoritnya Pandu. “Saha eta, Ndu?” tanya Kang Asep. “Geulis pisan,” lanjutnya sambil tersenyum sopan. “Temen, Kang.” Jawab Pandu. Gadis disebelahnya langsung tersenyum sambil mengangguk sopan, “Gebi, Kang.” Ujarnya. “Temen apa demen, Ndu?” tanya Kang Asep yang sontak membuat keduanya saling menatap. “Yaudah Akang teh lanjut jualan ya, selamat sarapan.” Lelaki paruh baya itu pergi sambil menggelengkan kepalanya. Kedua remaja itu segera memakan buburnya, ternyata mereka memiliki selera yang sama dalam memakan bubur ayam; tidak diaduk. Hanya saja Pandu tidak suka kacang. “Enak.” komentar Gebi saat ia cicipi sesuap bubur ayamnya. “Kalo gak enak gak akan jadi langganan gue.” sahutnya. Mereka berdua mulai menyantap bubur mereka masing-masing. Keduanya terlihat begitu menikmati bubur buatan Kang Asep itu hingga suapan terakhir. *** Kini seluruh pandangan siswa-siswi GIS tertuju pada pusat perhatian; sepasang cewek dan cowok berjalan beriringan melintasi koridor GIS yang sangat panjang dan lebar itu. “Pada apaan sih ngeliatinnya, emang kita topeng monyet apa ditontonin.” gerutu Gebi sambil berdecak kekesalan. Sedangkan Pandu hanya bisa diam dan terus berjalan tanpa pandangannya menoleh sedikitpun. Hingga akhirnya sampai didalam kelas yang mereka pikir sudah tidak ada lagi tatapan-tatapan yang mengganggu, ternyata seisi kelas pun menatap mereka dengan mengintimidasi. Gebi dan Pandu serentak memberhentikan langkahnya saat tepat berada diambang pintu. Keduanya saling menatap seolah bertanya; “Kenapa sih? Ada yang salah?” “Geb…” Citra menyahut dengan nada tak menyangka. “Kenapa sih?” Gebi masih tidak mengerti dengan pagi ini. Namun Gebi dan Pandu sepertinya tak mau ambil pusing, mereka segera duduk dibangku mereka yang kebetulan juga sebelahan. Baru saja Gebi menaruh tas ranselnya dimeja dan baru saja gadis itu duduk, Citra dan Hanin langsung menariknya, membawanya duduk dibangku panjang yang berada didepan kelasnya. “Gue emang udah kepo dari kemarin niih, kenapa lo sekarang malah deket sama Pandu? Yang awalnya lo gak mau banget ngeliat dia eh malah hari ini kalian dateng berdua. Ini ada apa? Kalian deket?” tanya Citra mengintimidasi. “Deket?” Gebi mengerutkan dahinya. “Atau kalian udah jadian?!” tambah Hanin yang hebohnya tak kalah dengan Citra. “Hah? Kalian berdua pada kenapa sih? Satu sekolah hari ini pada gila kali ya?” Gebi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Cepetan cerita!” “Cerita apa? Gue sama Pandu gak kenapa-kenapa, kok heboh sih?" “Gak mungkin! Masa iya tiba-tiba lo sama Pandu-“ “Gue sama dia ya temenan, sama halnya kaya kalian ke dia. Terus apa yang dihebohin sih?” “Masalahnya semua orang disini pun tau kalo dari awal ketemu tuh kalian gak pernah akur, saling sumpah serapah untuk gak mau sekedar teman pun.” ujar Hanin. Bel masuk berbunyi membuat Gebi tersenyum sambil beranjak dari duduknya, “Masuk, nanti lagi keponya.” ujarnya kemudian meninggalkan Hanin dan Citra yang masih diambang kekepoannya. *** Gadis berambut panjang sebahu itu duduk diantara gerombolan laki-laki populer di GIS. Sambil bercanda tawa ria serta adu gombal yang dilontarkan oleh Habib dan Ciko yang membuat suasana kantin semakin seru. Elsa memalingkan pandangannya saat Pandu datang. “Hai, Pandu.” sapanya begitu ramah. “Hai.” Pandu tersenyum kemudian bergabung ke mereka. “Lu ketoilet apa ke rahmatullah? Lama amat.” ujar Jeri. “Mulut difilter kalo ngomong.” Pandu menyahut. “Kamu mau makan apa?” tanya Elsa kepada Pandu yang justru pandangannya terfokus pada gadis yang baru saja memasuki kantin bersama kedua temannya. “Eh, hmm- nanti aja. Gue belum laper.” jawab Pandu. “Pandu mah gampang Ratu, kalo laper tinggal kekantin walaupun lagi jam belajar.” sahut Habib. “Emang yang lurus cuma gue doang ya disini.” ujar Gibran seraya menaikkan-turunkan satu alisnya. “Najis.” pekik Ciko yang terlihat begitu geli. Mata Pandu rupanya masih terfokus pada gadis itu yang kini tengah duduk dihampit kedua temannya, mereka sedang menikmati mie ayam diseberang sana. Bibirnya dengan reflek tertarik membentuk lengkungan tipis. “Kalian kapan-kapan main dong kerumah kerumah aku.” “Mau banget Ratu, sekalian ketemu calon mertua.” ujar Habib begitu antusias sampai matanya berbinar. “Jangan ajak Habib ah, dia kalo dirumah orang suka numpang boker, malu-maluin kan?” Jeri membuat teman-temannya tekekeh karena ucapannya. “Jangan menjatuhkan gue didepan calon istri gue dong lo, temen macam apa?” sahut Habib berlagak memasang wajah kecewa. “Sa, lo geli gak sih sama Habib?” tanya Gibran yang sudah saking muaknya melihat kelakuan Habib yang begitu menggelikan. Elsa terkekeh, “Sedikit sih, Gib.” “Tuh kan, udah deh Bib lo berhenti kepedean abis kaya gitu. Gue yang cowok liatnya aja geli, apa lagi Elsa.” ujar Gibran lagi. “Ih, kok Ratu gitu sama aku?” Habib merengek bak anak kecil. “Bib sumpah gue jijik.” kini Pandu angkat bicara. “Demi Allah baru ini Pandu komentar tentang keganjenan lo, jadi mending lo stop. b*****t!” ujar Jeri sambil menoyor kepala Habib dengan gemas. Sedangkan dibangku kantin yang tak jauh dari tempat Elsa bersama Geng Killer, ada ketiga sahabat yang sedang asyik menyantap mie ayam seraya bergosip ria. “Tapi jujur baru kali itu Pandu berangkat bareng sama cewek, kalian juga keliatan deket gitu akhir-akhir ini.” ujar Hanin. “Jadi ada yang kemakan omongan sendiri nih? Ehem.” Citra menambahkan. “Ih, enggak! Gue sama dia temenan biasa, dan ya ternyata dia anaknyabaik juga walaupun dinginnya naudzubillah.” Gebi menyahut kemudian melahap me nya lagi. “Nggak lo, nggak Elsa, sama-sama bisa menaklukan Geng Killer dah, salut.” “Apaan sih, lebay.” “Semoga aja mereka jadi gak suka bolos lagi ya semenjak berteman sama lo dan Elsa.” ujar Citra. “Semoga aja tobat.” Hanin menyahut juga. Gebi justru terkekeh. “Sengaruh itukah?” pikirnya. Ditengah obrolan, Gebi baru saja tersadar bahwa diseberang sana ada seseorang yang dengan diam-diam memperhatikannya. Ia menangkap mata itu, dan kedua pasang mata itu bertemu pandang beberapa detik. *** Ruangan besar yang kini dihuni lebih dari 50 orang itu sudah dinobatkan menjadi tempat berkumpul atau basecamp mereka. Geng Killer. Dan malam ini mereka sedang berkumpul disana hanya sekedar untuk bertemu dan bercerita, ada juga yang bermain catur, kartu remi, hingga bermain congklak pun dilakukan oleh mereka dengan menelepon mantan sebagai hukuman bagi yang kalah. Pandu duduk diantara Bani dan Endi, mereka sedang menyaksikan persaingan sengit antara Rafi dan Gibran. “Pokoknya gue megang Gibran.” seru Habib. “Gue Rafi. Ayok Fi, lo bisa! Masa congklak aja kalah, potong aja anu lu.” seru Usman sambil berdecih. “Ah lo bacot, Man!” Rafi menyahut sambil terus fokus menaruh kiong-kiong kedalam wadah. “Nyerah aja, gue yang menang.”Gibran berbicara dengan sombong. “Diem, njing.” ujar Rafi lagi. “Pan, diluar ada Radit.” Ridho muncul diambang pintu, membuat semua aktivitas mereka terhenti. “Ada urusan apa?” ujar Pandu. Yang semula raut wajah Pandu sangat ceria kini berubah drastis menjadi beringas. Ridho menggeleng. Pandu keluar diikuti seluruh anggota Killer. “Ada apa?” ucap Pandu to the point. Cowok yang sedang menyenderi motornya itu langsung menoleh kearah Pandu kemudian ia mendekati mereka. “Gue mau minta maaf atas yang udah terjadi tempo hari. Gue gak tau kalo anggota Satters nyerang Killer disekolah.” ujarnya. “Waktu Jeri sama Ciko nabrak motor gue, gue gak ada ditempat kejadian. Anak-anak pada salah paham dan nyerang Killer tanpa sepengetahuan gue. Gue baru ada waktu buat kesini untuk jelasin ke kalian.” lanjutnya memperjelas. Tidak ada respon dari siapapun setelah pada akhirnya Gibran yang buka suara. “Satters kan emang dari dulu banyak ngelesnya, sok jadi korban padahal pelaku. Suka lucu.” “Perdamaian kita satu tahun lalu gue rasa cukup untuk ngelupain semua yang pernah terjadi antara Satters sama Killer. Gue beneran gak tau soal p*********n itu, gue gak ikut campur.” ujar Radit lagi. “Omong kosong.” Habib menyahut, “Terus mana anggota lo? Kenapa gak ikut kesini?” “Gue kesini tanpa sepengetahuan mereka karena gue gak mau ada keributan lagi, gue takut kalo gue ajak mereka kesini malah memperkeruh suasana.” jelas Radit. “Serius? Gak pada nyumput nih buat bantuin lo semisal lo dikeroyok disini?” sahut Habib lagi sambil tertawa meremehkan. Belum saja Radit membalas perkataan Habib, Habib langsung berkata lagi dengan lantang. “Tapi sorry Killer gak main gituan, kita laki-laki bukan banci.” Pandu menoleh kearah Habib, memberi isyarat agar Habib segera memberhentikan ucapannya. “Killer terima permintaan maaf lo dan lainnya. Gak ada yang mau punya musuh, gue maklumin kejadian kemarin. Killer juga minta maaf karena Ciko sama Jeri udah gak sengaja nabrak motor lo.” ucap Pandu dengan rendah hati. Pandu segera bersalaman dengan Radit kemudian yang lainnya mengikuti. “Makasih. Gue jadi malu karena anggota Satters pada gak bisa sedewasa kalian, gue salut sama Killer.” Radit berucap dengan senyuman segannya. Pandu membalas senyuman Radit, “Kita sama-sama belajar dewasa, Rad.” ujarnya terlihat begitu dewasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN