Setelah Suster menangani Elsa kemudian beliau bilang Elsa hanya kelelahan karena terlalu lama terkena sinar matahari, Suster itu kembali keruangannya. Raut wajah Gebi terlihat cemas sedari tadi, tidak ada kegiatan lain didalam ruang UKS selain memandangi Elsa.
"Jangan khawatir, Suster kan bilang Elsa cuma kecapean." ujar PAndu yang kini mulai duduk di sofa.
Gebi menyusul duduk disebelah Pandu. "Gue tuh tau Elsa dari dulu, dia emang nggak bisa terlalu capek. Tadi gue udah suruh dia buat izin tapi dia gak mau, bandel sih." ujar Gebi yang meskipun cerewet tetapi terdengar jelas bahwa ia sangatlah khawatir.
"Gue keluar bentar ya," ujar Pandu sambil berdiri, langkahnya langsung menuju keluar pintu UKS.
Gebi tak hiraukan itu, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah Elsa, bagaimana Elsa bisa segera sadar; sesegera mungkin.
Setelah beberapa menit Gebi hanya berdua bersama Elsa diruangan itu, pintu UKS terbuka lagi membuat pandangan Gebi menoleh kearah sana.
Pandu berjalan masuk kemudian menutup pintu kembali, ia terlihat membawa sesuatu ditangannya. "Makan dulu," ia memberi roti dan air mineral kepada Gebi.
Bukannya merespon Pandu yang telah berbaik hati, Gebi justru menatap Pandu dengan begitu intens.
Pandu menaikkan satu alisnya seolah berkata; "Kenapa?"
"Tumben baik." kata Gebi akhirnya.
Pandu menghela napasnya jengah, ia langsung melempar roti dan air meneral itu kepangkuan Gebi.
"Aw,"
"Makan, jangan banyak omong." ujarnya begitu ketus.
"Gue gak laper, gak haus." ujar Gebi tak mau kalah ketus.
"Hargain gue kek udah capek-capek jalan kekantin cuma buat beli itu."
"Nggak ada yang nyuruh lo buat beli ini, ya kan?" Gebi menaikan satu alisnya.
Tak mau ambil pusing, Pandu segera mengambil sebungkus roti itu kemudian ia membuka bungkusannya. "Makan." ia menyodorkan roti itu pada mulu Gebi dan mau tidak mau Gebi harus membuka mulutnya.
"Mmm, Pan-"
"Abisin, teman." ujar Pandu dengan penuh penekanan diakhir kata.
Gebi segera mengunyah roti itu dengan terpaksa. Ia mengambil roti dari tangan Pandu, "Reseh lo!"
Tanpa Gebi sadari, Pandu sedang menahan tawanya karena melihat tingkah laku Gebi yang begitu seperti anak kecil.
"Ahh,"
Tedengar suara dari brankar. Ya, Elsa sudah sadar. Ia memegangi kepalanya yang mungkin kesakitan. Gebi dan Pandu segera menghampiri Elsa.
"Sa,"
"Gebi, Pandu,"
"Sa, lo udah nggakpapa?" tanya Gebi dengan penuh kekhawatiran.
Elsa tersenyum meski kini sedang menahan pusing dikepalanya. "Aku baik-baik aja kok." ujarnya begitu lembut yang tanpa sadar membuat seseorang semakin terpana.
"Lo udah gue bilang izin aja sama Pak Subardi, gak denger sih." omel Gebi yang justru membuat Elsa senang bukan main.
"Ternyata Gebi sepeduli itu sama aku.." gumamnya.
"Lo minta Papa jemput aja, istirahat dirumah." ujar Gebi lagi.
"Nggak, aku udah gakpapa kok Geb. Aku mau lanjut sekolah aja." ucap Elsa dengan nada lembutnya.
"Sa, bisa gak sih lo tu sekali aja dengerin gue?"
"Geb, tapi beneran aku gakpapa."
"Kalo gakpapa lo gak bakal ada disini sekarang." Gebi memutar bola matanya malas, "Udah deh, gue balik kelas dulu." ujarnya kemudian beranjak pergi dari sana namun tangan Elsa yang melingkar dipergelangan tangannya membuat ia harus berputar balik lagi.
"Gebi, makasih ya." Elsa tersenyum kearah Gebi.
Gebi menghela napasnya lalu tersenyum tipis, ia segera keluar ruang UKS untuk kemudian meninggalkan Elsa dan Pandu berdua diruang UKS.
"Aku seneng deh Pan, Gebi ternyata sepeduli itu sama aku." ujar Elsa.
"Dia sampe gak makan tuh," ujar Pandu sambil terkekeh.
"Serius?"
Pandu mengangguk. "Mau gue bantu kekelas?" tanya Pandu sambil tersenyum.
***
Cowok berjaket kebangsaannya itu memasuki rumahnya dengan wajah yang begitu suram; hal yang pasti terjadi setiap kali Pandu melangkahkan kakinya kedalam rumah.
"Sudah pulang, Nak? Tumben, biasanya kamu sampai rumah malam." ujar wanita paruh baya yang sedang berkutat dimeja makannn yang sudah hampir terisi sempurna.
Pandu hanya melirik kearah sana sebentar untuk kemudian ia meneruskan langkahnya menuju satu-satunya tempat dirumahnya yang cukup membuatnya nyaman berada dirumah; kamarnya. Ruangan yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi mampu membuatnya selalu mengenang Pahlawan kebanggaannya.
Cowok itu melepas jaketnya kemudian ia duduk dibalkon kamarnya, menatap langit jingga yang sebentar lagi akn berubah menjadi kehitaman. Ia menghela napasnya jengah saat matanya menangkap pemandangan seseorang yang umurnya tidak terpaut jauh darinya, keluar dari mobilnya serta disambut hangat oleh Dinda, Ibunya.
"Sampah." gumamnya sambil mendecih.
***
"Gak apa-apa, Elsa baik-baik aja kok, Pa, Ma." ujar Elsa yang mencoba meminimalisir kekhawatiran Firman dan Erika.
"Kamu juga Gebi, kenapa gak jagain Elsa? Kamu kan tau Elsa terlalu lemah untuk lari dengan putaran sebanyak itu." ujar Firman yang berhasil membuat mata Gebi benar-benar melotot.
"Kenapa jadi Gebi yang salah?" Gebi berbicara dengan nada tinggi.
"Pa, ini bukan salahnya Gebi dong." ujar Elsa yang sangat takut jika Gebi dan Ayah Tirinya bertengkar lagi hanya karena kebodohannya.
"Tapi kalo seandainya Gebi-"
"Elsa aja yang terlalu lemah, lari segitu aja langsung pingsan." Gebi melirik sinis kearah Elsa, "Gue kan yang disalahin? Puas?!" Gebi meninggalkan mereka dengan begitu menahan amarahnya. Langkah Gebi bukan menuju kamar, melainkan menuju keluar rumah.
"Gebi," pekik Elsa. "Pa, ini tuh salahnya Elsa. Tadi Gebi udah nyuruh Elsa buat izin tapi Elsa yang gak denger omongannya."
"Udah Nak, sekarang lebih baik kamu istirahat." ujar Erika yang raut wajahnya begitu puas melihat Gebi yang hari ini kalah 'lagi'.
***
Gadis yang masih berseragam putih abu-abu itu berlari menjauhi rumahnya. Ia benci. Ia benci situasi ini.
Ia berjalan ditrotoar dengan pandangan kosong serta air mata yang mengalir deras. Mengapa ia harus hancur setiap hari? Mengapa ia harus kacau setiap hari? Apakah tidak ada kesempatan sedikitpun untuknya agar dapat merasakan bahagia? Setidaknya satu hari saja,agar ia tidak lupa bagaimana rasanya bahagia.
Gadis itu berjalan tanpa tujuan, ia benar-benar layak disebut gadis kacau yang kehilangan arah, sampai akhirnya satu pengendara motor memberhentika motornya dipinggir jalan, tepat dimana gadis itu melangkah.
"Geb," teriak sipengendara motor itu yang tak lain adalah Pandu Longsadapit.
Gebi memberhentikan langkahnya, menoleh sebentar kemudian ia beranjak berlari namun ternyata gerakan Pandu lebih cepat muntuk menahan tangan Gebi.
"Lepasin!" Gebi memekik sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicekal oleh Pandu.
"Lo ngapain disini?" tanya Pandu.
"Lepasin gue!"
"Gebi, lo ngapain disini?"
"Bukan urusan lo. Lepasin! Kenapa sih lo selalu dateng saat gue lagi pengen sendiri?!"
"Geb, apa lo nggak belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya? Lo itu hampir mati!" ucap Pandu.
Air mata Gebi justru menderas, ia semakin berusaha untuk melepas cekalan Pandu. "Dan seharusnya lo gak usah nolongin gue, seharusnya lo biarin gue mati! Papa gue aja gak peduli gue mau pulang atau engga, kenapa lo yang bukan siapa-siapa gue malah nolongin gue? Lo itu bikin hidup gue tambah hancur aja tau gak?!" teriak Gebi yang membuat beberapa pasang mata mengarah kepadanya.
Pandu menatap Gebi dalam, ia paham sekali bahwa gadis dihadapannya ini sedang rapuh bahkan sudah patah. Pandu menarik Gebi kedalam pelukannya, tak peduli dengan orang-orang yang menjadikan mereka bahan tontonan.
"Gue tau lo lagi gak baik-baik aja, gue paham lo butuh temen untuk keadaan lo saat ini, dan gue siap." bisiknya sambil mengelus rambut halus gadis itu. "Gue gak jarang ada diposisi lo saat ini Geb, jadi lo bisa menganggap gue sebagai orang yang paling tepat untuk lo bagi cerita lo."
***
Disinilah mereka, dibawah pohon rindang yang sangat nyaman jika dijadikan tempat berbagi keluh kesah.
"Pandu," panggil Gebi begitu lembut.
Pandu menoleh kearah Gebi, "Ya?"
"Kenapa lo selalu ada disaat gue kaya gini?"
"Lo yang kenapa selalu melampiaskan kekacauan lo dijalanan, bahaya tau. Kaya nggak punya rumah aja," ucapnya sambil terkekeh kecil.
"Gue punya rumah, tapi gue kehilangan keluarga." ujarnya dengan kekehan pahitnya.
Pandu mulai menatap Gebi dengan penuh pertanyaan dibenaknya.
"Dulu gue sama Elsa sahabat deket, waktu SMP." nampaknya Gebi mulai membuka cerita.
"Kita deket banget sampe orang-orang bilang kalo kita itu kembar. Elsa itu baik banget, dia sayang sama gue begitupun gue ke dia. Waktu Mama gue meninggal, gue sempet depresi dan sempet punya niatan untuk bunuh diri. Gue udah gak ada harapan lagi pada saat itu, gue udah naik ke balkon rumah gue dan mau loncat dari atas sana. Tapi semua itu terhenti karena tiba-tiba Elsa dateng bagaikan malaikat yang nahan gue dan maksa untuk nggak ngelakuin hal bodoh itu."
"Dia nasihatin gue, dia bener-bener ada buat gue, dia kasih banyak masukan buat gue, dia nemenin gue semasa gue depresi dan akhirnya bebas dari depresi. Gue bener-bener gak tau harus ngelakuin apa buat ngebales kebaikan Elsa pada saat itu. Gue sampe-sampe menjuluki Elsa sebagai malaikat penolong gue. Serius."
"Tapi fakta itu dengan sekejap mata lenyap pada saat Elsa nusuk gue dari belakang. Dia bagaikan musuh yang bener-bener nyerang sikis gue."
"Gue bener-bener punya pikiran sebenernya Elsa ini siapa? Dia jahat. Dia gak punya otak. Dia dan Ibunya."
"Setelah Mama meninggal, gue selalu cerita ke Elsa, whatever. Salah satunya adalah tentang gue yang gak rela wanita manapun menggantikan posisi Mama dihati dan dikehidupan Papa. Gue gak rela tujuh turunan."
"Tapi ternyata, Ibunya Elsa sendiri yang akhirnya menikah sama Papa gue. Sahabat macam apa? Gue gak pernah bayangin kalo dia bakalan setega itu sama gue yang baru aja sembuh dari depresi akibat kepergian Mama gue. Gue gak habis pikir sejahat itu Elsa dan Ibunya."
"Pada saat hari pernikahan Papa gue dan Ibunya Elsa, gue pergi dari rumah dan yang jelas nggak menghadiri acara pernikahan itu karena demi apapun gue benci dan sampai kapanpun gue gak akan pernah ngerestuin. Tapi hari demi hari gue lewatin, dan Ibunya Elsa juga udah (dengan terpaksa gue sebut) bahwa dia udah resmi menjadi Ibu tiri gue, gue bisa apa? Sedangkan Papa dengan perlahan coba kasih pengertian ke gue bahwa dia juga butuh sesosok yang mampu ada untuknya setiap saat, gue sempet bilang ke Papa; apa gue kurang untuk selalu ada buat dia? Tapi Papa bilang bukan itu maksudnya, dan Papa kasih pencerahan lagi buat gue dan akhirnya perlahan demi perlahan gue bisa nerima Ibu tiri gue beserta satu anak sulungnya yaitu Elsa."
"Awalnya Ibu tiri gue baik banget, perhatian sama gue, sayang sama gue, bahkan selalu ngutamain gue dibanding Elsa, tapi lo tau? Lama kelamaan dia berubah jadi harimau yang mau nerkam mangsanya. Gue shock, tenyata dia baik cuma didepan Papa gue, selebihnya- dia setan. Dia gak layak disebut manusia. Bahkan dia coba misahin gue dan Papa. Apa itu yang disebut Ibu?"
Mata Gebi berkaca-kaca saat ia menceritakan seluruh latar belakang masalahnya.
Pandu mengelus pundak Gebi, mencoba mentransfer seluruh kekuatan dan ketegaran hati yang ia miliki. Meski akhirnya ia lega karena seluruh pertanyaan yang ada dikepalanya sudah terjawabkan, namun Pandu paham betul bagaimana hancur dan kacaunya berada diposisi Gebi saat ini yang mungkin untuk selamanya.
"Geb, lo liat gak bintang diatas sana?" Pandu menunjuk bintang-bintang yang ada dilangit hitam malam itu.
Gebi menoleh keatas, mengikuti kearah tangan Pandu menunjuk. "Kenapa?" ujar Gebi.
"Dan lo liat bulan itu?" kini jari telunjuk Pandu beralih kearah bulan bulat utuh diatas sana.
Gebi mengangguk.
"Disana banyak bintang, dan cuma ada satu bulan; tapi bulan nggak pernah ngerasa berbeda, bahkan saat semua bintang itu ninggalin bulan, dia gak pernah ngerasa sendiri karena dia lihat kebawah, banyak penghuni bumi yang butuh sinarnya untuk menerangi malam yang sebenarnya lebih gelap dibanding toilet GIS." ujar Pandu yang justru membuat Gebi tertawa karena ucapan terakhirnya.
"Kenapa jadi ke toilet sih? Lo kebelet pipis?" tanya Gebi masih dengan tawanya.
"Terus begini ya Geb," Pandu memandangi wajah Gebi, "Dunia butuh senyum lo, banyak orang butuh kehadiran lo." ujar Pandu yang justru malah membuat Gebi terdiam dan kini mereka saling menatap.
"Gue tau masalah yang lo hadapin jauh lebih berat dari rindunya Dilan ke Milea, tapi gue juga yakin kalo seorang Gebi jauh lebih kuat dari Ade Rai." Pandu tersenyum.
Meski kata-kata Pandu barusan begitu jayus, namun mampu membuat Gebi ikut tersenyum. "Makasih, Pandu."
"Mungkin gue gak bisa bantu meminimalisir semua masalah yang lo punya, tapi gue mampu untuk jadi orang yang selalu ada disaat lo lagi butuh temen cerita." ujar Pandu sambil mengelus puncak kepala Gebi.
"Makasih..." Mata Gebi mulai berkaca-kaca lagi.
Pandu langsung mencegah air mata itu agar tidak jatuh, "Udah, udah, nangisnya udah!"
Gebi terkekeh, "Gue terharu..." ucapnya manja. Dan selanjutnya, kepala yang Gebi perlahan menyandar dibahu Pandu untuk sama-sama mereka menikmati udara malam sambil menatapi bintang, bulan, serta candaan Pandu yang ternyata seorang Pandu bisa sehangat itu. Fakta baru.