Suara sedang memoles lipstick di bibirnya pada pagi hari sebelum jam enam ini. Matahari sudah lama terbit dari ufuk timur. Dia juga sudah lama menyelesaikan ritual mandi, tetapi entah kenapa untuk berangkat ke kelas harus dilaksanakan dalam waktu yang mepet. Ya, itulah Suara Inggisti Rinjani. Lebih suka dikejar waktu, daripada tepat waktu. Enggak seru!
Belajar di Kampung Inggris artinya kamu harus siap-siap bangun di dini hari untuk menghapal vocabulary yang akan disetorkan di kelas jam enam pagi ini. Mau tidak mau, ya, harus. Namanya belajar, belajar tanpa adanya paksaan itu enggak seru! Harus ada cambukkan biar kita bisa dikatakan sama dengan sapi. Tahu kalau sapi itu banyak manfaatnya, ‘kan?
Bagi Suara, hidup menjadi sapi lebih seru dibandingkan sebagai manusia. Manusia itu merepotkan, gampang kehilangan percaya diri dan banyak mau. Dia juga sadar, dia manusia dan semua hal yang menyebalkan itu terkandung dalam DNAnya.
“Suara memang cantik,” ujarnya memuji diri sendiri. Kalau bukan kita, maka siapa yang akan memuji diri ini, ‘kan?
Suara menutup lipsticknya itu, tutupnya sudah sompel. Coba tebak apa perkaranya? Karena Nada ingin mencoba, tetapi tidak dia izinkan. Perempuan satu itu kalau memakai lipstick sering bar-bar. Kadang patah, bahkan semua struktur lipstick bisa lepas dari akarnya.
“Jadi rindu si Malam yang super aneh itu, ‘kan? Dia apa kabar, ya?” monolog Suara seraya beranjak dari kursinya, mengambil tas, lalu mengambil kunci sepeda.
Suara menaiki dan mengendarai sepedanya untuk keluar dari asramanya. Menarik napasnya dalam-dalam karena udara pagi memang selalu seru untuk dinikmati dengan egois. Masih banyak yang belum bangun, tetapi Kampung Inggris jelaslah sudah ramai. Ia menaiki sepedanya, lalu menuntunnya keluar asrama.
“Selamat pagi, Buk Lurah!” sapa seseorang yang sudah mejeng di atas sepeda hitam metalik miliknya. Di dekat gerbang asrama, di samping kios nasi kuning langganan Suara. Silakan menebak siapa yang menyapa itu.
Suara tersenyum manis untuk menyambut sapaan kekasihnya itu, “Selamat pagi, Pak Lurah. Ya, walau Bapak belum dilantik! Hehehe,” balasnya di akhir tawa. Tawa yang diimut-imutkan, jatuhnya menjijikkan.
“Sarapan apa kita pagi ini?” tanya Tio, lalu tersenyum lagi. “Kayaknya saya enggak perlu sarapan, cukup melihat senyum kamu saja saya sudah kenyang.”
Suara mencebik, “Iya, kenyang, tetapi besoknya meninggal karena kelaparan.”
“Enggak, kita bisa bertahan hidup tanpa makan selama tiga minggu, tetapi kalau tanpa minum cuma tujuh hari,” terang Tio sebagai alasan. “Namun, karena saya hidup dengan cintamu, saya bisa bertahan hingga seribu tahun lamanya. Kamu membawa kekenyangan dan kehilangan rasa haus dengan serta merta, Sayang.”
“ADUH, PERUT SAYA KERAM, NIH!” teriak Suara, meringis seraya memegang perutnya.
Tio membanting sepedanya, lalu berpindah ke dekat Suara. “Kenapa?” tanyanya panik, mukanya sudah pias seribu.
Suara mengulum senyum jahilnya, “Keram kebanyakan makan gombalan kamu!” serunya. Seruan yang mendapatkan balasan gelitikan dari Tio. “Tio, ih! Geli, tahu!”
“Salah siapa?” tanya Tio. “Kamu enggak tahu kalau saya paniknya betulan?”
Suara mengangguk kencang, “Saya tahu, kalau kamu mencintai saya dengan sangat betulan bahkan sampai ke bulan, kok!” balasnya, masih mengulum senyumnya.
Tio menyipitkan matanya penuh selidik, “Siapakah yang mengajarkan Suara Inggisti Rinjani untuk menggombal?”
Suara menaiki sepedanya dan tersenyum riang, “Jawabannya adalah Pristio Prasasti!” serunya, lalu dengan cepat mengayuh sepeda merah muda yang sudah ia sewa selama dua belan itu. “Sarapannya di Mbak Nur, ya!”
“Apaan kok kabur!” Tio merentangkan tangannya, lalu mengedikkan bahunya. Heran sekaligus gemas dengan kelakuan kekasih yang ia cintai itu.
“Siapa yang kabur?”
“YAAAKKKKKKKK, KHAYAL TERUSSSSSS!” pekik Nada yang membuyarkan lamunan Suara. Gadis itu sekarang sedang bersedekap di depan Suara.
Suara bersyukur, setidaknya sahabatnya itu hanya muncul dengan teriakan saja. Bukan dengan dorongan, cubitan atau jambakan seperti yang kerap dia lakukan. Bisa masuk rumah sakit selama sebulan dia kalau Nada melakukan hal tidak beradab itu. Namun, sayang ….
“AAAAWWWHHHHHH!” pekik Suara kencang. Lengkingannya bahkan sampai pada telinga ibunya yang ada di dapur. Perempuan paruh baya itu tergopoh-gopoh naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Puspa membuka pintunya dengan wajah yang pias, “Suara, kenapa?”
“Dicub- ….”
“Dia mencabut buku kakinya, Bu!” potong Nada buru-buru. Terdengar cebikan kesal dari perempuan yang ada di sampingnya itu.
Puspa mengelus dadanya pelan, “Oh alah, jangan berteriak sekencang itu, nanti tetangga terkejut, Suara,” nasihatnya. “Malam bilangin sama Suara, ya, Nak.”
“Siap, Bu!” seru Nada dengan gerakan sikap hormat.
“Ibu kembali ke dapur, ya.”
“Iya, Bu,” balas Nada dengan senyum yang manis –dimanis-maniskan.
“Milim bilingin sama Siiri, yi, nik,” cibir Suara setelah Nada menutup pintu kamarnya. Perempuan penjilat itu dengan muka manisnya mengantar Ibunya ke depan pintu. “Cocok sekali kamu itu, kalau jadi penjilat!” semburnya.
“Iya, sih, aku suka jilat permen.”
“Nada Malam Hari dengan nama pulpen Bintang Malam!” seru Suara kencang dan cepat.
“Ada apa, Suara Inggisti Rinjani?” tanya Nada. “Dan, one more yang harus kamu tahu, itu nama pena, bukan nama pulpen. Tanam di benak karatan kamu itu!”
“Kalimat kamu itu ambigu!”
Nada mencebik, “Otakmu itu yang ambigu. Baru ditinggal hampir nikah saja sudah begitu!”
BRUK!
“SUARA!” pekik Nada. Iya, benar, bunyi makhluk jatuh itu tadi berasal dari tubuh naasnya yang terjengkang karena dorongan romantis penuh nafsu membunuh dari Suara. “KALAU BOKONGKU PINDAH KE PERUT, GIMANA, HAH!” pekiknya frustasi.
“YA, TINGGAL OPERASI TERUS PINDAHIN KE TEMPATNYA SEMULA, LAH!” balas Suara tak kalah nyaring.
“KALAU OPERASI AKU GAGAL, BAGAIMANA, HAH!”
“YA, KAMU JADI MANUSIA ANEH DAN SAYA TINGGAL MENYESAL.”
“STRESS!”
“BAGAIMANA SAYA ENGGAK STRESS, LAM? SAYA INI BARU SAJA MENGETAHUI FAKTA YANG MENYAKITKAN, GARA-GARA TI- … ARGH!” ujar Suara menggebu, di akhiri pekikan nyaring. Coba tebak, siapa yang menjadi penyebabnya?
Nada lah!
“NADA, LEPAS!” pekik Suara saat Nada masih dengan menggila mencubiti tangan naasnya.
Untuk informasi, sahabatnya itu sebenarnya tidak suka dipanggil Nada. Karena, panggilan itu berlaku untuk orang-orang yang tidak terlalu akrab. Jelasnya, berlaku untuk sebuah keformalan. Sementara Malam, panggilan itu berlaku di lingkungan keluarga, sahabat dan orang-orang yang sudah bersusah payah mengakrabkan diri dengan Nada.
Nada itu … aslinya sangat cuek!
“Apaan kok manggilnya Nada?”
“Cuma cara itu yang bisa saya lakukan supaya bisa lepas dari tangan berbisa kamu itu! Dan seingat saya kamu pernah minta saya membiasakan diri untuk memanggil kamu Nada, ‘kan?”
“ENGGAK ADA!” seru Nada. “Lagi pula, kenapa, sih, kamu harus ingat laki-laki buaya darat korengan itu terus?” tanyanya dengan suara yang penuh dengan DNA kebencian.
“Bagaimana saya bisa lupa cara dia menyakiti saya, Lam? Jahat, tahu!”
Nada memutar bola matanya, “Terus, apa karena dia jahat, kamu pikir kamu bisa mendapatkan gelar baik di hubungan kalian?” tanyanya satire.
Suara mengernyitkan dahinya, “Hah? Enggak paham.”
“Ra,” panggil Nada. ‘Ra’ adalah panggilan saat perempuan jahat itu sedang serius. “Aku percaya dan memegang prinsip sebab dan akibat,” ujarnya dalam dan dingin. Artinya dia sudah memaksimalkan mode seriusnya. “Tidak ada satu kejadian tanpa ada pemicunya. Mungkin sebelum kamu menghakimi dia berulang-ulang begini, cobalah untuk mengkoreksi diri sendiri. Aku enggak ada maksud untuk menggurui kamu, tetapi terkadang kita kerap alfa sama sikap kita pada orang lain,” paparnya.
Suara memejamkan matanya cukup lama, mengumpulkan energi yang baru saja bubar jalan karena kalimat Nada. Kalimat yang sukses meluluhlantakkan egonya.
“Iya, Lam,” jawab Suara. “Tetapi apakah dijadikan selingkuhan, dijanjikan pernikahan, dibilang nyaris menggagalkan perjodohan itu adalah akibat dari perbuatan aku menyakitinya? Selama ini, aku sudah berusaha sebaik mungkin jadi kekasih yang pantas dan cocok untuk dia.”
“Lalu, apa kamu pikir sebab yang ada itu datangnya dari dia?” tanya Nada lagi.
“Hah?”
“Ra, begini,” ujar Nada seraya membenarkan posisi duduknya. “Kamu itu hidup di dunia ini sudah dua puluh tiga tahun dan hubungan kamu sama Tio itu belum sampai setahun. Masih ada dua puluh dua tahun lain yang bisa menjadi sebab dari akibat yang kamu terima. Bisa jadi, sakit yang kamu rasakan saat ini adalah hasil dari perbuatan kamu menyakiti orang lain sebelum ini. Sakit itu menghimpun dan ini adalah balasan yang kamu terima.”
Suara diam sejenak, mengambil napas, lalu membalas, “Apa harus sampai saya berniat akan bunuh diri, Lam?” tanyanya. Dia tidak memberitahu Nada tentang apa yang sebenarnya mencegah prosesi bunuh dirinya, malu.
Nada mendengus, “YA, ITU KAMU YANG JELAS-JELAS b**o!” serunya. “Gabut banget kamu mau bunuh diri cuma gara-gara laki-laki yang bernama Pristio Prasasti itu!”
“Lam, kamu itu enggak ngerasain sakitnya saya. Kamu bahkan belum penah pacaran, ‘kan?”
“Ra, aku memang belum pernah pacaran, lalu apa kamu lupa siapa aku? Ya, bukan siapa-siapa, sih! Hehe.”
“Apaan, sih!?”
“Ra, saat ini posisiku adalah manusia yang bisa berpikir rasional, tanpa bumbu cinta dan kebencian. Pikiran dan ucapanku saat ini adalah pikiran dan ucapan yang akan kamu lakukan jika kamu sedang berpikir rasional atau kamu sedang enggak jatuh cinta sama seseorang. Aku jamin, kamu juga akan mengatakan apa yang aku katakan barusan.”
“Lam ….”
“Patah hati itu boleh, manusiawi, tetapi enggak dengan bertindak bodoh, Ra. Dengan kamu memilih untuk nyaris bunuh diri itu artinya kamu bodoh. Kenapa? Kamu itu perempuan dan manusia yang diberikan akal dan pikiran. Gunakan! Jangan bersikap impulsif hanya dengan alasan disakiti laki-laki. Dia hanya akan berbela sungkawa atas kepergianmu, sedih juga paling hanya seminggu. Setelah itu, dia tetap melanjutkan hidupnya. Sementara kamu, harus berhadapan dengan malaikat yang mencatat amal-amalmu. Kamu juga harus memikirkan alasan paling logis kenapa kamu bunuh diri pada Tuhan. Masa karena laki-laki? Yang ada, kamu ditertawakan di akhirat sana.”
“Malam ….”
Nada mengangguk, “Iya, Ra, aku paham. Kamu pasti sakit hati banget-banget dengan kenyataan yang baru saja kamu dapat. Kamu yang selama ini menyemangati dia kalau dia sedang terpuruk, kamu yang selalu ada untuk dia, siap pasang badan demi dia, harus disakitkan dengan cara begini. Bahkan, kamu meminjamkan dia uang untuk pulang, yang ternyata uang itu adalah jalan kamu menyatukan dia dengan perempuan itu,” nasihatnya.
Suara bergerak dan memeluk Nada erat-erat. Menumpahkan segala tangisannya pada bahu sahabatnya itu, lagi dan lagi.
“Enggak apa-apa, anggap saja apa yang sudah kamu lakukan adalah pengorbanan terakhir yang kamu berikan untuk dia. Ikhlaskan, Tuhan mau kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Tio. Dan, jangan pernah menyumpahi yang jahat-jahat untuk dia. Apa yang kamu rasakan ini adalah akibat dari sebab yang pernah kamu lakukan dulu. Maafkan diri kamu, maafkan orang yang menyakiti kamu, berbahagialah.”
***
Terima kasih karena sudah mengklik cerita ini.