4. Jembatan Lama

1332 Kata
“ARGH!” Suara berteriak nyaring saat mimpi buruk itu hadir di dalam tidurnya lagi. Sudah seminggu dan mimpi itu tetap sama temanya. Tiga hari yang lalu, masih ada Nada di sini, tetapi sahabatnya itu pulang ke rumahnya karena ada tugas yang harus diselesaikan. Jadilah, sekarang dia tidur di kamar ini sendirian dan menghadapi mimpi itu juga sendirian. Suara bangkit dari tidurnya, lalu mengambil telfon genggam yang ada di nakas. Melihat jam sebentar, jam empat tiga puluh pagi Waktu Indonesia bagian Tengah. Dia menarik napasnya dalam. Mimpi itu masih berputar-putar di otaknya. Tidak hilang, walau ia membenturkan kepalanya sekalipun. “SUARA!” teriak Puspa, ibunya yang baru saja selesai mengambil wudhu untuk salat. Berteriak nyaring saat anaknya itu dengan kalap berlari, hingga ke luar rumah. “Pak, Ara, Pak!” panggilnya panik. *** Kesiur angin pagi di pantai amal membuat suara mengantuk dan tertidur di pasir jelaslah pilihan yang buruk. Sejauh mata memandang, hanya hitam yang dapat dipandang. Walau sesekali, lampu yang terpasang di mercusuar menunjukkan kemerlapnya. Bahkan, hanya sebagai titik berwarna di tengah lautan yang kelam. Adakah ikan hiu yang memiliki taring tajam di sana? Seandainya jika dia menceburkan diri sekarang, bagamana nasib nyawanya akan berakhir? “Kenapa saya harus berkenalan dengan laki-laki yang bernama Pristio Prasasti itu?” monolog Suara saat kakinya sudah menginjak pasir pantai. Ia edarkan penglihatannya ke seluruh sisi yang bisa dia jangkau. Ujung ke ujung dan itu tetap lautan. Beberapa juga ada pondokan pedagang penjual jagung bakar. Siap dinikmati jika hari sudah sore. Menyaksikan senja yang tenggelam. Jika saja perasaan itu masih baik-baik saja. Seandainya pula Tio tidak memperlakukan dia seburuk ini. Dan jelas, pondokan itu belum akan buka sepagi ini. Suara mengembuskan napasnya kasar. “Kenapa sembilan bulan yang lalu saya harus pergi ke Kampung Inggris?” sambungnya. Ia berjalan ke arah Jembatan Lama, jembatan yang jalannya lurus ke laut, laut Pantai Amal yang sangat eksotis. Ditambah dengan dinginnya dini hari ini. Namun, apalah arti udara yang dingin untuk orang yang sedang hancur hati dan bingung pikirnya? Sudah beku, ditambah pula kadar padatnya. Maka akan menjadi jenuhlah ia. “Kenapa saya harus belajar jauh-jauh ke Kampung Inggris, hanya untuk mematahkan hati saya di sana?” Air matanya satu persatu menetes, tidak ia seka, tidak pula ia hentikan. Lagi pula, siapa yang akan peduli dengan air matanya yang luruh? Tio yang begitu tulus dia cintai saja berani berbuat sejahat itu, ‘kan? Suara menginjakkan kakinya di tangga pertama untuk menuju Jembatan Lama ini. Jembatan yang sering dia gunakan untuk lari-larian saat kecil dulu. Jembatan yang menyimpan banyak kenangan. Sekarang, jembatan yang penuh tawa itu harus merekam kenangan terakhir yang berisi duka miliknya. “Lagi pula, kenapa saya harus lahir, ya?” “Kenapa saya harus bertemu dengan laki-laki sejahat Tio? Bahkan, sampai harus jatuh cinta sedalam ini terhadapnya. Sebenarnya apa, sih, salah saya di dunia ini? Apa saya pernah menyakiti seseorang? Apa saya pernah melukai sampai orang merasakan luka seperti yang saya rasakan saat ini?” monolognya bersambung dengan banyak pertanyaan yang membingungkan. Langkah kakinya ternyata sudah sampai di ujung jembatan ini. Cepat sekali untuk ukuran jembatan yang panjang. Memangnya, ada kenormalan untuk hidupnya yang sudah tersedia dengan tidak normal ini? Tidak, ‘kan? Suara menghembuskan napasnya lagi. PLUNG! Suara melemparkan telfon yang dia bawa ke laut. Biar saja. Biar saja tidak ada orang yang akan menemukannya. Hilang tanpa jejak mungkin lebih baik untuk situasi ini, ‘kan? Gelap seketika, dia sudah tidak bisa melihat apa-apa kecuali kesiur angin yang menerpanya, menandakan dia masih hidup. Juga suara ombak yang berdebur, artinya telinganya masih berfungsi. “TIO, KENAPA KAMU JAHAAATTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!” pekiknya nyaring. Berharap suaranya sampai ke ujung samudra. Mengetuk telinga laki-laki yang saat ini mungkin sedang tertidur lelap. Laki-laki yang tadi dia sebutkan namanya. “KALAU SAJA KAM- ….” “Heh, berisik!” sungut seseorang memotong teriakan Suara. Suara bergidik, “Ya Tuhan, kenapa saat saya mau bunuh diri harus dipertemukan dengan hantu, sih?” tanyanya dengan suara yang bergetar. Suara melihat ke sekitarnya, percuma, karena tidak tampak apa-apa. Sekarang, dia menyesal karena sudah melemparkan telfon genggamnya. Mungkin, sekarang sudah jadi santapan hiu bergigi tajam. ‘Kan kalau tidak dilempar, telfon itu bisa dia gunakan untuk memoto hantu yang barusan meneriakinya. Terdengar suara itu berdecih, “Sama hantu takut, tapi mau bunuh diri berani.” Derit papan kayu yang menjadi dasar dari jembatan ini terdengar. Seperti ada yang bergerak di atasnya. Entah ke mana, gerakan itu seperti sedang berjalan. Artinya dia memiliki kaki, kakinya menapak dan dia bukan hantu, ‘kan? Suara mengaktifkan keawasannya pada sekitar, bukan tidak mungkin siapapun yang saat ini berbicara dengannya adalah seorang penjahat. “Kamu siapa?” tanyanya tegas. “Katamu saya hantu?” Suara berdecak sebal. “Kamu kenapa?” “Saya mau bunuh diri,” ucap Suara, yang sekarang terdengar ragu. “Atau, kamu malaikat pencabut nyawa, ya?” Terdengar kecapan lidah penuh kejengkelan dari suara itu. “Jangan bunuh diri, ingat, kamu masih punya banyak dosa.” Suara membelalakkan matanya, siapa orang ini bisa menceramahinya begitu? “MEMANGNYA KAMU PIKIR SAYA AKAN MENDENGARKAN KAMU?” “Dari tadi kamu itu sudah mendengarkan saya,” jawab seseorang di sana dengan tak acuh. Suaranya laki-laki, Suara baru sadar akan itu. Suara yang berat dan menenangkan, jika saja didengarnya dengan telinga yang pemiliknya sedang baik-baik saja. “SEKARANG SAYA ENGGAK MAU DENGAR KAMU!” pekik Suara kencang. Pekikan yang juga bertujuan untuk menghempaskan segala keluhnya selama ini. “Tapi masih kamu jawab pertanyaan saya.” “SAYA ENGGAK DENGAR!” “Dan kamu masih jawab.” “SAYA ENGGAK BAKAL JAWAB LAGI!” “Ck.” Terdengar hembusan napas penuh kekesalan di sana. “Lagi pula, apa yang mau kamu lakukan sedini hari ini pergi ke sini? Tidak punya rumah untuk pulang?” “Kamu pikir pertanyaan itu enggak berlaku untuk kamu?” “Saya mau menyaksikan matahari terbit.” Bunyi deritan papan terdengar lagi, artinya manusia, yang entah manusia betulan atau bukan, itu sedang berjalan lagi. Suara nyaris tertawa mendengar jawaban yang sangat tak acuh itu. Dia menghentikan niatnya karena laki-laki di depannya –semoga benar di depannya menjawab dengan kecuekan tingkat tinggi. “Menyaksikan matahari terbit itu serunya di gunung, bukan di pantai.” Manusia aneh, sambung Suara dalam hatinya. Sebenarnya ingin dia lanjutkan dengan lebih ketus, tetapi taruhannya makhluk yang ada di sekitarnya ini adalah hantu. Hantu yang akan memunculkan sosoknya tiba-tiba. Suara akan kaget dan memilih melompat ke lautan. Tidak lucu kalau rencana bunuh dirinya tertukar dengan tewas karena dikagetkan oleh makhluk astral, ‘kan? “Memangnya kamu pikir saya peduli dengan pendapat kamu?” “Kalau kamu enggak peduli, kenapa juga kamu tahan saya untuk bunuh diri?” “Coba kamu pikir, kalau kamu bunuh diri di sini, ada jejakmu di sini. Sudah jelas saya yang dicari sama petugas. Bahkan, kamu mati pun sudah merepotkan orang yang tidak kamu kenal. Sadar, dong! Lagi pula, masih muda sudah ada niat untuk bunuh diri.” Terdengar suara dengusan kencang. “Kalau tua nanti bagaimana?” “Heh!” seru Suara. “Memangnya kamu pikir, kalau ada orang yang bunuh diri saat muda, umurnya akan sampai tua? Dia sudah meninggal!” “Iya kalau dia berhasil bunuh diri, kalau enggak? Malu! Sudah capek-capek, sudah buat drama, sudah mencemplungkan telfon ke laut, eh gagal meninggal. Mau ditaruh di mana mukamu kalau begitu, hah!?” Suara mendelik, “Kamu kenapa, sih! Kok sewot!” “Suara teriakan kamu itu sudah menginterupsi ketenangan saya menanti matahari terbit. Sadar!” Bunyi dengusan yang lebih kencang hadir sebagai akhir yang baik dari kalimat nyelekit itu. “Saya pikir hanya saya yang mau dan bisa pergi ke sini dini hari, eh, ada orang yang enggak kalah juga gilanya!” sambungnya tanpa salah. Ingin Suara menampol sedikit saja wajah manusia yang kalimatnya menyakitkan itu, tetapi dia tahan. Dia masih memikirkan nasib kehidupannya jika nanti ada berita dengan headline: dua manusia lawan jenis berkelahi di Jembatan Lama pada dini hari hingga sama-sama tewas. Enggak keren! “Ya sudah, saya pergi!” putus Suara. “Ya sudah, bagus! Artinya kamu enggak perlu bunuh diri.” “Saya sudah enggak ada niat bunuh diri, kamu itu sudah meruntuhkan tekad saya! Sebal saya sama kamu!” “Alhamdulillah, artinya kamu beruntung bertemu dengan saya.” “Ish ….” Suara teringat akan telpon genggam yang baru saja dia lemparkan ke laut, menyesal. “Dah lah, saya mau pulang!” serunya, lalu melongos pergi. “WAALAIKUMSALAM!” sindir laki-laki yang tadi berhasil membuat Suara urung bunuh diri. “Perempuan aneh, kita akan ketemu lagi!” *** Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN