3. Hari-hari Berikutnya

1367 Kata
Dua hari berlalu sejak fakta itu terungkap, Suara masih asyik mengurung dirinya dalam lamunan dan pertanyaan atas hubungannya yang kandas dengan tragis. Berkali-kali dia menyapa tanya dalam renungnya, tetapi jawab tak juga muncul di nyatanya. Ingin ia berhenti bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu bersikap mandiri dengan cara muncul sendiri. Menghantuinya tiap hembusan napas ia ambil, ingin rasanya Suara berhenti bernapas demi menghentikan munculnya perasaan-perasaan itu. Kalau apa yang saat ini dirasakan Suara bisa disebut sebagai orang gila, maka sudah di rumah sakitlah dia sekarang. Sayang, orang-orang masih menganggap patah hatinya adalah kenormalan. Dan akan dikatakan berlebihan jika ia sampai depresi dan benar-benar masuk ke rumah sakit jiwa. Padahal setahu Suara, patah hati itu bisa memutuskan beberapa syaraf yang menyokong kewarasan seseorang. Benar, ya, penilaian orang terkadang banyak salahnya. Menyambut senja di sore hari dengan merenung di balkon kamarnya adalah kegiatan yang dua hari ini selalu Suara lakukan. Merasakan sepoi angin menerpa wajahnya, juga sesekali mendengarkan bising truk pengangkut batubara. Cukup untuk menenangkan kemelutnya yang sudah menggunung tak terkira. Walau itu hanya bertahan selama satu menit di tiap waktunya. Suara mengambil catatan yang sebenarnya jarang dia pergunakan. Namun, kali ini ia ingin membubuhkan sesuatu di sana. Walau apa yang nanti dia tuliskan tidak seindah untaian kalimat yang kerap Nada ciptakan, tetapi tidak apa-apa. Ia ingin mencari jalan baru untuk menumpaskan semua patah hati yang menyapanya selama ini. Kalau saja Suara berhasil menemukan jalan itu. Tarakan, dua hari setelah semuanya dimulai dan dibuat selesai. Suara tersenyum dengan kalimat yang baru saja susah payah dia tuliskan, ternyata dirinya ini puitis juga. Sepertinya esok-esok ia harus mengajukan proposal berlatih menulis pada Nada, siapa tahu saja suatu saat nanti dia akan bisa mengalahkan perempuan bar-bar itu. Hari-hari berikutnya adalah sepi yang tidak bisa dikilokan beratnya. Juga menjelma sunyi yang tidak terukur volumenya. Sekaligus menjadi redup yang tak terindahkan datangnya cahaya. Menambah sempurna dengan hadirnya kelam yang tak tersentuh dengan temaram. Hari-hari berikutnya adalah air mata yang tak tahu kapan akan berhenti tumpah. Tawa yang tenggelam dan tak ada jawaban kapan kembali ke permukaan. Binar mata yang sayup dan tak mengerti kapan kembali berpendar. Hari-hari berikutnya adalah langkah kaki yang berjalan patah-patah, menuju tuju yang entah di mana rimbanya. Tangan yang palai untuk memegang, bahkan untuk menggenggam dirinya sendiri pun tak bisa. Napas yang tersendat, juga sesak yang hadir dalam d**a. Hari-hari berikutnya adalah hari peringatan tentang rindu-rindu yang tak sempat menjumpai tuannya. Tak sempat diperkenalkan dengan rindu baru yang hadir sebagai sebuah balas. Tak menentu terbang arah tujuan, tanpa arah dan masih menunggu jawaban. Hari-hari berikutnya adalah saya yang menjalankan semua itu. Gadis yang patah hati, Suara. Suara menghentikan tulisannya, ia tidak punya tenaga untuk melanjutkannya lagi. Tangannya sudah gemetar, ia pandangi tangan yang sempat tergenggam erat itu. Maka, makin luruhlah air matanya tak terkira. Kenapa semua yang terjadi harus seperti ini? Apa kejahatan yang pernah dilakukannya sehingga harus menerima balasan sesakit ini? “Apa memang fakta ini diciptakan untuk saya nikmati? Atau dibuat untuk membiarkan saya berakhir mati?" Suara dengan tenaga yang tersisa mengambil dan merobek lembaran kertas berisi puisi yang barusan ia ciptakan dari bukunya. Melipatnya menjadi serupa pesawat-pesawatan yang sempat ia lombakan bersama Nada saat mereka kanak-kanak. Walau kali ini bentuknya jelas tidak sempurna. Suara memandangi hasil karyanya tersebut, “Kau mau terbang?” tanyanya. “Saya terbangkan kamu ke angkasa, kalau nanti kamu jatuh ke tanah, kamu bisa merasakan sakit yang saya rasakan juga. Iya, kan?” sambungnya lagi. Suara melepaskan napasnya dengan cukup terpaksa, lalu ia kembali memandangi pesawat-pesawatan yang ada di tengannya. Beberapa kali ia membaca ulang potongan-potongan kata yang ada di permukaan. Dan, air matanya menetes lagi. “Apa patah hati harus diciptakan sesakit ini, ya?” Suara menatap senja yang perlahan akan tenggelam. “Dulu, sewaktu baru mengenal cinta, rasanya tidak sehancur ini.” “Apa ini yang dinamakan patah hati sebagai orang yang sudah dewasa? Kalau tahu begini, saya akan minta sama Ayah untuk selalu menjadi anak kecilnya saja. Andai saya bisa.” Suara menerbangkan pesawat-pesawatannya dengan sekuat tenaga, setelahnya tangannya hanya terkulai lemah. Ia terduduk di atas kursi plastik yang ada di balkonnya, menatap kosong pada langit yang sudah mulai memerah. Sebentar lagi pertunjukkan senja paling indah akan ditampilkan di cakrawala. Andai saja mata yang menerima lebih baik, pasti saja pemandangan ini akan amat dinikmati. Namun, mata itu tengah meluruhkan air matanya deras-deras. Suara menangis, lagi. *** Setelah puas merenung dan mencoba membuang pikiran-pikirannya, walau tidak bisa-bisa, Suara kembali masuk ke kamarnya. Sudah dingin juga udara di luar sana. Walaupun sebenarnya ia masih ingin berlama-lama, memandangi pantai dengan temaram malam yang indah. Sayang, tubuh rentannya ini sudah menggigil terpapar angin malam dan patah hati. Ia naik ke atas ranjangnya, lalu membaringkan dirinya di sana. Suara menatap langit-langit warna abu-abu kamarnya, tercetak muka Tio di sana. Ingin rasanya ia melempari langit-langit itu dengan batubata. Sayang, ia tak memiliki batubata dan dia juga tidak tega bila harus menghancurkan langit-langit kamar ciptaan ayahnya. “ARGHHH!!!!” *** Tarakan, dua hari setelah semuanya dimulai dan dibuat selesai. Laki-laki itu tersenyum dengan kalimat yang baru saja dia baca, sangat cukup untuk menggugah hatinya. Hari-hari berikutnya adalah sepi yang tidak bisa dikilokan beratnya. Juga menjelma sunyi yang tidak terukur volumenya. Sekaligus menjadi redup yang tak terindahkan datangnya cahaya. Menambah sempurna dengan hadirnya kelam yang tak tersentuh dengan temaram. Hari-hari berikutnya adalah air mata yang tak tahu kapan akan berhenti tumpah. Tawa yang tenggelam dan tak ada jawaban kapan kembali ke permukaan. Binar mata yang sayup dan tak mengerti kapan kembali bercahaya. Hari-hari berikutnya adalah langkah kaki yang berjalan patah-patah, menuju tuju yang entah di mana rimbanya. Tangan yang palai untuk memegang, bahkan untuk menggenggam dirinya sendiri pun tak bisa. Napas yang tersendat, juga sesak yang hadir dalam d**a. Hari-hari berikutnya adalah hari peringatan tentang rindu-rindu yang tak sempat menjumpai tuannya. Tak sempat diperkenalkan dengan rindu baru yang hadir sebagai sebuah balas. Tak menentu terbang arah tujuan, tanpa arah dan masih menunggu jawaban. Hari-hari berikutnya adalah saya yang menjalankan semua itu. Gadis yang patah hati, Suara. Laki-laki itu tersenyum lagi untuk membaca kalimat terakhir yang tertera di kertas lusuh yang baru saja ditemukannya. Orang-orang bilang kalau patah hati akan menciptakan seseorang yang menjelma sebagai pujangga yang paling menderita di dunia. Dan, setelah membaca kertas ini, ia akan membenarkan stigma yang sudah beredar di masyarakat tersebut. “Kenapa puisi dan patah hati selalu menjadi identik? Apa mereka sudah diciptakan menjadi saudara?” tanyanya pada diri sendiri. “Kalau puisi dan patah hati adalah sahabat sejati, bolehkah saya menciptakan banyak puisi untuk mengobati patah hati ini, Lam?” Ia menarik napasnya dalam, lalu mengembuskannya lamat-lamat. Bayangan tentang tawa gadis bergigi gingsul dengan rambut yang pirang alami itu merasuk ke dalam kepalanya. Termasuk di dalamnya adalah semua hal yang sempat mereka lewati bersama-sama. Untuk waktu yang sudah berlaju lama, ia masih berharap sebuah keajaiban akan tiba. “Apa doa-doa saya untukmu bisa kau dengarkan, Lam? Sebagai bisikan di tengah malam atau sebagai kado baik di siang hari.” Ia memicit batang hidungnya karena tanpa sengaja air matanya meluruh. Bukannya benar tanpa sengaja, karena seingatnya dia sudah berkali-kali menangis untuk gadis yang masih setia menempati posisi terbaik di hatinya itu. Air mata itu tidak ingin berhenti, justru makin hari semakin geras mengalirnya. “Semoga keajaiban itu ada, Lam.” *** Suara membelalakkan matanya dengan napas ngos-ngosan. Lalu, ia menoleh ka arah jam yang tersimpan di nakasnya. Tepat tengah malam, artinya baru terhitung tiga jam dia tertidur dengan mimpi buruk. Seminggu sudah berlalu dan mimpi itu masih saja sama buruknya. “Apakah semesta sekarang ini tidak bisa memvariasikan mimpi yang masuk di otak saya?” tanyanya. “Kenapa juga itu-itu selalu? Semesta harusnya tahu kalau saya ini tidak mau.” Suara menarik napasnya dalam-dalam, lalu kembali bersembunyi ke dalam selimutnya. Berharap ia akan tertidur nyenyak dan mimpi itu sudah berakhir mendatanginya. Sungguh, hari-hari berikutnya ingin ia habiskan dengan tenang. Semoga semesta mendengarkan dan mengabulkan harapnya yang satu itu. Semoga. Suara memejamkan mata, kemudian menarik napasnya berulang kali. Mencari tenang untuk membawanya kea lam mimpi, yang selalu ia harapkan bisa lebih baik dari kenyataan yang sekarang sedang ia hadapi. Semoga. *** Terima kasih karena sudah mau membaca cerita ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN