2. Cerita di Malam Hari

1461 Kata
“Halo, Tio, kenapa?” tanya Suara saat telfon genggam itu sukses berteriak nyaring di malam yang sudah gelap ini. Malam memang gelap, tetapi Kampung Inggris tetap hidup. Apalagi ini malam minggu. “Saya mau ketemu kamu, sudah rindu.” Ucapan suara laki-laki di seberang sana terdengar pasti. Pasti untuk membuat jantung perempuan yang mendengarnya jumpalitan. Suara berkali-kali menarik napasnya demi menjaga agar pasokan oksigen di paru-parunya tidak kosong. Bisa mati dengan tubuh beku dan biru bila saja itu terjadi! “Saya belum mandi, Tio.” Suara menjawab seraya tersenyum simpul. Bingung harus jawab apa. Dan, entah kenapa kalimat barusanlah yang keluar. “Apa mandi itu penting untuk seorang Suara? Enggak, ‘kan? Pasti. Hahahaha.” Suara mencebik, “Ish.” Dia menggingit bibirnya yang tidak tahan untuk mendulang senyuman. “Saya sudah di depan, sini kamu keluar. Kita makan sate kesukaan kamu. Saya yang bayar!” Suara mengangguk, lalu ketika sadar kalau Tio tidak mungkin bisa melihat anggukkan kepalanya. “Iya, sebentar,” jawabnya segera. “Memangnya kamu mau ngapain?” “Pakai lipstick.” “Kayak bisa saja!” “Iya, saya bisalah. Sebentar, ya ….” “Sudahlah, enggak perlu dandan. Kamu mau terlihat cantik waktu ketemu aku, ‘kan? Tapi saya takutnya kamu justru menjelma penari ronggeng.” TUT! Suara mematikan sepihak sambungan telfon mereka, sebelum suara tertawa Tio menambah suhu di pipinya. Membuat semu merah semerah tomat matang. Juga membuat jantungnya harus loncat dari peraduannya. Jangan sampai itu terjadi. Tio, sih! Aduh, kenapa dia harus ditakdirkan memiliki kekasih seromantis laki-laki itu, sih? Dia beranjak ke depan cermin minimalis dengan ukuran yang hanya tiga puluh sentimeter persegi itu. Cermin yang berhasil ia ambil paksa dari Nada, sebelum dia berangkat ke Kampung Inggris. Suara sadar, cermin itu adalah cermin kesayangan sahabatnya, makanya dia percaya kalau cerminnya punya tuah. Walau efek yang harus dia dapatkan adalah dimaki-maki seribu kali oleh Nada. Suara memoles bibirnya dengan lipstick, yang sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa. Karena, lipstick yang dia gunakan adalah lipstick yang menyesuaikan warna bibir penggunanya, mengandung pelembab dan Suara hanya memolesnya sekali. Inikah yang Tio katakan menor itu? Buta dia! “Hai!” Suara datang menemui Tio di depan asramanya dengan sepeda merah muda sebagai kendaraannya. Menyapa kekasihnya itu dengan selekas senyum yang tak pudar, justru semakin memekar saat wangi Tio sudah tercium baunya dari radius yang jauh. Tio memperhatikan Suara dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas dengan seksama. Tatapan mata intens itu sukses membuat yang ditatap menjadi salah tingkah dan bersemu merah. Tio tersenyum, cinta yang baru dia resmikan dua bulan lalu itu ternyata semakin cantik. “Tuh, ‘kan! Suara mirip seperti penari ronggeng dengan bibir merah membara,” ledek Tio. Namun, walaupun secantik apapun, Suara tidak pernah lepas dari guyonannya. Suara membesarkan pupil matanya, “Tio! Ini warnanya merah muda, bukan merah membara. Kamu ini buta warna, ya?” protesnya. Lalu, ia memalingkan muka karena kesal. Tio tertawa mendapati tingkah kekasihnya yang menggemaskan itu. “Ya, bagaimana aku tidak buta dengan kesilauan bidadari semanis kamu?” gombalnya, yang lagi-lagi membuat pipi Suara bersemu semerah tomat matang. Suara melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, jam berwarna coklat dengan motif ukiran pemberian Tio. “Kayaknya sebentar lagi kios satenya mau tutup, nih!” sindirnya. Selain karena dia malu diberi gombalan terus menerus oleh Tio, sejujurnya dia juga sudah lapar sekali. “HEH!” Seseorang berteriak membubarkan semuanya. BRUK! Suara terjatuh dengan tragis. “KAMU MELAMUN, HAH? MELAMUNIN APA?” “MALAM! GILA KAMU!?” pekik Suara yang kaget. “Sakit p****t saya mencium lantai kamar ini, heh!” Ia sedang mencoba bangkit dengan mengelus pantatnya, yang mungkin tulang bokongnya sudah retak akibat ulah kreatif Nada. Nada menyilangkan tangannya di depan d**a, menatap tajam ke arah Suara yang saat ini sedang duduk di tepi ranjangnya. “Sebagai balasan dari perbuatan kamu tadi pagi. Kamu melamun, ya? Melamuni apa?” tanyanya dengan memburu. “Eh, maksudnya, melamunin siapa?” ralatnya. Suara mencebik, “Jawabannya enggak mungkin saya melamunin kamu!” “Kalau jawabannya adalah Tio, aku jambak kamu!” Suara hanya terdiam mendengar tuduhan dari Nada. Tuduhan yang memang seratus persen kebenarannya. Kenapa sahabatnya itu selalu benar menebak apa yang dia pikirkan? Jangan-jangan Nada memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain? Atau, sebenarnya gadis itu diciptakan cenayang, ya? Suara kembali menjebak dirinya dalam kenangan bersama Tio beberapa waktu lalu. Saat laki-laki itu dengan senang hati membelikan galon untuknya. Memberikannya sepeda saat sepedanya sedang bertindak nakal dan memutus rantai. Atau, yang paling sederhana adalah menyentuh wajahnya dengan telunjuk yang didekatkan ke ujung bibir, menarik lengkung senyuman di sana. Dan, masih banyak keromantisan yang kerap laki-laki itu suguhkan untuknya. “AWH! MALAM!” ringis Suara saat Nada dengan semena-mena menjambak rambutnya. “Kamu diam, artinya benar jawabannya adalah Tio, ‘kan? Aku harus jambak rambut kamu supaya nama Tio beserta kutu-kutumu keluar dari kepala kamu, tuh!” omel Nada penuh dengan emosi. Siapa yang tidak emosi memiliki sahabat yang saat pergi ke Kampung Inggris dengan bahagia dan tawa. Saat pulang malah menjadi kambing d***u begini! “Ya, enggak begitu juga! Rambut saya bisa lepas dari akarnya, kalau saya botak, memangnya akan ada laki-laki yang mencintai saya, heh? Selagi rambut saya lurus saja masih dijadikan selingkuhan,” timpal Suara yang sudah geram. Nada memutar bola matanya searah jarum jam. Sebal dengan pemikiran kolot sahabatnya ini. Jangankan dia, penderita alopecia areata yang terpaksa memangkas habis rambutnya saja bisa menaklukan hati pemilik usaha bidang properti di New York. Itu adalah kisah yang pernah dia baca di salah satu novel miliknya. Ya, setidaknya ada bayangan cinta yang seperti itu, ‘kan? “MALAAAMMMMM!!!!” teriak Suara saat Nada dengan semena-mena lagi menghentak rambutnya. Sampai di tangan gadis itu ada beberapa helai rambut yang dengan naasnya tercabut. “GILA! KALAU SAYA BOTAK BETULAN BAGAIMANA, HAH!?” tanyanya histeris saat memandangi tangan sahabatnya itu. Nada memutar bola matanya. Coba hitung, sudah seberapa banyak dia memutar bola mata sepanjang cerita ini dimulai hanya karena keabsurdan Suara? Sudah banyak. “Ya, tinggal kamu tumbuhkan lagi lah! Pakai minyak penumbuh rambut. Apa susahnya? Atau tidak, rambutmu kamu tempelkan saja sama rumput jepang! Bagus, tuh! Runcing-runcing.” “Apa susahnya, Gundulmu!” sungut Suara seraya menggosok kepalanya. Perih. “Gila kamu, Lam! Ini perih sekali, tahu!” Nada menggeleng, “Enggak, aku enggak tahu!” serunya. “Heh, Suara, kamu harus dengarkan aku,” sambungnya serius, lalu membuat mata Suara lurus untuk menatap matanya. “Kalau ada laki-laki yang sampai jatuh cinta sama kamu dan menerima kebotakan kamu serta tidak mempermasalahkannya, artinya laki-laki itu tulus mencintai kamu. Terkadang, cinta sejati adalah cinta yang hadir karena melihat ketidaksempurnaan pasangannya.” “Iya, tapi kepala saya enggak harus botak, dong! Spekulasi macam apa yang kamu keluarkan itu, heh! Enggak ada korelasinya, tahu!” Nada mengedikkan bahunya tak acuh. “Aku menginap di sini malam ini.” Suara melepaskan suara ‘hah’-nya sekencang mungkin. “Siapa yang izinin?” “Ibu kamulah!” Nada tersenyum manis. “Enggak!” “Aku bilang Ibu.” “Malam, darimana kamu dapat keahlian semena-mena begitu sama orang, sih?” “Kamu tuh enggak sadar diri, ya?” “Enggak!” “Pantas saja kamu bisa dengan mudah dijadikan selingkuhan sama Tio. Otakmu sudah keblender jadi bubur, tuh! Tinggal dikasih bawang goreng, bawang daun sama kecap, sedap jadinya.” “Ish, apaan, sih!?” sungut Suara. “Hehe.” “Haha hehe haha hehe.” Suara mengembuskan napasnya kasar, hingga bunyi itu terdengar di telinga Nada yang sedang menaruh tasnya di meja belajar Suara. Nada menoleh dan melihat sahabatnya itu lagi-lagi memasang wajah bermuram durja. “Kenapa?” “Kok ada laki-laki yang kayak dia, ya?” tanya Suara. “Saya kurangnya apa?” Nada menyusul untuk naik ke ranjang Suara. Ranjang yang berukuran paling besar ini akan menjadi sempit jika dua wanita lesak disatukan untuk tidur. Iya, Suara dan Nada. “Geser, ih!” “Tidur di lantai sana!” “Ib- mmmphhh.” “Iya-iya!” Nada memang sudah sangat akrab dengan ibu dan bapaknya Suara. Bagaimana mereka tidak akrab, kalau Nada sedari bisa berbicara sudah bermain di sini? Mereka berdua itu tetangga kental sampai sekarang. Lahirnya saja cuma beda dua hari. “Kenapa, ya, Tio bisa berbuat sejahat itu? Saya kurang apa, ya, Malam?” ujar Suara mengulangi pertanyaannya tadi. “Karena ….” Nada tersenyum sejenak, “Kamu kurang bersyukur.” “Maksudnya?” “Kamu lupa bersyukur, akhirnya kamu dijauhkan dari laki-laki seperti Tio. Kalau saja Dia enggak buka semuanya kemarin, mungkin sekarang kamu masih memusingkan dan bertanya-tanya tentang di mana salahmu. Namun, sekarang sudah dibukakan semua, artinya dalam kandasnya hubungan kalian ini, bukan cuma atas kesalahan kamu.” “Tapi, apa harus seperti ini caranya? Apa dia enggak bisa jujur saja dari lama?” “Walau dengan alasan apapun, terlebih alasan karena dia sangat mencintai kamu, jelas-jelas kamu adalah pelarian saat dia jauh dari perempuannya selama ini, Sua.” Suara membuang napasnya kasar, “Entah, ngantuk! Saya mau tidur saja. Jangan lupa matikan lampu kalau kamu mau tidur, Malam,” ujarnya. “Selamat malam, Malam.” “Sepertinya kamu harus berusaha terbiasa memanggil aku Nada, biar ucapan kamu enggak rancu begitu.” “Hidup saya sudah terlalu rancu untuk kembali dibenarkan, Malam.” “Ya-ya, terserah.” Nada beranjak dari tempat duduknya ke jendela lebar yang masih terbuka. Menampakkan pemandangan malam hari dari pantai yang ada di seberang jalan, seberang rumah ini. Pemandangan malam yang mempesona. Sayang, Suara sudah terlelap. “Dasar kerbau!” *** Hai, selamat datang di cerita ini. semoga betah, ya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN