Suara mematung demi melihat Tio yang terkapar menatap nanar pada laki-laki yang barusan menghajarnya, Langit. Lalu, ia alihkan pandangannya demi menatap laki-laki mendung yang sedang terengah-engah itu. Suara terduduk di lantai kamar mandi dengan ember dan centong air yang masih ia genggam. Lemas bukan main. “Langit …,” lirih Suara serak. Langit yang masih dengan wajah amarahnya menoleh pada Suara, lalu langsung menghambur demi memeriksa keadaan gadis itu. Namun, sesampainya di sana, Suara langsung memeluknya erat dengan tubuh yang bergetar bukan main. Langit cukup terperangah dengan eratnya pelukan yang diberikan oleh Suara. Kentara sekali kalau gadis itu tengah ketakutan. Langit mengelus punggung Suara dengan lembut, berharap perlakuannya bisa menenagkan gadis itu. “Su ….” “Langit, s

