“Ayah?” tanya Suara kebingungan. “Maksudnya bagaimana, Langit?” Dia menatap laki-laki itu, tetapi ekspresi Langit sudah berubah. Wajahnya yang sebenarnya sudah kasut, tambah kelam dengan amarah yang amat terlihat di sana. Kenapa? Langit berdecih, lalu melempar dompet itu dan mengenai wajah Suara. “Nama ayahmu itu Guntur Bumi, ‘kan?” tanyanya. Ia menatap gadis yang di depannya ini dengan tatapan penuh kebencian. Suara yang sedang mengelus wajahnya yang terkena lemparan dompet Langit mengangguk, “Iya, itu ayah saya, Langit,” jawabnya. “Yaa Allah, Mas Guntur, kenapa kamu tega, Mas?” lirih Nenti yang justru menambah kebingungan bagi Suara. Dia hanya menatap nanar pada fakta menyakitkan yang baru saja terkuak. Suara menoleh pada Nenti, “Maksudnya, Bu?” tanyanya. Hancur hatinya saat air mata

