"Ke- ... ke- ... kenapa harus seperti ini?" Suara masih menangis sesenggukkan di kamarnya walau hari telah berganti dan malam sudah bertukar posisi dengan dini hari. Dia menangisi fakta tersakit yang baru menimpanya barusan tadi. Ayah Langit dan ayahnya adalah orang yang sama. Semua itu dijelaskan Nenti untuknya seraya membawa foto pernikahan dan beberapa foto mereka yang lain. Dan itu benar, laki-laki yang ada di foto itu adalah ayahnya. Ayah yang dibanggakannya. Dia memegang dadanyi sendiri, "Sa ... kit ...," lirihnya. Ia berusaha menhapus air matanya sendiri, tetapi itu tidak bisa menghentikan bulir-bulir itu luruh dari pelupuk matanya. Suara menatap keluar jendela, ini adalah malam pertama sekaligus malam terakhir yang bisa dia nikmati di rumah sederhana ini. Karena, besok Langit ak

