“Mas Guntur …,” panggil Nenti untuk suaminya yang sudah hilang hampir seperempat abad tersebut. Saat ini, mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga rumah Suara atas permintaannya. Di sana sudah ada dia, Guntur, Puspa, Langit, Suara, Nada dan Aksara. Lengkap tanpa terkecuali. Guntur menoleh, “Yaaa …?” jawabnya masih canggung dengan kehadiran Nenti yang tiba-tiba. Ia menatap dalam ke arah Nenti yang juga menatapnya. Jadilah, saat ini mata mereka saling menyelam satu sama lain. Nenti tersenyum dan berkali-kali menarik serta mengembuskan napasnya. “Aku … aku sudah berdiskusi dengan Langit semalam ini untuk sebuah keputusan yang sudah kami damaikan,” ucapnya. “Dan keputusan itu adalah … ceraikan aku, Mas,” ungkapnya. Puspa membelalakkan matanya, “Mbak?” tanyanya. Dia saat ini memegang

