“Barang-barang Ara sudah dibawa semua, ‘kan?” tanya Puspa saat mereka sudah sampi di bandara. “Enggak ada yang tertinggal, ‘kan?” Suara menggeleng, “Enggak, Bu.” “Baiklah.” Puspa mengelus lengan anaknya. Karena, baru seminggu Suara di sini, sudah mau terbang lagi ke Yogyakarta. Rindunya ‘kan belum habis. “Ra …,” panggil Nada dramatis. “Masa pulangnya harus sekarang?” rengeknya lebih dramatis. Sekarang, dia menghambur ke arah sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Suara menjengit heran, untuk seorang Nada yang seringnya bersikap bar-bar, tiba-tiba menye-menye begini. Jelas aneh, ‘kan? “Kamu nanyanya untuk saya atau untuk kakak saya, Lam?” ujarnya balik bertanya. Walau begitu, dia tetap membalas pelukan yang diberikan sahabatnya tersebut. “Kalau kamu mau menanyakan ke saya, langsung

