43. Kembali ke Yogyakarta (2)

1055 Kata

“Sini tasnya saya bawakan,” ujar Aksara saat mereka sudah menginjakkan kaki di lantai bandara. Perjalanan naik pesawat kali ini terasa lebih ringan dibumbui dengan keributan kecil yang diciptakan Langit dan Aksara. Memang tidak tahu malu! Suara menggeleng, “Ini cuma ransel yang isinya kutang sama kolor, Aksa, enggak perlu kamu bawa juga ransel ini bisa terbang,” ucapnya tanpa malu untuk akhirnya mendapatkan jitakan dari Langit. “Ish, apasih Langit?” tanyanya bersungut-sungut. “Tadi di depan Ayah sok-sokan elus-elus kepala, sekarang jitak-jitak. Mau cari muka sama Malam kamu tadi, ya?” curiganya. “Mulutmu itu disaring, masa ngomong kutang sama kolor enggak pakai sensor?” protes Langit. Suara mencebik, “Terus barusan kamu enggak menyaring omongan kamu, tuh!” serunya. “Ya, saya ‘kan menco

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN