“Mas Langit, saya mau protes!” seru Suara saat mereka sudah keluar dari gedung serba guna. Langit yang sedang mengipaskan dirinya yang kepanasan mengalihkan perhatiannya, “Apa?” tanyanya dengan delikkan mata yang cukup tajam. Suara yakin, delikkan tajam itu Langit dapatkan berkat berguru dengan Nada. “Bisa enggak kalau narasi yang ‘adik saya yang sangat menyebalkan dan cerewet bukan main’ itu diganti ke yang lebih baik. Saya enggak semenyebalkan dan secerewet ‘bukan main’ itu, ya! Kamu harusnya sadar diri kalau kamu itu lebih-lebih lagi,” sungut Suara berapi-api. Ia menghentak-hentakkan kakinya dengan tangan yang mengepal kuat. Langit mengedikkan bahunya, “Harusnya kamu bilangnya sebelum saya memberi sambutan, kalau protes sekarang yang ada petisimu itu enggak berguna,” jawabnya tak ac

