“Supaya tidur saya kembali nyenyak.” “Hah?” “Dua malam ini saya tidurnya tidak nyenyak karena memikirkan kamu yang masih sebal sama saya, ditambah dengan desakan Malam yang menyuruh saya meminta maaf sama kamu. Apalagi di bandara sewaktu mengantar Malam kemarin kamu begitu dingin sama saya. Makan saya tidak kenyang, tidur saya tidak nyenyak, bahkan say- ….” “Berhenti di sana,” potong Suara. “Bulu roma saya meremang mendengarkan permintaan maafmu yang berlebihan.” “Jadi, saya dimaafkan atau tidak?” Suara mengangguk satu kali. “Demu mengembalikan tidur nyenyakmu lagi, saya memberikan maaf itu walau sakit masih membekas di hati.” Langit tersenyum riang, lalu meraup Suara ke dalam dekapannya. “Kalau sakit hati itu kamu terlalu terbiasa, ‘kan?” tanyanya dalam bisikkan. “Jangan memancing

