bab 1
Pagi-pagi sekali Araya telah siap-siap untuk berangkat ke kantor CT cooperation. Hari ini adalah salah satu hari penting sehingga mau tak mau, Araya pun harus turun tangan langsung. Awalnya Araya ingin menolak dan ingin ayah Rama saja yang menggantikan posisi Araya sekarang. Tapi mama Shania menatapnya dengan tegas jika Araya harus hadir dalam rapat hari ini.
Araya memandang wajah anaknya yang masih tertidur pulas. Wajah Ivy tampak damai dalam tidurnya. Dengan sangat hati-hati, wanita itu membelai rambut Ivy yang mulai panjang dengan ujung rambut bergelombang. Bulu mata Ivy sangat lentik, pipi chubby, hidung yang menggemaskan dan juga bibir mungil yang sering kali merengek meminta bertemu dengan dokter Arlan.
Ivy telah berusia dua tahun dua Minggu lalu dengan pesta ulangtahun yang jelas tak kalah heboh seperti tahun lalu. Araya tak bisa menolak keinginan Gevan yang ingin merayakan ulangtahun Ivy di dua tempat. Wajah Gevan yang memohon membuat hati Araya luluh. Terlebih lagi, saat Gevan mengatakan jika dia ingin merayakan ulangtahun Ivy di panti asuhan membuat hati nurani Araya tersentuh.
"Bangun anak mama yang cantik," ucap Araya sambil mencium gemas kedua pipi Ivy.
Ivy yang seolah terganggu dengan sapaan mamanya mengucek mata sebentar lalu melanjutkan kembali tidurnya. Sepertinya anak gadisnya itu masih mengantuk dan enggan untuk membuka mata lebih cepat daripada hari biasanya.
Araya terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan Ivy yang senantiasa menghiburnya. Ivy adalah anugerah terbesar yang Araya miliki saat ini. Araya pun memberikan perhatian ekstra pada tumbuh kembang Ivy yang begitu pesat. Ivy tumbuh menjadi anak yang tak hanya cantik tapi juga begitu pintar. Menjelang usia dua tahun, Ivy telah lancar berbicara.
"Papa Gevan nanti datang, loh," goda Araya lagi pada Ivy.
Lagi-lagi Araya tertawa kecil saat Ivy kembali mengucek kedua matanya.
"Papa Gevan?" Tanya Ivy setengah linglung. Lalu kedua mata Ivy pun terbuka menatap Araya. "Mana papa Gevan, ma?" Tanya Ivy sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Gevan. Mata Ivy yang bulat bagai boneka tampak mengerjab.
"Papa Gevan datang kalau Ivy udah cantik," jawab Araya dengan lembut. "Ivy aja masih belum cantik, mana mau papa Gevan bawa Ivy hari ini."
Ivy menggembungkan kedua pipinya mendengar ucapan Araya. "Vy, mau mandi ma." Ivy merentangkan kedua tangannya ke arah Araya.
Araya pun mengangkat tubuh Ivy dan membawa Ivy ke kamar mandi. Setelah melepaskan piyama yang dikenakan anaknya, Araya mengatur suhu air dan shower agar tak terlalu dingin.
"Nah kalau Ivy mau mandi sendiri, nanti mama belikan coklat," tawar Araya pada Ivy.
Araya ingin mengajarkan Ivy mandiri sejak dini dan tak bergantung pada pengasuh. Ivy memang di asuh oleh pengasuh hingga usia satu setengah tahun. Dan enam bulan jelang Ivy ulangtahun kedua, Araya memutuskan untuk merawat Ivy termasuk membawa anaknya itu ke kantor.
Saat mengetahui niat Araya, baik Rama ataupun Gevan langsung menyetujuinya.
Selama ini dalam mengasuh Ivy, Araya selalu di bantu oleh ayah Rama, Gevan bahkan orangtua dokter Arlan pun terkadang tak keberatan jika Ivy bersama mereka. Kalau mama Shania hanya sesekali membawa Ivy jalan-jalan jika berpergian dengan ayah Rama.
Araya sangat bersyukur walaupun Ivy tumbuh tanpa seorang ayah yang menemani sejak bayi, kasih sayang yang dilimpahkan ke Ivy sangat besar.
"Ivy mau nya pagi ini, ma," sahut Ivy sambil menatap araya dengan kedua matanya yang menggemaskan.
"Nanti Ivy sakit perut loh kalau makan coklat pagi-pagi." Araya pun mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi badan Ivy.
Ivy menggeleng kecil dan membuat rambutnya bergerak kesana-kemari. "Ivy mau kasi papa dokter." Lalu Ivy tersenyum lebar.
"Papa Gevan gak di kasi?" Tanya Araya sambil mengulum senyum. Bukan sekali dua kali Ivy berbagi coklat kesukaannya dengan dokter obgyn itu. Hampir semua makanan kesukaan Ivy pasti selalu diberikan pada dokter Arlan.
"Papa Gevan dapat ciuman dari Ivy aja," sahut Ivy lagi.
Araya hanya geleng-geleng kepala aja. "Baiklah, pagi ini mama kasi coklatnya tapi janji mandi sendiri," kata Araya sambil mengeluarkan kelingkingnya.
Ivy pun menautkan kelingkingnya pada Araya. Walaupun Ivy mandi sendiri, Araya tetap mengawasi Ivy yang sangat hobi bermain air itu. Anaknya tumbuh menjadi anak yang kuat dan tidak terlalu manja kecuali pada Gevan dan beberapa orang yang memang sengaja terang-terangan menunjukkan kasih sayang yang melimpah ruah ke Ivy.
Tumbuhlah menjadi anak yang kuat nak. Mama akan selalu berada di belakang mu kapan pun itu, gumam Araya seraya menatap lekat ke arah wajah anak semata wayangnya, Quince Ivy Hutama.