Bab 5
"Adel, kamu kok cantik banget sih? Beda banget sama anak tante Sasa, yang kerjaannya cuma bikin masalah saja," ucap seorang wanita paruh baya yang berada di samping Adelia.
Adelia baru saja selesai didandani, dan hasilnya sungguh memuaskan. Adelia terlihat cantik dengan riasan natural, bibir tipisnya dilapisi dengan lips tick berwarna peach, dengan eyeshadow berwarna senada. Rambutnya disanggul, beberapa helai rambutnya sengaja digerai menjuntai.
Gaun yang Adelia kenakan sungguh pas melekat ditubuh Adelia. Membentuk lekukan tubuh Adelia, bagian dadanya sedikit mengembang dan hanya memperlihatkan sedikit belahan d**a Adelia.
"Emang Sasa buat ulah apalagi, tan?" Tanya Adelia menanggapi perkataan wanita paruh baya itu.
"Huh, kali ini lebih parah. Dia lagi hamil, tapi dia nggak tahu siapa ayah bayinya, kan aneh ya? Kami sudah mendesak supaya Sasa menjawabnya, tapi dia tetap nggak mau jawab. Jadilah kami mengirimnya ke rumah Omnya," jelas wanita paruh baya itu.
"Tante yang sabar ya, mungkin itu ketidak sengajaan. Lalu, apa rencana tante selanjutnya?"
"Tante sama suami tante berniat menikahkan Sasa sama Omnya, si Aldi. Lagipula Aldi itu udah lama nggak berhubungan dengan wanita," ucap wanita yang dipanggil tante Tantri itu.
"Bukannya, kalau menikah dengan paman kita sendiri itu nggak boleh ya, tan?"
"Tan--"
Belum selesai Tantri ingin menjawab ucapan Adelia. Pintu kamar Adelia terbuka menampilkan kedua orang tua Adelia.
"Hm, sepertinya acara segera dimulai. Yaudah, ayo tante gandeng kamu ke kedua orang tua kamu."
Adelia pun berdiri dan sedikit merapikan dandanannya. Ia berjalan menuju ayahnya yang sudah mengulurkan tangannya. Adelia mengitkan lengannya ke lengan ayahnya, dan berjalan beriringan di bersama ayahnya. Di belakang Adelia dan Tristan, ada Andini dan Tantri yang berjalan mengekori Adelia dan Ayahnya.
Adelia pun sampai di altar. Di sana sudah ada Billy yang tampak gagah dengan tuxidonya. Adelia terpesona seketika, jantungan berdebar cepat.
Sekarang giliran Billy yang mengulurkan tangannya, menuntun Adelia sampai ke depan pastur. Dengan gugup Adelia menerima uluran tangan itu.
Adelia dan Billy berjalan mendekati pastur, bersiap mengikrarkan janji suci pernikahan.
Riuh tepuk tangan itu, memenuhi seluruh aula. Raut wajah senang tampak terpancar dari para tamu undangan. Akhirnya janji suci itu telah terucapkan dengan lantangnya.
"Sekarang dipersilahkan pengantin pria untuk mencium kening pengatin wanitanya."
Terdengar ucapan MC setelah riuh tepuk tangan mereda. Adelia memandang gugup Billy, sedang Billy sendiri hanya memasang wajah bingungnya yang sangat kentara. Billy sangat bingung dengan perasaannya.
Kemarin di saat ia melihat Theresa, hatinya berontak ingin memiliki Theresa. Dan sekarang? Sekarang hatinya berdebar seolah menginginkan Adelia. Billy merutuki hatinya, yang tidak bisa konsisten.
Cium atau tidak.
Tiga kata itu memenuhi pikiran Billy, Billy dibuat frustasi olehnya.
Terlalu lamanya Billy berpikir, membuat para tamu undangan berbisik-bisik. Billy menyadari hal itu, dan tentu saja Billy merasa kesal. Ia merupakan seorang laki-laki yang memiliki tempramen tinggi.
Ia akan mudah marah dan kesal dalam waktu singkat. Sedang Adelia yang mendengar bisik-bisik itu hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak terlalu banyak berharap, agar Billy menciumnya, karena ia sadar pernikahannya itu hanya untuk menutupi kehamilannya. Kehamilan yang tidak ia ketahui penyebabnya sampai saat ini.
Kekesalan Billy semakin memuncak, karena ia mendengar sebuah kalimat yang mengatakan bahwa pernikahan itu pernikahan paksaan. Dengan cepat Billy menarik pinggang Adelia, membuat Adelia berjingkit kaget olehnya. Adelia membelalakkan matanya, ketika benda kenyal menempel pada bibirnya, Billy menyapukan lidahnya pada bibir Adelia. Lama kelamaan sapuan itu berubah menjadi lumatan dan hisapan. Ciuman yang tadinya hanya akan di kening saja, berubah menjadi ciuman bibir yang sangat panas.
Billy menyukai bibir Adelia, menurutnya bibir Adelia itu terasa manis. Ia ingat saat mencium Theresa, bibir Theresa tidak semanis Bibir Adelia. Adelia hanya diam tidak membalas ciuman Billy, ia belum mengerti cara membalas sebuah ciuman.
Waktu singkat itu benar-benar membuat Billy melayang. Ia akui jika ia sangat menyukai bibir Adelia. Saking terbuainya dengan bibir Adelia, Billy tidak menyadari napas Adelia yang mulai habis karena terlalu lama berciuman.
Billy baru mengetahuinya saat tangan Adelia memukul bagian dadanya, tidak terlalu keras tapi cukup membuat Billy tersadar. Dengan terpaksa Billy melepas panggutannya. Billy menyatukan keningnya dengan kening Adelia, sedikit membungkuk karena tinggi Adelia hanya sebatas buhunya, tapi karena bantuan sepatu berhak-nya tinggi Adelia bisa melebihi bahu Billy.
Deru napas Billy dan Adelia bersahut-sahutan. Hidung mancung Billy bergesekan dengan hidung mancung Adelia.
"Bibir kamu sangat manis, aku sangat menyukainya," bisik Billy pelan, tapi sukses membuat wajah Adelia memanas. Bersyukurlah Adelia, berkat make up-nya rona di pipinya itu bisa tersembunyikan.
Tepuk tangan kembali riuh terdengar, Billy dan Adelia saling memandang. Billy menyunggingkan senyumnya, Adelia membalasnya dengan senyuman malu-malu.
"Wow, ciuman yang hot ya, tepuk tangan sekali lagi." Terdengar suara takjub MC, yang disusul dengan riuh tepuk tangan.
"Baiklah, acara selanjutnya kita memasuki resepsi. Pengantin dipersilahkan menuju panggung."
Kembali terdengar instruksi dari MC. Billy memegang tangan Adelia, dan mengaitkan tangan Adelia ke lengannya. Mereka berjalan bersisian menuju panggung.
Saat ini, Adelia dan Billy sudah berdiri tepat di atas panggung. Menunggu tamu undangan yang akan menyalami dan mengucapkan salam pada mereka.
Tidak lama berselang, beberapa tamu undangan silih berganti menaiki panggung. Ucapan selamat serta panjatan do'a membanjiri kedua pengantin baru itu. Adelia dan Billy hanya membalas dengan ucapan terimakasih dan senyuman seadanya. Tidak tahu ingin mengucapkan apalagi.
Di kejauhan aula itu, tampak seorang gadis dengan tangannya yang mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit.
Dialah Theresa Angela, wanita yang sangat Billy cintai. Jika kalian mengira, kalau kehadiran Theresa ingin merusak pernikahan Billy dan Adelia. Pemikiran kalian salah, justru Theresa sangat bahagia dengan pernikahan Billy itu.
"Wanita itu lebih baik daripada aku, Billy. Aku bukan wanita sebaik yang kamu kira, aku wanita kotor. Bahkan aku rela memberikan tubuhku untuk lelaki b***t itu, kamu pantas dengannya. Jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan wanita itu, cintailah dia setulus hatimu." Nada suara pelannya tampak menyayat hati.
Itulah alasan di balik penolakan Theresa terhadap Billy. Ia merasa dirinya kotor dan tidak akan pernah pantas bila bersanding dengan Billy. Ia tahu bila Billy sangat mencintainya, tapi hatinya sudah terkunci pada satu laki-laki, dan itu bukanlah Billy.
*****