Bab 4
Tiga hari berlalu dengan cepatnya. Tibalah sudah di hari pernikahan Adelia dan Billy. Hari yang bahagia, tapi tidak dengan raut wajah yang Billy tunjukkan. Saat ini, Billy tengah berada di ruangan tempatnya bersiap-siap.
Matanya tidak pernah lepas memandang layar ponselnya. Matanya tampak memancarkan binar kerinduan.
Foto Adelia kah, yang tengah Billy pandangi? Jawabannya adalah bukan. Billy sama sekali tidak mempunyai foto Adelia. Lalu, yang menjadi pertanyaannya adalah, siapa yang tengah Billy pandangi?
Theresa Angela.
Dialah wanita yang tengah Billy pandangi, wanita yang sangat Billy cintai. Namun sama sekali tak dapat Billy gapai. Dan yang membuat Billy berani berbuat kotor.
Awalnya, Billy berniat membuat Theresa mengandung anaknya, Billy berniat meniduri Theresa, tapi ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Dan pilihan terakhir Billy, yaitu membuat Theresa hamil dengan cara penyuntikan s****a. Suatu cara yang tidak memerlukan banyak waktu saat pelaksaannya.
Namun, terjadi kesalahan saat proses itu. Dokter Ratih, selaku dokter yang menanganinya salah menyuntikan cairan s****a--s****a milik Billy-- pada rahim Adelia, dan bisa dipastikan jika Adelia akan mengandung benih Billy.
Saat itu, Adelia baru saja mengunjungi salah satu temannya yang tengah dirawat di rumah sakit.
Adelia tengah berjalan menuju tempat parkir. Ia baru saja mengunjungi salah satu temannya yang tengah dirawat di rumah sakit itu.
Di lain sisi, tampak dua orang laki-laki berbaju perawat, dan dua orang berbaju dokter.
"Dokter Billy, wanita yang mana, yang akan kita suntik s****a ke dalam rahimnya?" Tanya seorang wanita paruh baya berbaju dokter itu.
"Yang ber-dress peach itu." Billy menunjuk ke arah wanita ber-dress peach, yang merupakan Theresa. Namun info yang dokter Ratih terima salah, karena yang ada di pikiran dokter Ratih ialah Adelia. Wajar saja dokter Ratih berpikir seperti itu, hal ini dikarenakan posisi Adelia dan Theresa yang berdekatan serta dress yang kedua wanita itu kenakan berwarna sama.
"Anda sudah tahu bukan, dokter Ratih?" Tanya Billy memastikan.
"Tentu dokter Billy," balas dokter Ratih singkat.
"Kalau begitu, saya tinggal terlebih dahulu, saya memiliki pasien yang harus saya tangani. Saya harap hasilnya tidak mengecewakan, permisi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Billy langsung pergi, tanpa mengkonfirmasi infonya lagi.
"Ajun! Rian! Bius wanita itu, wanita yang tengah memegang handphone itu, kalian tahu bukan, apa yang akan kalian lakukan?" Dokter Ratih menunjuk Adelia yang tampak memainkan ponselnya.
"Tahu dok, siap laksanakan." Salah satu dari perawat itu menyahut.
"Baik, kalau begitu saya tunggu di ruangan saya. Lakukan secara diam-diam. Jangan membuat wanita itu curiga barang sedikit pun!"
"Baik dok," ucap mereka serempak.
Setelah perbincangan singkat itu, dokter Ratih kembali ke ruangannya. Dan dua orang perawat itu melaksanakan aksinya.
Mereka mendekati Adelia secara diam-diam. Ketika berjarak beberapa centi dari Adelia. Ajun-- salah satu perawat itu berusaha mengajak Adelia berbincang-bincang, dan Adelia pun menanggapi perbincangan itu. Sedang Rian, yang berada di belakang Adelia menyemprotkan cairan bius di dekat Adelia. Beberapa saat kemudian, Adelia pun kehilangan kesadarannya.
"Ayo kita angkat wanita ini ke ruangannya dokter Ratih, sebelum ada orang yang curiga," seru Rian.
"Ayo!" Balas Ajun.
Ajun dan Rian pun membawa Adelia ke ruangan dokter Ratih. Hingga akhirnya, dokter Ratih pun menyuntikan cairan s****a milik Billy itu ke area kewanitaan Adelia. Dan memastikan jika s****a itu sudah masuk tepat pada rahim Adelia.
Tak sampai tiga puluh menit proses itu selesai.
"Sekarang, bawa wanita ini ke UGD, buat seolah-olah wanita ini baru saja pingsan," perintah dokter Ratih yang langsung diangguki Ajun dan Rian.
Ajun dan Rian pun, membawa Adelia menuju ruang UGD. Mereka menidurkan Adelia ke salah satu ranjang yang ada di ruangan itu.
"Ayo kita cepat pergi, sebentar lagi pengaruh obat biusnya akan hilang. Jangan biarkan wanita ini melihat kita ada di sini. Oh ya, sebentar lagi dokter Billy akan ke sini dan dia akan menunggu sampai wanita ini bangun."
"Baiklah, ayo!"
Dua perawat laki-laki itu pergi, meninggalkan Adelia yang masih tak sadarkan diri.
Tidak lama setelah kepergian dua perawat itu, Billy masuk ke ruang UGD, ia sudah tidak sabar menunggu sampai Theresa bangun dan mengucapkan semua yang ia lakukan, ia tidak peduli dengan reaksi Theresa nantinya. Yang Billy pedulikan hanyalah, Theresa akan menjadi miliknya.
Mata Billy menyipit mencari keberadaan Theresa, yang menurut dokter Ratih sudah berada di ruang UGD. Namun, Billy sama sekali tidak menemukan keberadaan Theresa. Yang ia lihat hanya dua orang lansia, dan seorang gadis ber-dress peach, namun bukanlah Theresa.
"Tunggu dulu ..."
"Jangan-jangan mereka salah orang?" Gumam Billy yang jelas-jelas terkejut. Dengan cepat Billy mengeluarkan ponselnya dan menelpon dokter Ratih. Tidak lama sambungan pun terhubung.
"Halo, dokter Ratih. Bisakah anda ke ruang UGD sekarang juga? Saya tidak peduli anda harus ke mari sekarang juga!" Billy langsung mematikan sambungannya tanpa menunggu jawaban dari dokter Ratih.
Billy mendekati gadis itu, ia terkejut mengetahui siapa gadis itu.
"Bukannya dia muridku, Adelia? Astaga, apa mereka benar-benar salah orang!" Gumamnya menggerutu.
Tak lama, pintu UGD terbuka, menyajikan dokter Ratih dengan pandangan bertanya-tanyanya.
"Ada apa anda memanggil saya ke mari?" Tanya dokter Ratih to the point.
"Saya hanya ingin menanyakan, apakah gadis ini yang anda suntik dengan s****a ke rahimnya?" Tanya Billy berusaha menahan emosinya. Dokter Ratih hanya mengangguk, raut wajahnya masih bertanya-tanya.
"s**t! Sudah kuduga," umpat Billy pelan. "Sekarang anda boleh pergi." Setelah mendengar ucapan itu bukannya pergi dokter Ratih malah mendekati Billy.
"Apa ada yang salah dengan hasil pekerjaan saya?" Tanya dokter Ratih yang melihat kilat emosi di mata Billy.
"Ya, seperti yang anda pikirkan. Gadis ini bukan gadia yang saya inginkan. Anda tahu? Dia mahasiswa saya, dan bagaimana jika dia hamil? Apa ada cara untuk membatalkan kehamilannya nanti?" Suara Billy terdengar sinis di indera pendengaran dokter Ratih.
"Seandainya ada cara, akan saya lakukan saat ini." Terdengar nada menyesal dari ucapan dokter Ratih.
Billy menghela napasnya kasar. Billy mulai frustasi.
"Lebih baik anda pergi sekarang, tinggalkan saya sendiri." Dokter Ratih pun keluar dari UGD dengan buru-buru. Ia tidak mau melihat kemarahan rekan kerjanya itu.
Billy menghela napasnya sekali lagi, matanya menatap Adelia.
"Apa aku harus bertanggung jawab pada gadis ini?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Argghh, lebih baik aku pergi sebelum dia terbangun. Dan aku harus berpikir apakah aku harus bertanggung jawab atau tidak," putus Billy akhirnya.
"Billy, ayo kita ke altar sekarang, sebentar lagi acaranya dimulai." Suara wanita paruh baya menyentak Billy yang tengah melamun.
"Iya, Mi." Suara Billy terdengar lirih, matanya menatap sang ibu yang tengah tersenyum senang, mau tidak mau Billy ikut tersenyum.
"Kamu mau nikah kok lesu gitu sih? Semangat dong, apa kamu udah nggak kuat nungguin nanti malam?" Goda Ruth yang tidak menyadari raut wajah sedih Billy.
"Ah, Mami ini bisa aja, jangan mikirin yang kotor kayak gitu dong. Bikin Billy malu aja," ucap Billy menanggapi perkataan ibunya itu. Ruth tertawa.
"Ya udah, ayo kita ke altar sekarang. Jangan buat para tamu menunggu." Billy mengangguk dengan senyumnya, lalu meraih tangan ibunya yang baru terulur.
****