Bab 3

1158 Kata
Bab 3 Suasana di dalam mobil Billy tampak hening. Adelia hanya diam dengan pandangannya yang tertuju ke luar jendela. Sementara Billy, Billy tengah fokus menyetir mobilnya. "Pak?" Adelia memanggil Billy, tapi pandangannya masih terarah ke luar jendela. Billy menolehkan wajahnya sebentar. "Iya?" Billy menautkan kedua alisnya, tanda tidak mengerti. "Kira-kira, berapa usia bayi kita?" suara Adelia memelan saat mengucapkan kata kita. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?" "Saya hanya ingin tahu saja." Billy menghela napasnya mendengar jawaban Adelia. "Kalau tidak salah, mungkin sekitar dua mingguan," jawab Billy akhirnya. Pandangan Adelia beralih menatap Billy. Adelia terdiam untuk beberapa detik, batinnya masih berdebat dengan pertanyaan yang akan diucapkannya. "Pak, saya boleh manggil bapak, kakak? Dari dulu saya sangat menginginkan sosok kakak, dalam hidup saya," ucap Adelia yang akhirnya memutuskan untuk bertanya. Bukan pertanyaan yang penting sebenarnya. Billy mengernyitkan dahinya. "Saya hanya akan memanggil bapak dengan sebutan kakak, kalau sudah di luar jam kuliah saja," ucap Adelia cepat-cepat. Billy tersenyum lalu menolehkan wajahnya ke arah Adelia. "Kamu bisa manggil saya apa saja, saya ngerasa tua banget kalau kamu manggil saya dengan embel-embel bapak, dan kalau perlu kita tidak perlu berbicara formal. Itu menyulitkan bagi saya," ucap Billy, tangan kirinya secara tiba-tiba mengelus puncak kepala Adelia, membuat pipi Adelia bersemu secara tiba-tiba. Adelia menundukkan kepalanya guna menyembunyikan rona merah di wajahnya. Billy terkekeh melihat tingkah Adelia itu, dan akhirnya Billy menjauhkan tangannya dari kepala Adelia. "I-iya pak," jawab Adelia akhirnya, suaranya terdengar lirih. Jelas saja karena Adelia masih merasa malu. "Adel, kamu pernah nggak patah hati?" Adelia mendongakkan kepalanya dan menatap Billy. Adelia mengernyitkan dahinya. "Patah hati? Adel rasa belum pernah, Adel belum pernah jatuh cinta sebelumnya," jawab Adelia. Billy mengernyitkan dahinya, antara bingung dan tak percaya. Kemudian Billy menepikan mobilnya, ia ingin berbincang lebih banyak dengan Adelia. "Jadi, selama ini kamu tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki? Berarti ciuman aku waktu itu, adalah ciuman pertama kamu?" tanya Billy dengan bahasanya yang lebih ringan. Adelia hanya mengangguk dan kembali menundukkan kepalanya, ia merasa pipinya kembali memanas, kejadian di mana Billy menciumnya tampak berputar memenuhi otaknya. Tiba-tiba, Adelia merasakan tangan besar menyentuh puncak kepalanya, kemudian tangan itu beralih ke bagian tengkuknya. Ragu-ragu Adelia mendongakkan kepalanya lagi. Matanya langsung bersitatap dengan mata elang Billy. Untuk sesaat hati Adelia bergetar, darahnya berdesir hebat. Begitupun dengan Billy yang juga merasakan, hal yang sama seperti yang Adelia rasakan. Entah setan apa yang merasuki Billy. Billy sudah menarik tengkuk Adelia dan menempelkan bibir tipis Adelia ke bibirnya. Adelia membulatkan matanya kaget, ia tidak menyangka akan mendapat ciuman dari Billy lagi. Untuk sesaat, kedua bibir itu hanya menempel. Namun beberapa detik selanjutnya, Billy mulai menggerakkan bibirnya, menyesap dan melumat bibir tipis Adelia. Adelia hanya diam menerima perlakuan itu. Antara tidak mengerti dan masih kaget. Billy semakin gencar menciumi bibir Adelia. Matanya mulai berkabut, nafsu mulai melingkupinya. Adelia yang sadar akan tindakan Billy yang semakin jauh, langsung mendorong tubuh kekar Billy. Billy pun tersentak, seketika kesadarannya kembali. Billy menatap Adelia dengan pandangan bersalah, sedang Adelia hanya menundukkan kepalanya. "Maaf, aku hampir bertindak jauh, aku benar-benar tidak sengaja. Ehm, aku tidak sadar melakukannya," ucap Billy meminta maaf, nada suaranya terdengar serak. Adelia diam tidak menjawabnya, dan akhirnya Adelia pun mengangguk, lalu kembali menolehkan wajahnya menghadap ke luar jendela. "Kenapa hatiku? Apa ini yang namanya jatuh cinta? Mungkinkah secepat ini?" batin Adelia bersuara. Billy masih menatap Adelia, rasa bersalahnya membuat Billy merasa canggung. Namun sedetik kemudian, Billy lebih memilih menjalankan mobilnya lagi. "Kak, nanti kita mampir ke rumah sakit sebentar," ucap Adelia dengan matanya yang tertutup. Billy menolehkan wajahnya hendak bertanya, namun niatannya itu ia urungkan setelah melihat wajah damai Adelia yang memejamkan matanya, entah itu tertidur atau pura-pura tidur. Billy kembali memfokuskan dirinya untuk menyetir. Ia berusaha, membuang jauh-jauh pikirannya tentang Adelia. Namun tak bisa Billy pungkiri, jika hatinya mulai menginginkan Adelia, apalagi di saat Adelia memanggilnya 'kak', sebutan itu benar-benar membuat hati Billy bergetar. **** Saat ini Billy dan Adelia sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruangan spesialis kandungan. Ternyata Adelia mengajak Billy ke rumah sakit karena ingin memeriksakan kandungannya. "Bagaimana kondisi kandungan istri saya, dokter Ratih?" tanya Billy yang sudah mengklaim Adelia sebagai istrinya. Adelia kembali merasakan pipinya bersemu merah. "Di usianya yang ke dua minggu ini, kondisinya sangatlah baik dibanding kondisi kandungan perempuan hamil lainnya. Saya sarankan, untuk ibu Adelia rutin meminum vitamin penguat kandungan dan juga s**u ibu hamil," jelas Dokter perempuan yang sudah berumur itu dengan ramahnya. Adelia tersenyum hingga matanya menyipit seperti bulan sabit. Cantik. Satu kata yang terlintas di benak semua orang ketika melihat senyum itu. Senyum indah yang begitu tulus, membuat setiap laki-laki akan terpesona hanya dengan senyuman itu. Tubuh Adelia tidak se-sexy para model, dan wajahnya juga terlihat sederhana. Tapi sesuatu dalam diri Adelia, yang tidak banyak dimiliki wanita lain, membuat Adelia terlihat begitu cantik. Apalagi sikapnya yang ramah pada semua orang, membuat Adelia mendapat nilai plusnya tersendiri. "Terima kasih atas waktunya, dok. kalau begitu kami permisi dulu, selamat sore," pamit Billy yang langsung menggandeng Adelia keluar ruangan itu. Sebelum Billy dan Adelia beranjak pergi, dokter Ratih sempat berucap beberapa kata. "Semoga proses kelahiran bayi Anda, lancar Dokter Billy, dan jangan lupa mengundang saya ke resepsi pernikahan Anda," ucap Dokter Ratih dengan makna tersirat. "Iya, dok. Tenang saja, pasti saya undang." balas Billy dan akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu. Billy baru teringat jika hampir semua orang yang bekerja di rumah sakit itu mengenalnya. Tentu saja, rumah sakit itu merupakan milik keluarga Wijaya. Semua pekerja di rumah sakit itu, pun sudah tahu jika Billy sebentar lagi menikah. Dan mengenai kehamilan calon istri Billy, hanya dokter Ratih saja yang mengetahuinya. Billy melirik Adelia, binar senang tak hilang dari raut wajah Adelia, terpancar dengan jelas aura kebahagiannya. Billy ikut senang melihat wajah bahagia Adelia. Namun raut wajah Billy berubah dingin ketika tanpa sengaja matanya menangkap sosok wanita yang familiar baginya, sosok yang saat ini masih menempati posisi tertinggi di hatinya. Billy sedikit meradang melihat sosok wanita itu tengah bermesraan dengan seorang pria. Bahkan wanita itu lebih memilih memalingkan wajahnya ketika tanpa sengaja ia menangkap keberadaan Billy. "Aku akan membuatmu kembali padaku, aku tidak peduli dengan orang lain yang akan tersakiti dengan hal ini," batin Billy yang sudah terbutakan oleh amarahnya, membuatnya lupa akan perasaannya terhadap Adelia, dan kembali tidak menyadari perasaannya sendiri. Sementara, Adelia masih menyunggingkan senyumnya, tangannya mengelus lembut perutnya yang masih datar. Mencoba merasakan kehadiran buah hatinya. "Bunda senang dengan kehadiran kamu, sayang. Mungkin kamu adalah jalan untuk mempertemukan Bunda dengan ayahmu, kamu takdir bunda, sayang." kali ini Adelia lah yang membatin. Adelia sadar, ia sudah terperangkap dalam pesona Billy. Ia mengakui jika ia sudah jatuh cinta pada dosennya itu. Ia sudah bertekad dalam hatinya untuk menjadi sosok wanita yang baik untuk Billy dan anaknya kelak, Adelia akan berusaha membuat Billy juga mencintainya. "Kak Billy, ayo kita pulang. Udah mulai malam, nih." suara Adelia membuat Billy tersadar, Billy pun berusaha menyungginkan senyumnya. "Oh ya, ayo!" balas Billy akhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN