Hari berikutnya aku masih gencar mendekati Pak Bara. Kali ini dengan tak tahu malunya kudatangi ruang kerja beliau. Aku membawakannya bekal. Tentunya dengan menu superspesial. Nasi goreng spesial plus keju plus sosis plus cinta. Kuketuk ruang kerja beliau, terdengar sahutan dari dalam. Duh, aku deg-degan. Sumpah, baru kali ini aku benar-benar merasa jatuh cinta. Sebelum-sebelumnya, mungkin hanya sebatas suka. Pintu ruangan terbuka, menampilkan Pak Bara yang tampak tampan dengan setelan kemeja abu-abu dan celana bahan hitamnya. Rambutnya yang disisir rapi semakin membuatku lemas. Dia tidak tersenyum, tapi entah kenapa dia tetap tampan. "Siang Pak, Assalamu'alaikum," sapaku memasang senyum manis. "Ya." Dan dia hanya membalasnya singkat. Tampak canggung, mungkin karena insiden kecupan di

