Lu Mochuan tiba-tiba menempelkan tubuhnya padaku hingga membuat ruang gerakku semakin sempit. Saat ini aku benar-benar gugup dan sekujur tubuhku terasa kaku. Aku memandang wajah Lu Mochuan yang sangat dingin seperti gunung es dengan tatapan ngeri. “Apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku sambil meletakkan tanganku di dadanya. Aku berusaha mendorong agar dia menjauh dariku, tapi ternyata aku tidak cukup kuat untuk melakukannya. “Kebetulan aku punya mobil yang sudah tidak kubutuhkan lagi, jika kamu memang mau mengembalikan uang itu kepadaku, aku bisa memberikan mobilku padamu. Anggap saja kamu membelinya dariku.” Setelah mendengar perkataannya, aku membisu. Sepertinya ada yang salah dari ucapan Lu Mochuan barusan. Dia mau menerima uang itu, tapi sebagai gantinya aku juga harus menerima mobi

