"Kau baru saja sengaja melakukannya." Vania sebisa mungkin menahan raut terkejutnya dengan cara menarik napas, menghelanya perlahan. Suasana hati Fagan yang terus berubah membuatnya pusing karena tidak bisa mengimbangi. Sementara pikirannya berkutat di sekitar pria itu, Fagan masih diam tanpa memberi penjelasan apa pun. "Itu hanya bagian dari masa lalu," ucapnya lamat. Samar suaranya seperti pernah terluka dan terguncang. "Kau belajar banyak hal dari yang sudah terlewati," kata Vania seraya maju. Memindahkan tatapannya dari pria itu pada pigura di atas lantai. "Dan tidak perlu berbuat sampai sejauh ini." "Karena kupikir kesalahpahaman di antara kita berawal dari sini." Vania membungkuk, memungut sisanya dengan menjadikan telapak tangannya sebagai wadah. Fagan mendengus keras, menunduk

