TA - 31

1150 Kata
Ia terbiasa dipeluk, bukan memeluk. Malam semakin larut, nyaris fajar dan kedua matanya masih terjaga. Seluruh indra dalam tubuhnya masih menyuarakan kecemasan yang mendalam. Fagan sama sekali tidak merasa lelah atau letih, dia terlalu bersemangat untuk beberapa hal yang cenderung belum pasti. Sebenarnya prinsip hidupnya berkebalikan. Dia terbiasa didekati para perempuan dan mengabaikan mereka setelahnya. Itu sebagai bentuk kompromi dan batas kalau mereka hanya bisa menyentuh dirinya selagi mereka berhubungan singkat. Selebihnya, tidak ada komitmen apa pun. Lantas sekarang dia mendapati dirinya hampir setengah larut berkat perempuan yang pertama kali mengenalnya bukan sebagai pria benar. Sebuah sebutan yang menjengkelkan karena Fagan bukan bagian semacam itu. Namun anehnya, dia malah membiarkan dan menuntun keduanya pada satu malam tak terlupakan. Berlanjut hingga detik ini. Takdir yang rumit, pikirnya mengeluh. Kamar berantakan seakan ada angin topan baru saja masuk kemari. Hanya tempat tidur, selebihnya masih tertata rapi. Ruangan ini menggambarkan aura positif pemiliknya. Fagan senang berlama menghabiskan waktu. Entah sekadar melepas penat atau memandangi perempuan itu duduk dan merias diri. "Kau terbangun." Satu tarikan napas berat mampir. Terutama karena Vania bergerak, sedang meminta dilepaskan. "Lalu dirimu sendiri?" "Aku belum tidur." Fagan membalas tanpa wajah berarti. "Jam berapa ini?" "Tiga pagi," sahutnya lirih. Vania mendongak dari bantal, mengamati garis pipi pria itu dan kebingungan. "Apa yang membuatmu tidak bisa tertidur?" "Pekerjaan dan aku sangat lelah." "Ceritakan padaku," pinta Vania setelah bergeser agar dia bisa melihat Fagan lebih lekat. Fagan menautkan alis, menunduk dan mempertemukan mata mereka. "Bagian yang mana?" "Apa pun. Petualangan semasa kau remaja. Ayahmu bilang kau menyukai banyak hal. Apa itu berarti mencari tantangan?" Fagan memejamkan mata. Berpikir sebentar dan mencari jalur yang aman untuk sekadar berbagi. Selagi Vania masih sedekat ini, selimut terasa tidak bergunq. "Kehidupanku berjalan biasa saja. Masa depan itu hanya sebuah ilusi karena aku mencoba peruntungan lain. Sejujurnya aku penasaran tentangmu," kata Fagan memiringkan tubuhnya untuk lebih dekat menatap ekspresi manis sehabis bangun tidur. "Aku perlu mendengar kisahmu walau sedikit." "Aku bukan anak tunggal," ucapnya berbisik. Kening Fagan berkerut. Vania melamun sebentar, menjalin tangannya di dalam selimut. Lalu merasakan dekapannya melembut. "Aku dibesarkan di rumah yang kacau dan itu tidak berlangsung lama. Aku selalu berpindah tempat karena berlari." "Berapa saudaramu?" tanya Fagan. "Aku anak pertama. Dua adikku berasal dari ibu yang sama dan ayah berbeda." Ekspresi Fagan berubah pahit. "Apa ibumu menikah lagi?" "Begitulah," sahut Vania dingin. "Kau nampak sedih." Vania mendengus kecil, mengusap kedua matanya yang mendadak berair dan menahan satu senyuman tipis. "Apa? Aku tidak merasakan itu sekarang." "Matamu seperti terharu. Sebentar lagi akan ada air mata." "Oh, benarkah?" Vania tertawa pelan. Fagan terdiam sesaat lalu menggeleng. Saat dia berguling, melirik Vania di sebelahnya yang seolah memang hadir untuknya. "Kau harus tahu, terkadang aku bertingkah tak masuk akal. Seperti anak kecil dan mungkin cenderung berlebihan dan kekanakkan." "Aku pikir itu hanya gurauan," tukas Vania. Kepala itu menolak membenarkan. "Sama sekali tidak. Kehidupanku di rumah dan luar berbeda. Aku menemukan cinta di dalam dan kegelapan di luar sana sebagai realita. Semua seperti ilusi. Aku tak tahu caranya bernapas ketika ibuku pergi untuk selamanya." "Rumahmu bukan mimpi," ujar Vania pelan menyadari Kenta menyayangi dua putranya sangat besar. "Itu nyata adanya. Serupa dengan dunia di depan sana." "Aku bisa menyingkir jika dirasa terlalu membuatku sakit." Kemudian Fagan tertunduk untuk merasakan sang kekasih sekali lagi. Dunianya tidak lagi berputar pada porosnya. Saat Vania menahan napas, mencoba memisahkan mereka untuk sekadar bersuara lamat. "Kau harus berjanji untuk tidak mengeluarkannya sesukamu." Kekehan geli muncul. Yang membuat Vania berdebar tak menentu. Dia membayangkan Fagan paham kalau dirinya tersipu karena pria itu. "Karena ini serius, aku tidak mau melakukannya." *** Saat dirinya terbangun di pagi hari setelah malam yang melelahkan, hidungnya menghirup aroma masakan dari dapur. Celah pintu kamar terbuka. Vania membuka mata, mengamati plafon dengan alis terangkat. Sisi ranjangnya kosong. Masih ada selimut yang tersingkap berantakan dan menyisakan kenangan mereka berdua. Kemudian dirinya berupaya bangun, melirik jendela yang masih tertutup dan lekas membuka. Membiarkan sinar matahari masuk bersamaan dengan udara pagi atau setidaknya membawa sosok Fagan pergi dari sini. Vania beranjak keluar. Tanda sarapan tercium datang dari dapur dan semakin pekat. Ketika kepalanya menengadah, melihat siapa yang memberantaki meja makan tanpa rasa bersalah. "Kenapa kau di sini?" Vania terlonjak karena Sarah ada di rumahnya. "Maafkan aku, putri tidur yang malang jika kehadiranku membuatmu kecewa. Aku datang untuk memeriksa dirimu dan pacarmu sudah pergi pagi sekali." "Dia berangkat tanpa pamit," sindirnya. Sarah mengangkat kedua alisnya. "Fagan ada urusan penting. Kurasa kau sepertinya kelelahan," pandang Sarah prihatin. Mengetahui kalau sahabatnya hanya memakai terusan piyama tidur. "Bagaimana pagimu berjalan?" "Cukup baik. Kau membuat apa di dapurku?" "Percobaan yang membuatmu syok. Tunggu sedikit lagi sampai sup ayam ini menelurkan spesies baru. Aku baru saja menyiapkan kaldu hangat untuk kita sarapan." Vania menguncir rambut dan telah bersiap. Memandang Sarah yang cekatan dan memindahkan masakan dalam mangkuk. Vania berperan sebagai penonton pasif. Saat sahabatnya menata meja, memastikan hidangan mereka siap. "Ya Tuhan, aku melupakan sesuatu." Sarah tersenyum riang. "Fagan versi dewasa sudah memberi makan ikanmu. Tampaknya dia peduli pada kembaran dan menaruh kasihan pada Milen yang selalu bersedih." "Dia pengecualian karena baik." Kepala Sarah meneleng miris. "Kau menyukai Milen, tetapi menaruh perhatian pada Fagan si penyendiri. Pada dasarnya yang kau butuhkan hewan lain dan bukan keduanya. Fagan si ikan seringkali memasang wajah sinis." Ringisan lain muncul. Sarah menaruh dirinya untuk duduk dan Vania mulai makan, seseorang menekan bel rumahnya cukup nyaring. "Ya ampun, apa dia ada urusan denganku?" Vania mendengus. "Diamlah." "Selamat pagi, atas nama Vania?" seseorang dengan topi putih menyapa ramah dari balik pintu utama. Vania mendadak gelisah. Mengintip ke belakang punggung pria berbaju seragam sorum itu penuh tanya. "Ya, ada keperluan apa?" "Silakan, tanda tangan di sini dan lembar terakhir." "Aku tidak mengerti." Vania mundur selangkah dan mendengar Sarah menghampiri. "Kami bertugas sebagai pengantar mobil baru." "Ini pasti lelucon. Sejak kapan sahabatku membeli mobil baru?" Sarah membeku saat melihat kertas di depan mata. Vania tak bisa bersuara. Menatap kendaraan di luar dengan mulut terkatup. "Aku tidak memesan barang apa pun termasuk itu. Namanya?" Sang petugas saling berpandangan. "Tertulis di kartu adalah Vania." "Bukan itu maksudnya. Siapa yang membayar lunas?" "Maaf. Kami tidak tahu," sahutnya. Sarah ikut tercengang dan Vania memilih segera menandatangani berkas dengan stempel tebal. Sesaat dia merasa panik ketika salah satunya memberinya kunci dan buku panduan, memarkirkan mobil baru di garasi. Vania bungkam. Setelah kepergian dua petugas sorum dengan gembira itu, dia memandang nanar pada kendaraan yang ada di halamannya. "Aku menukar mobil lama untuk mendapatkan barang murah dan bagus. Tidak mengharapkan mendapat ini." "Fagan?" tebak Sarah. Bibir Vania menipis muram. "Beri aku kesabaran lebih banyak. Kenapa dia terus berbuat semaunya?" "Karena dia mampu." Sarah bersiul sembari melirik Vania yang kaku. "Luar biasa. Harganya fantastis dan kita berdua tak akan sanggup. Kalau kau tidak menolaknya, biar aku yang mencoba." "Ambil saja," sela Vania tak peduli. Sarah lekas mengambil kunci yang sahabatnya tinggalkan. Kedua matanya melebar, menghela napas panjang. "Tadi hanya bercanda. Dasar, jangan dianggap serius."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN