TA - 30

2089 Kata
Lantai dansa penuh dengan kerumunan manusia yang saling terlena satu sama lain. Setiap alunan musik memancar dari pengeras suara yang menyapa telinga. Vania beruntung karena lapisan kaca tebal serta ruang kedap membantunya untuk menjauh dari musik berisik yang bisa membuat kepalanya sakit. "Kau menunggu siapa?" "Tidak ada." Sarah menautkan alis. Memberi senyum tipis saat bibirnya mengulum tepi gelas berkaki dengan kepala meneleng. "Fagan, benar?" "Tidak." Vania berbalik, bersandar pada kaca yang menghubungkan antara ruang pribadi eksekutif dengan dasar. "Aku tidak sedang memikirkan pria itu." "Kau berutang cerita padaku." "Tentang?" mata itu melirik penasaran. "Anak pemimpin negara ini. Bagaimana perjodohannya? Aku bertanya darimu sebagai sisi kekasih palsu." Sarah mendesis dan Vania mendengus. Terkadang sahabatnya bertingkah berlebihan. "Gagal dan Elin terlalu buruk untuk Fagan yang tanpa cela." Satu alis Sarah naik. "Kau yakin?" "Itu realita," timpal Vania mantap. "Kau tahu reputasi perempuan itu kacau. Elin selalu bersikap sinis padaku." "Karena kau menggandeng pria paling tampan dan menjadi incaran. Reaksi terlanjur biasa dari para gadis yang merasa dirinya memiliki segalanya. Oh, kecuali pasangan ideal. Fagan pantas untuk bersanding. Dia seperti golongan darah, tipe semua orang." Vania mengulas senyum samar. "Kau bercanda tapi aku setuju dengan itu. Tatapan para gadis seperti sebal kepadaku. Mereka siap menggeser posisi ini kapan saja." "Mereka hanya perlu berkenalan dengan perempuan luar biasa berbakat. Seorang pekerja keras yang lucu karena tak tahu siapa Fagan pada mulanya. Mengira pria itu hanya sambil lalu," kata Sarah muram bibirnya tertarik membentuk satu senyum sindiran. "Keduanya terlibat pelukan singkat dan terus berlanjut sampai sekarang. Kencan adalah buktinya." "Ini semua hanya permainan," tukas Vania dingin. Sarah menaikkan dua bahunya. "Tentu. Aku sangat percaya padamu." Vania menghela napas. Berbalik untuk menghadap jendela saat kedua matanya terbuka, hidungnya berkerut dan Sarah turun untuk melihat dari sisi sahabatnya. "Fagan ada di sini." "Seperti yang kuduga. Kau mau menemuinya atau bersembunyi?" tanya Sarah. "Aku tidak ingin menemuinya." Kepala Sarah terangguk. "Oke, waktunya pulang. Aku mengurus sisanya," dia melihat temannya berlari cepat. "Aku pikir kau membutuhkannya? Kau baru saja memutar lagu sedih." Vania terperangah dan tidak lagi peduli. Kekehan Sarah muncul setelah melambai ke arah Vania yang mulai tidak terlihat. Vania bersembunyi di sebuah tempat kecil yang berisikan sekumpulan laporan. Saat Sarah mengerutkan kening, menemukan pandangan Fagan bertemu dengannya segera memberi sikap ramah. Mengangkat minuman dan Fagan berjalan di tengah kerumunan dengan datar untuk menaiki tangga. Fagan tidak sebaik itu mengetuk pintu dan Sarah tidak bisa menyalahkan kelakuan pria itu sama sekali. Dia memang terkenal tidak terbantahkan. Cenderung misterius dan tak terlalu suka diusik. "Aku mencari Vania." "Pacarmu baru saja pergi," balas Sarah ringan. Wajah pria itu menyiratkan pertanyaan. "Kenapa dia kembali secepat ini?" "Seribu persen alasannya lelah. Kalau kau tidak percaya, periksa saja ruangan ini. Aku bosan menyembunyikan sahabatku yang mudah tertidur." Fagan memberikan satu decakan keras. "Dia bukan pemalas." Sarah diam. Mengambil napas dengan bibir berkedut geli. "Kau benar, itu perumpamaan santai. Aku sering memanggilnya begitu. Kita berdua paham betul betapa rajinnya manusia satu itu." Sementara Fagan berdiri seperti anak tersesat, Sarah mendesah kalah. "Apa yang kau butuhkan? Kalian kurang berkomunikasi?" "Tidak," akunya dengan raut masam. "Apa dia menceritakan sesuatu padamu?" Kepala Sarah menggeleng tiga kali. "Vania berpikir tidak ada yang serius dan tampak santai." "Begitu," balasnya. Sorot matanya menyipit memindai di setiap ruangan dan sama sekali tidak menemukan adanya kehadiran Vania di tempat ini. "Dia terus menghindariku." "Untuk apa?" Fagan menggeleng bingung. "Aku tidak tahu." "Vania tidak menghindari seseorang kalau kau tidak mencari urusan dengannya," ujar Sarah memberi penjelasan. Sementara Sarah masih berceloteh, sinar mata Fagan berubah padanya. "Apa dia terbiasa melarikan diri setiap kali tertekan?" Sarah memamerkan sebuah senyum misterius. "Bisa kusebut terkadang. Biar kuberitahu satu hal padamu, Vania bukan wanita yang mudah. Dia berjuang keras sampai ke titik ini. Sahabatku hanya meninggalkan apa yang tidak pantas untuknya di belakang. Jika kau merasa, itu artinya berarti kalian tidak cocok." "Aku tidak menyukai kalimatmu yang tadi," timpal Fagan. Ekspresi Sarah menyiratkan kalau dia menyerah. Tapi itu semua berlalu dan Fagan memang suka memberi reaksi. "Terserah, aku menganggap kau bercanda saat mengatakannya. Ketika kami berdebat, Vania yang berbesar hati datang ke rumahku dan meminta maaf. Walau semesta tahu benar aku yang bersalah. Dia memang perempuan spesial." Fagan berdiri tanpa ekspresi. Sarah terbiasa menghadapi pria bersifat aneh seperti Fagan di diri orang lain. Walau paras mereka tidak serupa malaikat di depannya yang paling penting Sarah sudah hapal. "Kau tahu kami berpacaran?" "Menurutmu?" kedua mata Sarah berbinar. "Vania banyak membatasi kisahnya dariku. Namun hubungan lelucon yang kalian jalani, dia tidak bisa diam." "Aku serius menjalani kencan ini bersamanya." Kedua mata Sarah menilai. "Kau bisa memperjelasnya lagi." "Aku memiliki rencana melamar dan menikahi dirinya," akhirnya Fagan mengutarakan keinginannya kepada Sarah. Dengusan pelan mampir. "Kau ingin aku mencoba membantu?" Fagan menolak ide tersebut. "Tidak usah, biarkan menjadi urusanku." "Aku berdoa untukmu. Karena dalam suatu hubungan, terdapat satu orang raja. Kau yang menempatinya sekarang." Raut Fagan masih nampak kaku. Begitu pula Sarah yang sama. Dia akan selalu menjadi pelindung bagi Vania kapan pun itu. "Kalau kau serius, seharusnya memberikan perhatian lebih yang spesifik. Bukan melihatnya dari sudut pandang lain." Sarah mungkin terlalu jauh mengobrol. Tetapi dirinya tidak tahan melihat Vania merasa ragu karena wanita itu menyayangi Kenta sebagai anggota keluarga baru. Prinsip rasional sahabatnya mulai terguncang. Ajakan Fagan untuk menikah resmi dan menjadikannya ibu hanya demi seorang anak dan cucu yang dinantikan Kenta membuat Sarah sedih. "Jaga bicaramu," kata Fagan datar. Mata yang memancar dari mata Fagan bukan kegembiraan. Sarah hanya mengangkat bahu santai, melambai singkat setelah Fagan mundur dan menutup pintu. Kemudian mengambil napas panjang, menghabiskan sisa minuman dalam gelas. Vania keluar lima menit selanjutnya. Selagi Sarah melirik Fagan yang pergi menuju ruang utama secepat kilat. Eksistensi pria itu bagaikan awan mendung yang tersapu angin. "Aku mendengarmu dengan sangat jelas di sana." "Kau ingin mengomel sekarang?" Sarah menjawab datar setelah duduk di sofa. Vania merasakan pusing. Dia meraih kursi, beristirahat di sana dengan kaki diluruskan. "Tidak, menurutku kau bicara terlalu banyak dan aku sangat berterima kasih karena kau menolong." Sarah menatap sahabatnya dengan pandangan penuh kasih. "Vania, percayalah aku tidak mau kau mendengar sekumpulan lagu merana yang melegenda. Tidak berlaku, kau tak akan menyetel itu untuk Fagan." *** Vania baru saja selesai memberi makan kedua ikannya. Mereka masih saling menjaga jarak, berjauhan dan Milen yang manis terus bersembunyi. Dia bisa sakit karena Fagan terlalu dingin terhadapnya. Bel pintu rumahnya berdering. Vania berpendapat itu Sarah yang sengaja membuatnya tidak bisa tidur atau bersantai sejenak. Setelah selesai bekerja Vania pulang diantar Sarah sampai rumah. "Kau seharusnya tidak kembali datang atau lebih baik menginap saja." Fagan menatapnya datar. Seakan sesuatu yang terpendam mencoba mengusik keluar. "Biarkan aku masuk." "Aku tidak berniat menahanmu tetap di pintu." Vania sengaja bergeser agar membuka lebih lebar. Dia tidak mau menciptakan drama baru yang mengganggu tidur tetangga rumah. Tarikan napas pria itu terdengar. Vania melirik penuh perhatian, mengamati penampilan berantakan Fagan yang memikat. Lalu merasa merinding karena parfum mahal pria itu menyapa kulit lehernya seperti sentuhan geli. "Kau dari mana?" tanya Fagan setelah mampu mengendalikan situasi. "Sibuk karena bekerja," balasnya. "Apa itu?" Fagan mengulang dengan kurang percaya. "Kau di kantor bersama Sarah. Berdansa dengan orang asing atau mencium?" Ya ampun, Fagan aneh sekali. "Kau salah paham." "Benarkah?" Fagan terusik setelah memandang wajah cantik Vania cukup lama. Vania memiringkan kepala hanya untuk memberi pandangan terkejut pada pria itu. "Berhentilah mengomel. Kau bertindak sebagai pacar pencemburu yang menyebalkan." "Aku memang melakukannya dan dirimu perlu menerima." "Kau sebenarnya sakit," timpal Vania acuh. "Aku tak bisa membiarkan diriku kurang leluasa bebas." "Kalau perempuan itu dirimu, kau pantas berada dalam sangkar emas." Fagan masih tidak mau kalah. "Kau tidak tersentuh dan bagiku terasa tidak nyata," balas Vania lirih. "Jangan mendelik atau kau bisa membuat ikanku menangis." "Aku marah padamu dan bukan dengan mereka berdua," sahut Fagan setelah melihat hewan mungil itu hanya menonton. "Aura suram milikmu menyebar ke seluruh ruangan di sini," ungkap Vania sambil menunjuk atap rumah. "Penunggunya kepanasan berkat dirimu." Fagan menarik napas. Di sisi lain gelisah dan lapar, bukan arti karena butuh makan. Dia terpesona karena melihat Vania yang memakai pakaian menakjubkan. Kapan Vania membuatnya berhenti kagum? "Apa motivasimu lari dariku?" Fagan mundur dua langkah, memberi kekasihnya ruang. Alis Vania yang terukir bertaut. "Aku tidak menghindarimu." "Aku tidak ingin mendengar alasan dustamu. Kau jelas melakukannya. Malam itu pamit padaku dengan dalih kurang sehat juga pada ayahku. Demi Tuhan Vania, kami berdua khawatir." "Kami?" Vania terkejut spontan. "Aku dan ayah." Vania tersenyum lirih. "Itu hanya pemikiranmu dan aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih telah mencemaskanku. Aku terharu sekarang." Fagan bergeming tetapi rautnya yang dingin menggambarkan arti lain. Vania merasa dirinya payah mengendalikan diri. Bersama Fagan semua terasa lepas. Ia tidak bisa berpegangan pada tali atau apa pun. Seolah dia ditakdirkan satu dengan pria itu. "Apa kau menemukan sesuatu di kamarku?" Vania membeku sekilas. Ingatan semalam saat dia tak sengaja menyentuh sebuah foto dan membersihkan sisanya cepat hingga menukar pigura baru mungkin membuat Fagan tidak menyadarinya. "Tidak ada selain gambar kau dan ibumu lalu Ivan?" Sepasang matanya menyipit, Fagan curiga padanya. Tentu, dia pria tanpa kekurangan. Karena itu kamar pribadi lambat laun akan menyadari apa yang salah. Vania hanya terlalu terkejut kemarin. "Katakan yang salah dari sana, aku mendengarkan kejujuran." Fagan meminta pada Vania yang dilema. Vania menunduk dan tidak memilih untuk bersuara lebih lanjut. Saat dia berjalan mundur, memperlebar jarak di antara mereka dan pergi ke kamar tidurnya sendiri. Membiarkan Fagan menyendiri di ruang tengah. "Kau menemui ayahku lagi?" Vania menggeleng pelan. "Tidak." Secara sembarangan Fagan masuk ke dalam kamar. Vania menatap pria itu dari cermin meja rias, merasa kesal dan tidak bisa berbuat apa pun selain mendengus. "Lantas?" Kemudian menoleh menghadap pria itu dan menyadari Fagan terlalu tinggi. Tapi dia sebetulnya tidak pendek. Vania hanya sebatas dagu dan merasa kecil karena Fagan bisa melihat secara menyeluruh. "Dengan siapa kau menghabiskan hari?" "Sendirian," sahut wanita itu singkat. "Jangan berbohong padaku." Fagan mengembuskan napas panjang setelah mendengar jawaban sang kekasih. "Aku bersumpah," Vania memejamkan mata, mendekatkan jarak di antara mereka dan memastikan kalau Fagan sedang memandangnya. "Tak ada siapa pun. Restoran dan tambahan pekerjaan membuatku sangat letih." Wangi Fagan yang mahal mampir di hidungnya. Vania menghela napas, mencoba memisahkan aroma dirinya sendiri, pengharum ruangan dan pria itu. Kini semua menjadi satu. Secara garis besar terasa tepat dan Vania menolak memercayainya semudah itu. "Aku mencarimu ke kantor dan bertemu Sarah di sana. Sahabatmu perlu diajarkan tata krama karena dia kurang sopan," sela Fagan mengingatkan. Vania memberinya cibiran. "Dia sudah paham semua hal tentang menghadapi pria sepertimu." "Kenapa harus diriku?" Fagan tidak mengerti. "Entahlah," Vania tidak memahami alasannya tengah tersenyum lebar seperti bocah yang menemukan toko permen tersembunyi di sebuah ruko. Fagan termenung selama beberapa menit. Mengamati wajah itu dan sengaja menetap di bibirnya. Sampai matanya berjalan naik menyadari sinar bercahaya dari kedua iris hutan di hadapannya. "Apa kau memikirkan pria lain?" Vania mengakui dengan gelengan. Semuanya terselimuti kabut ketika Fagan meraih untuk menciumnya. Perlu mendekap Vania untuk membuatnya bisa merasa lega karena seharian ini tidak sepenuhnya fokus pada tujuan. Semua tentang Fagan dan cara pria itu mengasihinya seolah tiada hari esok membuat Vania bersemangat penuh antisipasi. Dia panik tapi di sisi lain merasa dicintai. Sebelah tangan Fagan mengusap rambutnya gemas. Vania senang bagaimana tangan itu bersikap lembut lalu yang lain mengusap pipinya. Gestur perhatian itu membuat dirinya merona. Tidak ada yang terucap selain sentuhan dan Fagan yang terus memujanya. Vania menahan napas, menyandarkan kepala di bahu kekasihnya dan melirik pria itu sekilas. "Aku tidak bisa berpaling darimu," gumam Fagan tanpa mau melepaskan pelukan. "Karena aku cantik?" Fagan tertawa lamat. "Lebih dari itu." "Aku tidak bisa berpikir lagi." Manik gelapnya kembali terbuka, melihat mata yang memancarkan kehangatan serupa. Tindakan Fagan kali ini membuat Vania terlena. Vania berbaring, menunggu pria itu yang turut memandangnya dengan satu senyum menawan. Sarah bicara kebenaran soal kisah Fagan selama ini. Vania tidak perlu bersikap kaku andai dirinya merasa menyesal. Sebelumnya telah usai dan berhasil membuat malam singkat mereka bermakna dan terkenang untuk waktu yang lama. "Kau tidak boleh memikirkan perempuan lain sekarang." Fagan tampak berusaha untuk tidak tersenyum. Ketika dia mendongak menatap mata Vania dari jarak dekat. "Lebih tepatnya tidak bisa membayangkan siapa pun selain dirimu." Vania refleks tertawa dan semua berkat Sarah di kantor tadi. Sedangkan Fagan larut, merasa mendamba sekaligus kalah karena wanita itu. Karena setelahnya Vania merasa tidak bisa menunggu lagi. Fagan membuatnya lupa diri karena kehadirannya membuat rindu. Dirinya hanya ingin sedekat ini, bersama menghabiskan hari hingga pagi menjelang. Vania tidak tahu berapa lama dia mampu bertahan. Dekapan erat Fagan mengosongkan pikirannya. Seharian dia hanya berpikir tentang pria itu kemudian memeluk tanpa harus mencemaskan apa pun. Fagan melengkapinya dengan cara yang sempat Vania abaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN