"Apa aku lolos?"
Vania mengambil napas berat. "Belum dipastikan. Kau hanya perlu menunggu dan tidak perlu berharap banyak pada apa pun."
"Itu artinya aku ditolak?"
Alis Sarah mengernyit satu sama lain. Saat perempuan itu menyeruput minuman dingin dari kaleng dan bersandar di tepi meja. "Belum tentu, teman. Vania hanya memberimu kesempatan untuk mencari pekerjaan lain yang pantas. Coba saja peruntunganmu dulu."
"Aku merasa cocok di sini," dalihnya cukup serius. Binar mata pekatnya tampak redup. "Aku punya rumah sewa kecil yang pengap di dekat restoran ini. Kalau berjalan lebih jauh lagi, itu jelas mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit. Aku mendengar tempat di sini akan buka dari tetangga sebelah rumah."
Sarah mengambil napas lelah. "Oke, cukup alasannya. Biar kami yang memutuskan itu nanti. Terima kasih karena telah menaruh surat lamaran di sini."
"Tapi bisakah mendapatkan jawaban? Aku ingin bekerja sungguhan."
"Apa kau ceroboh?" Vania mengarah tepat pada kemalangan yang selalu menimpa dirinya. Sebelumnya keluhan yang sama selalu mampir. Dia telah mendapat teguran empat kali sebelum dipulangkan di muka umum. "Aku benar. Kau tidak bekerja dengan serius."
"Aku pernah mendapatkannya dulu di tempat kerja lamaku. Aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi. Apa Anda mau memberi pilihan untuk merenungkannya ulang?"
Vania meneleng, memperbaiki tempat duduknya dengan pandangan masam. "Aku belum bisa menentukan. Lagi pula, kau bilang sendiri jika merasa senang ketika menyambut mereka sekaligus mencarikan tempat duduk terbaik."
"Aku terbiasa berdiri selama delapan jam sehari. Kalau aku memegang pekerjaan lain, diriku pasti mengacau."
Bibir Sarah tertarik ke bawah. "Kami menyukai orang yang serba bisa. Apa artinya? Tidak hebat hanya pada satu pekerjaan."
Ekspresi wajahnya yang mungil berubah sendu. Saat si gadis muda mengangguk, memegang kedua tangannya di depan kemeja putih lusuh. "Realitanya begitu. Semua atasan menginginkan pegawainya memiliki keahlian ganda. Tapi terima kasih banyak karena memberiku waktu mengobrol. Aku undur diri, selamat pagi."
"Kasihan sekali dia," kata Vania pelan. "Gadis itu gemetar sejak tadi. Aku rasa dia tengah kesulitan."
"Kita mencari pekerja yang bisa diandalkan. Satu lagi, ini bukan balai sosial. Kau perlu mencari orang yang bertalenta dan berpotensial."
Vania tercenung. Sementara Sarah menaruh kaleng soda kosongnya ke tempat sampah. "Aku menyeleksi lagi nanti. Kalau ada perubahan yang memintanya kembali kemari, dia layak diberitahu."
"Vania akan selamanya menjadi ibu peri," Sarah tidak terdengar sinis. "Kau terlihat kusut pagi ini. Fagan berulah lagi?"
"Siapa?" Vania kebingungan.
"Aku tidak bertanya soal Fagan ikan dengan Milen yang kurang berguna. Aku bertanya tentangmu. Kau dan Fagan berselisih?'
"Kami masih seperti biasa, atas dasar apa bicara begitu?"
"Menurutku kau tidak nampak sehat. Apa dia lupa memelukmu semalam?" Sarah terkekeh pelan.
"Jangan bercanda. Aku melihat ayahnya kemarin dan dia mengantarku pulang dengan selamat," Vania membalas malas. "Aku tidak punya tenaga untuk berdebat dengan siapa pun sekarang."
Sarah mengangkat satu alis curiga. "Kau kekurangan tambahan dana. Apa ini yang membuatmu tersinggung?"
Sepasang bola mata teduh Vania melebar. Sedangkan sahabatnya memberi cebikan samar. "Tepat sekali. Fagan atau Kenta yang memberikan kesepakatan bantuan konyol?"
"Kepintaranmu terkadang merisaukan," ungkap Vania setengah mengantuk.
"Kegelisahanmu membuatku terusik."
Vania mendengus. "Lupakan saja. Aku tidak memberi proposal kepada siapa pun karena bukan sedang membuka saham."
"Seharusnya aku benar. Kau dan Fagan hanya sandiwara. Memiliki sesuatu yang tertinggal tidak akan merubah apa pun dan hanya menumpuk beban di masa depan," ujar Sarah memaklumi. "Lantas apa yang membuatmu terlihat sakit dan putus asa?"
Vania bangun dari kursi. Memperbaiki blus hijau daun yang melekat dengan pandangan skeptis. "Tidak ada, kau salah sangka."
"Tuhan bersikap baik dengan mengasih ketabahan padaku."
Senyum Vania merekah manis.
***
"Kau datang," sapa Nina tanpa raut berarti setelah membuka pintu.
"Tentu saja. Dia berjanji tidak ada putranya siang ini dan memastikan Fagan sangat sibuk. Jadi aku berdiri di depan rumah."
Nina memberi akses masuk dengan senyum tipis. Seperti khas Nina, wanita profesional yang bisa berubah saat Kenta terkena penyakit mendadak. Ketika dia berjalan masuk, mendapati Nina mengamatinya lekat. "Kau terbilang tak masuk akal. Kebanyakan dari mereka ingin melihat Fagan, bukan Kenta."
"Ayahnya menyenangkan. Aku menyukai kepribadiannya. Perempuan di luar sana sengaja mendekati Fagan semata," kata Vania seraya berbalik. "Aku membawa makanan juga."
"Kenta sudah menyantap makan siang."
"Bukan untuknya tapi untukmu. Aku tidak tahu asalmu dari mana dan logatmu sangat bagus. Ini, cobalah dulu. Rekomendasi dari restoran yang menjadi tempat kesukaanku dan Sarah."
Nina menatapnya penuh keterkejutan. "Kau serius?"
"Nina, seandainya bergurau aku akan menarik tanganku lagi. Tidak, ini benar khusus untukmu. Ayo, ambil dan duduk di ruangan. Kau bisa bersantai sambil makan siang selagi aku berbicara bersama Kenta di lantai atas."
Vania melihat Nina penuh haru saat mata mereka bertemu dan segera menghapusnya sebelum kerapuhan memengaruhi dirinya dari segi luar.
"Aku tersanjung."
"Sama-sama. Aku bisa mencarinya sendiri." Vania melambai setelah Nina melesat ke dapur.
Nina memberi isyarat setuju dan Vania melangkah melewati ruangan dan menemukan Kenta sedang bersantai di taman belakang yang rindang karena siang sejuk dan cuaca sedikit mendung.
"Maaf membuat terganggu di jam luang."
"Vania, contoh kesengajaan yang kutunggu. Bergabunglah kemari aku ingin ditemani." Kenta terlihat riang melihat Vania menuju ke sofa panjang.
Vania memperlihatkan senyum ramah. "Aku senang mendengar saat dirimu menelepon. Nomorku ada manfaatnya."
"Aku tidak perlu mengejar Fagan lagi. Kau dengan senang hati datang menemani," balas Kenta gembira. "Mengapa kau pulang semalam?"
"Ada pekerjaan di restoran baru yaitu mempertimbangkan calon pegawai yang bekerja bersamaku," balasnya tanpa mau melihat wajah Kenta berubah sedih.
"Apa kau melakukan wawancara?" Kenta sangat antusias mendengar cerita.
"Iya dan cukup melelahkan."
"Aku sempat merasakannya dan sudah agak lama. Sedikit sulit karena aku tidak bisa memandang wajah redup di ekspresi pelamar saat itu," timpal Kenta. "Tapi aku harus. Sebagian murni karena peluang dan mereka melaluinya semua tahapan sangat baik."
"Aku mengakuinya," ujar Vania setuju.
"Ada apa di antara dirimu dan Fagan?"
Alis Vania yang rapi mengerut. "Tidak, kami berdua baik-baik saja."
"Benarkah? Aku melihat putraku begitu cemas saat kau meminta pulang dengan dalih kurang sehat. Apa kau merasa pusing tadi malam?"
"Aku merasa sudah pulih," tepukan ringan hadir di bahu kaku Kenta. "Merasa terharu karena telah mengkhawatirkanku."
Sorot kelam yang senada dengan Fagan menatapnya lirih. Vania termenung, memikirkan kemiripan Fagan lebih cenderung dari sang ibu. Sementara Ivan menuruni rupa sang ayah. Mereka terlihat jelas sebagai anak dari pasangan yang penuh cinta dan bahagia. Tetapi kesinisan Fagan mungkin mengubahnya secara konstan.
"Aku tidak ingin katakan ini, tetapi harus bicara. Andaikan Fagan tertarik padamu atau perasaan mendalam lain yang tak bisa dia ungkapkan," ucap Kenta tanpa terbata dan mantap. "Dan benar mungkin dia jatuh cinta. Aku tidak tahu putraku berada di titik mana sekarang."
"Haruskah kita membahas ini?" karena Vania merasa dirinya tak sanggup saat seseorang berbicara soal cinta.
"Kau tidak nyaman, ya? Maafkan aku." Kenta tersenyum menyesal.
Senyum Vania terpatri tulus. "Tidak perlu merasa seperti itu. Kau melebihi dugaan dan aku menghormatimu sebagai orangtua. Terlepas aku dan Fagan tak memiliki hubungan apa pun selain sebatas teman kencan biasa."
Kenta meringis menahan geli. "Kalian berdua lucu dan aku sepakat. Ide bersama itu perlu. Walau aku ingin Fagan segera menikah, aku tidak mau dia salah memilih. Pencarian itu perlu dan anakku sedang berusaha sekarang."
Vania mengiyakan dalam hati. Ia tidak akan berkata jujur kalau Fagan pernah memintanya untuk melahirkan seorang anak setelah resmi menyandang status istri. Calon bayi mereka sebagai kado terindah. Terdengar tak masuk akal dan Vania tidak habis pikir dengan ide sesaat pria itu sama sekali. Namun ada baiknya tetap membiarkannya menjadi rahasia.