Sang dokter berkacamata mendongak. Memamerkan senyum di usia yang tidak lagi muda dengan ramah. Badannya membungkuk, mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Selamat pagi. Kupikir kau datang sendiri," tegurnya pada Fagan yang datar. Dari matanya sang dokter bisa menduga bahwa pria itu gugup. Kecemasan mengaliri matanya yang kelam. "Aku menemani seandainya dia mengacau," kata Vania dengan senyum. "Dia cenderung rewel karena banyak hal. Kuharap semuanya berjalan lancar tanpa kendala." "Untuk proses ini tidak akan mengalami banyak sandungan yang sulit. Selama pasangan saling mendukung satu sama lain, semua bisa teratasi." Kepala itu terangguk. "Aku datang untuk itu." "Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" Dokter bangun setelah memeriksa berkas laporan. Memandang Fagan dan Vania bergantian. "

