Atmosfir mulai bertahap berubah memenuhi ruang makan yang luas. Si kembar menyantap pizza dengan riang dan sama sekali tidak tersentuh dengan sapuan suasana yang mendadak suram. Alena memberi lirikan pada sang suami yang sama bingungnya dengan keadaan. Sementara Fagan seolah tidak tergoyahkan. Ekspresinya terlanjur kaku, bagaikan es di kutub utara. "Mau apa dia datang bertemu ayah?" Alena mengangkat bahu. Ia tidak punya hak untuk bersuara selagi ada Vania bersama mereka. Baginya, Fagan layak mendapat kehidupan baru terlepas dari bayang perempuan licik yang bisa saja kembali membuat hati adik iparnya terluka. "Apa lagi yang dia inginkan?" suara Ivan terkesan dalam dan tidak suka. "Ayah memberinya kesempatan untuk bercerita." Sindiran itu membawa pada ayahnya, Kenta yang memang memberi

