Liciknya Laras

1331 Kata
~Selamat membaca~ "Halo Nisa," "Ya bu.." "Tolong kamu rekap semua pemasukan toko tiga bulan terakhir, lalu kirim hasil rekapitulasi penghitungan laba ruginya ke emailku." Pinta Serena membuat Nisa sedikit heran. Tak biasanya Serena meminta laporan keuangan apalagi untuk triwulan mundur. Namun Nisa tak memiliki hak untuk bertanya apapun selain mengiyakan permintaan sang pemilik toko. "Baik bu, mungkin butuh waktu tidak sebentar mengingat aku harus merekapnya seorang diri." Ujar Nisa tak enak hati. "Tak apa, aku tidak memintamu buru buru. Lakukan besok bila belum sempat terselesaikan hari ini. Untuk urusan pelayanan customer, serahkan sementara kepada Dewa juga Ina." Titah Serena tak mempermasalahkan keterlambatan laporan yang ia minta. "Baik bu," sahut Nisa patuh. Setelah menghubungi Nisa, Serena melanjutkan perjalanannya menuju kantor notaris. Entah apa yang sedang wanita itu lakukan dengan mengunjungi kantor tersebut, yang pasti Serena membawa beberapa berkas penting di jok penumpang di sampingnya. ********* "Serena meminta cerai padaku," ucap Garen datar, membuat wanita yang sedang bersamanya tersenyum lebar. "Benarkah? Lalu?" "Lalu apa? Kamu berharap aku akan langsung menyetujuinya begitu saja?" Sarkas Garen terdengar tak menyukai pertanyaan sang kekasih. Riak wajah Laras langsung berubah masam. "Kan aku hanya bertanya, kenapa kamu malah terlihat marah begini? Jangan bilang kamu mulai berubah pikiran mas?" Tuduh Laras curiga. "Jika kamu terus mendesak untuk hal yang sama, mungkin aku akan benar benar berubah pikiran Laras." Suara bariton Garen mulai terdengar lugas. Sepertinya laki laki itu tidak suka di desak bahkan oleh kekasihnya sendiri. Ataukah cinta Garen tak sekuat itu terhadap Laras? Hanya pria itu yang mampu menyelami sedalam apa hatinya menginginkan Laras daripada Serena. "Sepertinya mood kamu sedang gak bagus mas, aku akan melanjutkan pekerjaanku saja. Jika suasana hatimu sudah membaik, mas tau kemana harus mencariku." Tukas Laras memilih pergi meninggalkan sang kekasih. Itulah satu satunya cara dirinya mempertahankan hubungan mereka selama ini. Mengalah bagi Laras lebih baik daripada memperparah keadaan yang akan berujung pertengkaran. Garen tak peduli dengan siapa dirinya berhadapan bila suasana hatinya sedang buruk, maka jangan coba coba memancing emosi pria itu jika tak ingin berakhir dengan tak menyenangkan. Sepeninggalan sang kekasih, Garen menatap potret pernikahannya dengan Serena satu tahun yang lalu. Tak ada yang kurang dari sosok istrinya. Serena adalah wanita yang sangat cantik dan terdidik dengan baik meski bukan berasal dari kalangan keluarga pejabat atau pengusaha. Serena wanita anggun yang penurut dan tak banyak bicara. Sayang sekali, Garen telah memiliki tambatan hati yaitu Laras Susanto jauh sebelum dirinya terpaksa menikahi Serena karena suatu peristiwa tak di sengaja. "Aku tak menyangka, kamu memiliki keberanian untuk meminta perpisahan yang selama ini aku harapkan. Tapi kenapa rasanya hatiku masih belum rela melepaskan ikatan pernikahan kita terlalu cepat. Aku benci rasa bersalah ini Serena, aku benci mengakui kebenaran yang sesungguhnya di hadapanmu. Aku benci fakta aku masih bisa menghirup udara bebas, hanya karena keluargaku memiliki kekuasaan yang membuaku bisa berkeliaran tanpa tersentuh hukum sama sekali. Fakta fakta ini membuatku tertekan selama pernikahan kita. Setiap melihat wajahmu, bayangan buruk itu seakan akan menari nari di pelupuk mataku. Hanya itu kekuranganmu, kamu membuatku terus teringat akan dosa yang tanpa sengaja aku telah lakukan. Kamu bagai mimpi buruk di setiap malamku Seren," lirih Garen kemudian memindahkan bingkai foto pernikahannya ke dalam keranjang sampah. Untaian panjang isi hati Garen di dengar oleh sang asisten. Pria itu memilih mundur perlahan dan kembali ke ruangannya. Padahal dirinya hanya ingin menyampaikan apa yang dirinya ketahui tentang kegiatan Serena hari ini. Rupanya wanita itu sedang membuat semacam surat wasiat dengan seorang pengacara ternama. Herman Paris. Namun melihat situasi sang atasan, Seno memilih untuk tak menyampaikan informasi tersebut. Mungkin ada baiknya bila Garen tak perlu lagi mengetahui aktivitas istrinya hingga perpisahan terjadi. Agar keduanya dapat saling melepaskan tanpa beban apapun. "Apakah anda yakin tuan?" "Sudahi saja jangan menanyakan keyakinanku, Endarto. Sisa bayaranmu akan langsung aku transfer setelah ini, jadi berhentilah mengikuti nyonya Serena." Perintah Seno kepada orang suruhannya. "Baikal tuan, kalau begitu saya akan pergi sekarang sebelum nyonya mencurigai keberadaan saya di kantor ini." Ujar Endarto melaporkan sebelum dirinya benar benar meninggalkan kantor notaris, di mana Serena tengah melakukan pertemuan dengan seorang pengacara kondang. "Pergilah sekarang sebelum nyonya menyadari bila dirinya di ikuti oleh seorang penguntit," ucap Seno tanpa beban, kemudian memutuskan panggilan. Sedangkan Endarto mengeram kesal atas panggilan baru yang Seno sematkan kepadanya. "Enak saja aku di katakan penguntit," gerutu Endarto bersungut-sungut merutuki Seno. ********* "Terimakasih banyak tan, padahal uang yang tante transfer bulan lalu masih belum aku gunakan loh." Ujar Laras terkesan tak enak hati. "Tak apa sayang, tante hanya ingin memastikan kehidupanmu terjamin selama kamu belum bisa menikah dengan putra tante." Balas Corla yang tampaknya begitu perhatian terhadap calon menantu pilihannya itu. "Aku jadi tak enak hati terhadap istrinya Garen tan, seharusnya semua uang ini kan untuk Serena." Ujar Laras dengan nada bersalah. "Jangan sebut nama wanita pembawa sial itu sayang, tante muak mendengar namanya terdengar di mana mana. Kamu gunakan saja uang itu untuk kebutuhanmu, jangan pernah merasa sungkan atau tak enak hati kepada wanita mandul itu. Wanita seperti itu tak pantas untuk di kasihani," tandas Corla kejam. Laras menyeringai puas atas kemenangannya mendapatkan hati Corla sepenuhnya. Hanya tinggal menyingkirkan Serena, maka langkahnya untuk masuk ke dalam keluarga Rahardian tinggal menghitung mundur. "Terimakasih sekali lagi tan, aku tidak akan mengecewakan tante jika aku sudah menikah dengan Garen nanti. Akan aku penuhi mansion keluarga Rahardian dengan suara tangis tawa anak anakku dan mas Garen kelak. Doakan saja agar hubungan kami selalu langgeng," ucap Laras penuh empati palsu. Corla dengan girang mengamini harapan indah untuk mendapatkan cucu, dari wanita yang ia yakini sebagai calon menantu yang sepadan dengan keluarganya. "Tante selalu mendoakan kebahagiaan kamu sama Garen setiap saat sayang. Setelah menikah kamu bisa tinggal di mansion bersama kami agar tante bisa lebih mudah memantau kamu bila nanti kamu mengandung pewaris Rahadian." Tukas Corla antusias. "Tentu saja tante, dengan senang hati akan aku berikan cucu sebanyak yang tante inginkan. Dan bersiaplah untukku singkirkan wanita tua keriput." Laras menyeringai licik di balik benda pipih yang menghubungkan dirinya dengan sang calon mertua. Dan Corla yang tamak sepertinya akan menuai karma atas sikap buruknya terhadap Serena tanpa ia sadari. Obrolan tersebut terpaksa di hentikan kala Hidayat tiba tiba muncul dari arah pintu kamar. Corla tak pernah suka bila Hidayat berbicara buruk mengenai Laras calon menantu pilihannya. "Maaf sayang, tante harus melakukan sesuatu. Lain kali tante akan menghubungimu kembali, jaga dirimu baik baik." Pesan layaknya seorang ibu kepada putrinya membuat Hidayat menggeleng miris. Sedangkan Laras menyeringai puas setelah merasa telah menang mengambil seluruh empati Corla. "Kamu lihat sekarang Serena, ibu mertuamu bahkan tak pernah menginginkan dirimu. Lalu apa lagi yang harus kamu perjuangan dalam pernikahannya yang hampa tanpa rasa dengan kekasihku?" monolog Laras berbicara sendiri. Senyum mengerikan tercetak di bibir wanita berhati iblis tersebut, karena ia telah berhasil merebut semua perhatian Corla tertuju kepadanya. Laras kemudian mengetik sesuatu di handphonenya dengan senyum miring. "Hai Serena, aku rasa aku tak perlu lagi memperkenalkan diriku. Foto profilku sudah mampu menjelaskan segalanya, tanpa aku harus mengatakan kejujuran yang hanya akan menyakiti hatimu lebih dalam." Satu paragraf pertama pesan singkat yang masuk ke aplikasi hijaunya, mampu merubah ekspresi wajah Serena secara telak. Lalu tak lama pesan keduapun menyusul dengan untaian kata kata yang tak kalah menyakitkan. "Aku dengar kamu meminta cerai dari mas Garen? Aku rasa keputusanmu sudah benar Serena. Garen tak pernah menginginkan pernikahan kalian, cinta Garen hanya tertuju padaku bahkan hingga saat ini. Terimakasih karena kamu mulai sadar diri bahwasanya dirimu tak pernah di harapkan. Aku mohon kembalikan Garen padaku secepatnya, ya... Setiap hari Garen selalu mengeluhkan tentang pernikahan kalian yang terpaksa harus Garen jalani. Berhentilah terus menahan Garen dalam pernikahan tanpa cinta ini, kekasihku sangat tersiksa karena tak mampu melawan kehendak kakek Suryo. Bujuk pria tua itu agar pernikahan kalian segera usai , aku mohon..." Da da Serena bergemuruh hebat namun wanita itu tetap mencoba untuk menguasai ketenangan hatinya. Ia tau harus menjaga emosional diri kala berhadapan dengan wanita tak tau malu seperti Laras. Tanpa menggubris pesan selingkuhan suaminya, Serena memilih untuk mengabaikannya demi kewarasan dirinya. TBC Tinggalkan jejak kalian di kolam komentar Salam sayang author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN