Permintaan Serena
~Selamat membaca~
"Ayo bercerai," kalimat singkat, padat dan cukup jelas tersebut mampu membuat seorang pria tampan bernama Garen Rahardian terkejut bukan main. Pria itu menatap tak percaya pada wanita berwajah teduh di hadapannya tersebut, dengan berbagai macam pikiran berkecamuk.
"kamu yakin? Aku tak akan memungut sampah yang sudah aku buang, Serena. Pikirkan kembali permintaanmu sebelum kamu berkahir dengan penyesalan panjang." Pungkas Garen kemudian meraih tas kerjanya, lalu meninggalkan Serena yang masih bergeming di kursinya tanpa kata.
Suasana meja makan tersebut seketika sehening pemakaman. Seorang ART menghampiri Serena yang masih belum bergerak dari tempat duduknya dengan langkah ragu ragu.
"Bu...ada telepon dari nyonya Corla." Ucap wanita itu penuh rasa sungkan. Menyela situasi awkward tersebut bukanlah kehendaknya, namun panggilan dari nyonya besarnya juga lebih mencekam bila tak segera dia sampaikan.
Serena menyeka sudut matanya kemudian beranjak. Wanita itu rupanya sedang merenungi nasib pernikahannya yang sedang berada di ujung tanduk.
"Terimakasih bik, tolong makanan ini di buang saja. Maaf tak menghabiskan nasi goreng buatan bibik," ucap Serena penuh sesal. "Tapi percayalah, masakan bibik tak ada duanya." Ujar Serena penuh nada pujian yang tulus. Inilah yang membuat wanita paruh baya itu menaruh rasa hormat yang begitu besar terhadap Serena. Wanita muda itu begitu tulus dan berhati mulia terhadap siapa saja.
"Tidak apa apa bu, saya cukup mengerti keadaan yang terjadi." Timpal sang ART memaklumi.
Serena berjalan menuju ruang keluarga, wanita itu terlihat menarik nafas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk menjawab panggilan sang ibu mertua.
"Halo ma, maaf..Seren baru selesai sarapan." Sapa Serena ramah.
"Kamu tau mama paling tidak suka menunggu, Serena!" Terdengar sentakan bernada sinis di sambungan telepon, namun Serena hanya mengulas senyum tipis. Dia tau Corla tak akan melihat senyum manisnya, tetapi Serena merasa perlu untuk tetap menjaga stabilitas emosionalnya sendiri.
"Sekali lagi maaf atas keteledoran Seren, ma." Ujar Serena tak menyanggah.
"Bagaimana pendapat Garen tentang istri yang mama sarankan untuk mengandung pewaris keluarga Rahardian?" Pertanyaan tersebut terasa bagai tikaman belati yang menghunus tepat di jantung Serena. Namun wanita itu tetap menjaga kehormatan dirinya, dengan tidak langsung menyuarakan ketidakrelaannya.
"Seren belum sempat mengatakannya kepada mas Garen, ma." Aku Serena jujur dengan suara pelan. Ia yakin pasti akan langsung di cecar oleh kemarahan sang mertua.
Dan benar saja, Corla langsung histeris penuh drama seperti biasanya.
"Ya Tuhan, Serena! Apa susahnya kamu tinggal bilang sama Garen, kalau mama sudah menemukan wanita yang tepat untuk mengandung pewaris keluarga Rahardian. Atau jangan jangan kamu sengaja ingin mengulur waktu kan, agar kamu juga bisa meraih kesempatan untuk menjadi ibu dari calon cucuku?" Tuduh Corla dengan nada geram.
"Bukan seperti itu ma, Seren hanya butuh waktu lagi untuk..."
"Cukup Serena! Kamu tau kalau kamu itu sudah di vonis mandul oleh dokter. Seharusnya kamu sadar diri, bukannya malah membawa putraku dalam kesialanmu. Sudah syukur kami tidak membuangmu dari keluarga Rahardian. Kalau tidak, entah seperti apa jadinya anak yatim sepertimu bertahan hidup di dunia yang kejam ini." Kalimat pedas nan tajam tersebut bukan sekali dua kali Serena dengar. Namun dengan kesabaran setingkat dewa, Serena selalu mampu menerima semua kata kata menyakitkan itu dengan lapang da da.
Satu-satunya kenyataan yang paling kejam adalah kalimat tajam yang selalu mama lontarkan kepadaku tanpa perasaan. (Batin Serena)
"Tidak seperti itu ma, Serena baru akan menyampaikannya malam ini. Mas Garen sedang mengalami sedikit masalah di perusahaan, jadi Seren pikir mungkin lebih bijak bila menunggu situasi membaik." Jawaban Serena rupanya hanyalah angin lalu bagi Corla.
Nyatanya wanita itu malah mencebik sinis mendengar penuturan Serena, yang ia anggap hanya sebagai alasan yang mengada ada.
"Alasan kamu saja! Dengarkan mama baik baik Serena, keberadaan kamu di keluarga kami hanya karena permintaan mertua mama. Sudah sejak lama Garen kehilangan respek terhadapmu, seharusnya kamu sadar diri akan kekurangan yang kamu miliki." Pungkas Corla tanpa perasaan.
Wanita itu memutuskan panggilan sepihak meninggalkan sebongkah hati penuh sayatan luka tak berdarah. Serena meletakkan gagang telepon lalu memejamkan kedua matanya kembali. Sesak itu muncul setiap kali ia harus menahan perihnya torehan luka yang di berikan oleh sang ibu mertua.
Bulir bening meluncur tanpa permisi membasahi kedua pipi tirus Serena tanpa bisa ia tahan.
Sekelebat ingatan Serena kembali ke beberapa minggu yang lalu, di mana sebuah fakta menyakitkan terungkap tanpa sengaja terkuak langsung dari mulut suaminya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan hati, pria itu juga masih berhubungan dengan wanita yang dahulu adalah kekasihnya sebelum Garen menikah dengan dirinya.
"Kapan mas akan menceraikan Serena? Aku lelah dengan hubungan seperti ini mas," keluh Laras menatap manik coklat di hadapannya dengan tatapan memelas.
"Bersabarlah Laras, aku sedang berusaha menyudutkan Serena agar segera meminta untuk bercerai dengan segala tekanan yang ada." Sahut Garen datar.
"Tapi mas, sampai kapan? Sudah dua tahun mas, dua tahun! Mau berapa tahun lagi aku harus menunggu dan menjadi simpanan dari kekasihku sendiri." Protes Laras mulai jenuh dengan hubungan mereka yang tidak pernah Garen publis. Laras ingin di akui sebagai wanita yang Garen cintai, dan menjadikan Serena sebagai wanita yang telah merampas kebahagiaannya.
"Laras, berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Kamu tau sendiri semua keputusan mutlak berada di tangan kakek. Jika aku yang menceraikan Serena, maka aku akan kehilangan semua ini. Aku tak yakin kamu sanggup hidup dalam keterbatasan jika aku benar benar di coret oleh kakek dari daftar ahli warisnya." Tukas Garen lugas dan mampu menciptakan ekspresi masam di wajah Laras.
"Ck! Kenapa sih kakekmu bertindak egois. Padahal kan kamu gak sengaja juga menabrak kedua orang tua Serena sampai meninggal. Tidak harus bertanggung jawab dengan sebuah pernikahan dan mengorbankan perasaan kita seperti ini." Geram Laras menahan dongkol.
Serena terhenyak saat merasakan usapan lembut di pundaknya. Dengan senyum manis penuh luka, Serena berbalik menyapa Hidayat sang ayah mertua setelah memastikan kedua pipinya mengering sempurna. Lamunannya ambyar begitu saja oleh kehadiran Hidayat yang tiba-tiba.
"Papa kenapa datang gak kasih tau Serena dulu? Serena belum masak apa apa loh," ucap wanita itu merasa tak enak hati.
"Papa hanya mampir sebentar, sejak kemarin perasaan papa tak enak. Papa khawatir kamu atau Garen ada yang tidak enak badan," balas pria paruh baya itu mengulas senyum simpul.
Dia tau menantunya baru saja menangis. Air mata Serena boleh saja sudah mengering, tetapi mata sembab itu terlihat nyata meski hanya dengan sepintas lalu ia menatapnya.
Serena menggeleng cepat.
"Kami baik baik saja pa, tak ada yang perlu di khawatirkan. 'Kecuali perpisahan yang masih terasa berat untuk aku terima, hanya itu bagian yang tidak baik dalam hubungan ini." Tentu saja kalimat terakhir tersebut hanya mampu Serena ucapkan di dalam hatinya.
"Syukurlah, kalau begitu papa pamit ke kantor dulu. Jaga dirimu baik baik nak, jangan terlalu kelelahan. Serahkan semua urusan toko kepada Nisa saja," pesan Hidayat sebelum pergi.
Perhatian Hidayat inilah yang membuat Serena berat melepaskan statusnya sebagai istri seorang Garendra Rahardian. Bukan perkara harta dan kuasa.
"Baik pa, terimakasih atas semua perhatian papa dan kakek terhadap Serena selama ini." Balas Serena mengulas senyum tipis.
Setelah memastikan mobil Hidayat telah meninggalkan pelataran rumahnya, Serena berpamitan kepada sang ART hendak ke toko.
Serena memiliki toko kue peninggalan sang ibu. Dari toko itulah Serena bertahan hidup selama ini. Pernikahannya dengan Garen tak membuat kehidupan Serena menjadi lebih baik. Itu karena Serena tak pernah mendapatkan nafkah apapun dari suaminya.
Boleh di katakan kehidupan Serena berada di fase menyedihkan setelah kepergian kedua orang tuanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Serena berusaha mengambangkan toko kuenya hingga menjadi sebesar sekarang ini. Di tambah Serena juga membuka usaha baru selama delapan bulan ini. Yaitu toko pakaian ibu dan anak.
Dari kedua usaha tersebut, Serena dapat membayar lima orang karyawan yang ia miliki di kedua tokonya. Tiga orang di toko kuenya, dan dua orang lagi di toko pakaian miliknya. Dan sangat kebetulan, ruko yang Serena sewa berada persis di sebelah ruko kue milik kedua orang tuanya.
Dalam perjalanannya, Serena menghubungi sang karyawan kepercayaannya. Wanita itu seperti sedang menyiapkan sesuatu rencana paling berat dalam hidupnya. Terlihat dari ekspresi penuh tekanan yang tergurat jelas di wajah cantiknya, yang tampak lelah dan syarat akan beban.
Semoga cerita ini berkenan di hati kalian, jangan lupa tinggalkan jejak, tap Love/favorit agar tak ketinggalan update terbaru dari author.
Salam sayang author AQYa TRi