[Lo udah di tempat?] Helen membaca pesan yang masuk ke gawainya.
Kini Helen dan Sofia, ibunya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.
"Lihat deh, Ma. Bajunya lucu 'kan?" Segera Helen memasukkan lagi gawainya ke dalam tas dan mengambil salah satu baju yang menggantung di hanger secara acak.
"Hmmm ... ini bukan gaya kamu, deh, Sayang. Kamu yakin?" Sofia nampak sangsi dengan apa yang diperlihatkan putrinya. Gaun itu terlihat begitu seksi dan terbuka. Dan juga sedikit transparan.
"Ah ... sekali-kali nyoba yang lain dari biasanya 'kan nggak papa, Ma." Melihat gaun itu, Helen sebenarnya juga tidak bakalan mau memakainya, tapi untuk menutupi kenyataan bahwa dia asal comot, akhirnya gadis itu beralibi.
Sofia menggeleng tanda tak setuju, Helen pun bernafas lega karena artinya dia tidak jadi membelinya.
"Yang lain aja, Sayang. Yang lebih sopan. Mama nggak suka kamu pakai kayak gitu." Sofia menggeleng sembari menatap jijik ke arah baju itu. Bukannya apa, hanya saja sebagai wanita dia merasa malu jika mesti memakainya.
"Siap, Bos!" Tangannya diangkat ke atas seperti seseorang yang sedang hormat ke arah bendera.
Sofia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya tersebut. Helen bisa sangat pembangkang dan bar-bar, namun di lain waktu dia seperti anak kucing yang penurut.
Masak anak sendiri disamakan sama anak kucing, sih? batin Sofia. Kembali dia menggelengkan kepalanya agar pemikiran tentang anak kucing lenyap dari pikirannya.
Helen pun kembali berkeliling pura-pura melihat-lihat baju yang ada di sana. Karena memang bukan itu tujuan Helen mengajak ibunya ke sana. Mata Helen celingukan seakan mencari sesuatu. Pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang dan mereka saling mengangguk.
"Ma, Helen nyari toilet dulu, ya? Udah mau brojol, nih." Akting Helen patut diacungi jempol. Dia segera berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu.
"Tapi--" Dengan langkah terburu-buru Helen meninggalkan ibunya yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Sekejap mata, Helen sudah menghilang dari pandangannya. Pandangan Sofia kembali ke arah deretan baju yang dipajang di pusat perbelanjaan itu.
"Aduh!" Sofia nampak kaget saat tubuhnya sedikit maju karena tersenggol sesuatu.
"Ma - maaf, Tante. Nggak sengaja." Seorang pemuda nampak minta maaf. Ada raut penyesalan di wajahnya.
Sofia bergegas membalikkan badan untuk menatap pemuda itu, "Ah, tidak ma--."
"Nathan!" Dia begitu terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya kini. Terlebih melihat tangan Nathan yang tampak menggandeng seorang gadis.
Nathan segera melepaskan genggaman tangannya pada gadis di sebelahnya.
Gadis manis dengan kulit yang sedikit eksotis seperti Helen, putrinya. Tapi, nampaknya begitu lemah lembut dilihat dari wajahnya yang begitu meneduhkan. Wajah kecil dengan mata sedikit sipit. Hidungnya tidaklah mancung, tapi begitu mungil menggemaskan. Bibirnya juga terlihat pink alami.
Apakah ini pacar Nathan? Jelas hatinya bertanya-tanya tentang gadis itu. Secara keluarga mereka tengah membahas tentang pertunangan Nathan dan Helen.
"Ta - tante Sofia!" Nathan tampak terkejut dan gelagapan melihat Sofia.
"Ini tante kamu, Yank?" tanya gadis itu sembari tersenyum menatap Sofia.
"Oh, halo Tante. Saya Salsa, pacar Nathan." Gadis yang ternyata bernama Salsa itu mengulurkan tangan kanannya untuk menyalami Sofia.
Tanpa sungkan, gadis yang bernama Salsa itu mengakui dirinya sebagai pacar calon menantunya.
Betapa Sofia pun terpaku melihat senyum gadis itu. Seketika jiwanya menciut membandingkan gadis yang mengaku pacar Nathan dengan Helen, anaknya.
Meski Helen tak kalah manis dan cantik dibanding gadis di hadapannya saat ini, tapi dari sikapnya sungguh jauh berbeda. Bukan Helen, jika bermanis-manis dengan orang yang baru saja dilihatnya.
"Ah! Hai, Salsa. Saya Tante Sofia. Teman mamanya Nathan." Terlepas dari keterpanaannya akan gadis itu, Sofia menerima uluran tangan Salsa, dan tak lupa mengembangkan seutas senyum untuknya.
"Kalian mau belanja?" tanyanya mencoba biasa saja pada calon tunangan anaknya itu. Meski hatinya sedikit bergemuruh takut Helen terluka jika terus memaksakan pertunangan ini.
"Iya nih, Tante," jawab Salsa masih dengan menyunggingkan senyum.
Salsa nampak sosok yang menarik. Ramah dan murah senyum, serta lemah lembut dalam bertutur kata. Sebagai orang tua, Sofia sendiri sudah terkesan dengan perkenalan mereka.
Sofia melirik Nathan yang kelihatan sangat gugup. Apa dia merasa takut jika mamanya tahu? Yang kutahu Nathan sangat menyayangi Maria, batin Sofia.
"Tante, sendiri?" Terlepas dari rasa tidak sukanya pada Salsa karena merupakan kekasih calon menantunya, tetap saja Sofia menilai Salsa itu gadis yang ramah.
"Ah, enggak. Tadi ama Helen, anak Tante." Wanita berusia hampir setengah abad itu celingukan mencari putrinya yang dia rasa begitu lama perginya, "tapi, kemana juga anak itu. Pamit ke toilet tapi toiletnya di Mesir kali, ya. Lama banget."
Mendengar lelucon Sofia, sontak saja Salsa tertawa, sedang Nathan hanya tersenyum tipis karena dia sendiri merasa sangat takut.
"Udah ya, Tante. Kami permisi dulu." Nathan tersenyum pada Sofia, lalu menarik tangan kekasihnya itu. Dia takut tidak bisa berlama-lama menyembunyikan kegugupannya. Bagaimanapun, dia bukan tipe orang yang suka berbohong. Meski ini tidak bisa dikatakan sebagai suatu kebohongan.
"Tapi, Yank ...?" Salsa pun hendak mengajukan protes, namun dengan cepat Nathan sudah menariknya menjauh dari Sofia.
"Kami permisi dulu, Tante!" teriak gadis itu ketika hampir melewati pintu masuk outlet pakaian tersebut.
Sofia hanya mengangguk sembari tersenyum melihat keduanya yang semakin menjauh dari pandangan.
Nathan bisa bernafas lega ketika dirinya dan Salsa sudah tidak berada dalam jangkauan Sofia.
Helen dan Nathan saling mengangguk ketika keduanya berpapasan, tanpa gadis di sebelah Nathan tahu. Helen yang sedari tadi menunggu Nathan keluar dari outlet itu, segera beranjak untuk kembali menemani ibunya.
"Lama banget sih, Len?" Khawatir terjadi sesuatu dengan putrinya, ia segera menghampiri Helen, sesaat setelah gadis itu masuk ke dalam outlet pakaian itu.
"Maaf, Ma. Tadi Helen mules banget. Nggak tahu gara-gara makan apa?" Bohong? Tentu saja dia berbohong. Sedari tadi dia mengamati outlet itu dari pojokan. Nggak kemana-mana. Apalagi ke toilet.
"Oh, yasudah. Tapi untunglah kamu agak lama. Kalau tidak--." Sofia menjeda ucapannya. Perlukah ia mengatakan tentang Nathan yang sedang jalan dengan pacarnya itu. Tapi, Sofia takut Helen semakin menolak perjodohan ini.
"Kalau tidak kenapa, Ma?" tanya Helen pura-pura penasaran.
"Ah, enggak. Kalau tidak bisa-bisa kamu kepicirit di sini tadi. Kan malu-maluin." Wanita yang hampir paruh baya itu mencoba mengalihkan perhatian Helen. Helen tidak usah tahu kalau dirinya tadi bertemu Nathan. Itu lebih baik.
"Ih, Mama jorok. Emang Helen bayi apa? Nggak tahu tempat." Gadis itu tampak memajukan bibirnya beberapa senti. Perkataan ibunya sontak membuat Helen malu.
"Udahan yuk, Ma. Helen capek," ajak Helen.
"Lho, kamu belum beli sesuatu lho, Sayang." Sofia berusaha mengingatkan Helen akan tujuan awalnya datang ke pusat perbelanjaan ini.
"Beneran deh, Ma. Helen udah capek. Pulang aja, yuk." Tanpa menunggu keputusan ibunya, gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan outlet pakaian itu. Tanpa membeli apapun.
Helen pulang dengan perasaan lega. Rencana pertama mereka akhirnya berhasil. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan ibunya untuk memikirkan lagi tentang rencana perjodohannya dengan Nathan.
[Gila. Gue beneran takut tadi. Takut Tante Sofia nanya macem-macem dan akhirnya gue keceplosan. Gue 'kan nggak biasa bohong.]
Sebuah pesan masuk ke dalam gawainya. Siapa lagi kalau bukan dari Nathan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bekerja sama agar masing-masing orang tua memikirkan lagi bahwa anak-anak mereka sudah memiliki pasangan.
[Mulai sekarang, lo mesti belajar berbohong. Karena rencana kita ini membuat kita menjadi pembohong.] Send Nathan.
Helen segera melempar gawainya asal ke atas kasur empuk miliknya. Dia merebahkan tubuhnya dan memanjakan punggungnya di kasur itu.
Sekarang gilirannya mengajak Gio untuk kencan di luar. Cukup sulit, secara Gio dia sendiri belum pernah kencan di luar dengan Gio.
Sekalinya janjian, gagal waktu pertama kali ketemu Nathan. Biasanya dia hanya berduaan dengan Gio di dalam mobilnya atau di dalam mobil Gio. Hanya untuk sekedar berciuman, tidak lebih.
"Hah!" Helen membuang nafas kasar. Kadang dia sendiri bingung dengan hubungannya selama ini. Apakah bisa disebut pacaran?
"Bodo, ah!" Helen segera membenamkan kepalanya di bawah bantal dan sejenak berhenti memikirkan masalahnya.