Matahari sudah meninggi, namun gadis manis dengan kulit eksotis itu masih enggan membuka matanya. Selimut, dia gunakan sebagai perisai dari teriknya cahaya matahari yang melalui kelopak matanya.
"Helen, Sayang, bangun!" Seorang wanita hampir mendekati paruh baya menarik paksa selimut itu, yang akhirnya menampakkan tubuh putrinya yang meringkuk bagaikan janin.
"Apa sih, Ma? Masih ngantuk juga." Tanpa membuka matanya, tangan gadis itu menjelajahi kasur hendak mencari lagi selimut yang tadi membungkus tubuhnya.
"Kamu ini, anak cewek jam segini belum bangun. Mau makan apa suami kamu nanti!" Suara Sofia terdengar menggema di dalam kamar Helen. Gadis itu masih enggak membuka matanya.
"Ya makan nasilah, Ma. Masak makan daun." Bukan sebuah kepatuhan yang diperlihatkan Helen atas pertanyaan mamanya, tapi sebuah jawaban yang pasti bakal membuat Sofia naik darah pagi-pagi.
"Helen! Bisa nggak sih nggak bantah kalau Mama ngomong?" Bukan Helen jika tak mampu membuat ibunya merasa geram akan sikapnya.
Karena merasa suasana tak kondusif lagi, Helen segera terduduk dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Tangan kanan gadis itu mengucek matanya yang tidak gatal.
"Mama juga nanyanya aneh. Masak dikasih makan apa? Jelas-jelas orang Indonesia makanan pokoknya nasi. Masih aja nanya." Sofia segera memijit keningnya yang terasa begitu nyut-nyutan. Berdebat dengan Helen di pagi hari merupakan salah satu hal yang bisa membuat migrainnya kumat.
Buru-buru wanita itu menarik nafas panjang. Anak gadisnya itu masih saja enggan membuka mata, meski kini sudah dalam posisi duduk.
Untung saja semalam ATM-ku sudah direcharge ama Mas Doni. Coba kalau nggak, pasti udah kugiles tu anak, ujar Sofia dalam hati. Tangannya sibuk mengelus dadanya untuk mengontrol emosinya.
"Sayang ... bangun, gih. Udah siang, lho." Kali ini Sofia berusaha lembut pada putri kesayangannya itu, berharap kali ini akan didengarkan.
Seketika netra Helen membola. Berkali-kali dia mengucek matanya dan menatap ke arah ibunya, "Mama nggak lagi ngigau 'kan? Tumben lembut amat."
Dasar Helen, masih saja dia membuat masalah dengan ibunya. Untung stok sabar Sofia terisi penuh, bersamaan dengan isi ATM-nya. Jadi, kali ini dia tidak akan menanggapi omongan putrinya itu.
"Sudah! Mama lagi males debat. Cepet bangun udah siang. Bukannya kamu ada kuliah?"
Helen menepuk keningnya pelan. Dia benar-benat lupa hari ini ada kuliah jam sepuluh. Tanpa mengindahkan ibunya lagi, buru-buru Helen masuk ke kamar mandi. Hanya cuci muka dan gosok gigi.
Sofia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Helen. Sudah seperti kebiasaan baginya membangunkan anak perempuannya itu.
"Helen ... Helen, kapan kamu dewasanya?" Wanita hampir mendekati paruh baya itu meninggalkan kamar putrinya yang terlihat begitu berantakan. Dengan bermacam-macam barang yang tergeletak di mana-mana.
"Harusnya gue lebih pagi bangunnya. Kalau kesiangan gini 'kan nggak jadi ketemu Gio." Kini Helen telah berada di dalam mobilnya. Dengan kecepatan penuh dia mengendarai mobil Mini Chopper merah miliknya.
Namun percuma, jalanan sedikit macet membuatnya tidak segera sampai ke kampus.
"Gerah banget, sih. Apa karena gue nggak mandi, ya?" Helen mengipas-ipaskan tangan kanannya ke arah wajahnya, sedang tangan kirinya masih memegangi kemudi.
"AC full, tapi kenapa gerah banget? Mana jalanan macet lagi. Nyampe kampus mau jam berapa coba?" Helen melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, hanya tinggal setengah jam lagi akan tepat pukul sepuluh.
"Mana Pak Rudy killer abis. Nggak masuk kelasnya bisa-bisa nggak dilulusin pas mata kuliahnya. Mau jadi mahasiswa abadi apa gue? Eh, ralat, mahasiswi." Berkali-kali Helen hanya mendesah, tapi ingat bukan desahan nikmat yang ehem-ehem, ya. Tapi, desahan kecewa dan putus asa akan nasibnya kini.
"Sial banget sih, gue. Udah dijodohin ama bocil, habis itu telat di kelas Pak Rudy. Double kill itu jadinya." Gadis itu membenturkan pelan keningnya di atas kemudi.
Setelah menempuh perjalanan yang sangat mendebarkan. Dalam ini hati Helen benar-benar berdebar, takut kena hukuman Pak Rudy karena telat di kelasnya. Dan benar, saat ini Helen sedang menjalankan hukumannya.
"Wah! Gue nggak nyangka, seorang Helen akan menerima hukuman ini tanpa perlawanan." Tasya tiba-tiba muncul di samping Helen. Helen hanya melirik sekilas dan kembali berkutat pada kegiatannya.
"Len." Tak menyerah, Tasya menyenggol lengan Helen agar gadis itu tidak mengabaikan keberadaanya.
Helen menarik nafas panjang, "Apa sih, Sya? Nggak lihat gue lagi sibuk?" Helen setengah berbisik mengucapkannya. Takut mengganggu pengunjung perpustakaan yang lain. Seperti waktu bersama Nathan waktu itu.
Kenapa gue tetiba keinget Nathan, sih? Bocah labil gitu. Tangannya bekerja namun pikirannya memikirkan hal lain.
"Yaelah, Len. Biasanya juga lo nggak seniat ini ngerjain hukuman dosen?" Bukannya diam, Tasya malah mencibir perkataan Helen.
"Ini lain, Sya. Tahu sendiri gimana garangnya Pak Rudy. Gue nggak mau cari masalah ama tu dosen." Meski pegal, Helen terus menuliskan sebuah kalimat yang harus ditulisnya 500 kali.
"Lagian Pak Rudy ngasih hukumannya nggak kreatif banget, sih. Kayak anak SD aja," cibir Tasya.
Helen mendapat hukuman dengan menuliskan kalimat 'Saya janji tidak akan terlambat lagi' sebanyak 500 kali. Dan mungkin gadis itu sudah menulis setengahnya.
"Nih!" Helen menyodorkan beberapa lembar kertas HVS ke arah Tasya, " bantuin. Dari pada lo berisik."
"Kalau lo bukan sohib gue. Ogah gue bantuin." Meski mencebik, Tasya segera meraih kertas dan pena, dan mulai membantu Helen menyelesaikan hukumannya.
Suasana perpustakaan itu nampak sepi. Tak banyak mahasiswa yang suka menghabiskan waktunya di sana. Helen pun sama, jika bukan karena hukuman dari dosennya, saat ini pasti dia tidak berada di sini. Tapi bersama Gio di parkiran.
[Beb. Kamu di mana?] Sebuah pesan masuk ke dalam gawai milik Helen. Gadis itu melirik sekilas ke arah benda pipih yang diletakkannya di atas meja.
[Sorry, Beb. Aku di perpus lagi ada tugas.] Send to Gio.
Bohong! Tentu saja. Helen malu jika mesti jujur jika dirinya sedang mendapat hukuman dari Pak Rudy.
[Tapi aku udah kangen berat, Beb.] Semburat pink menghiasi pipi Helen. Gadis itu senyum-senyum sendiri jadinya.
[Aku juga, Beb. Tapi beneran lagi ada tugas penting. Atau kamu mau nyusul ke sini?] Send to Gio.
Helen sama sekali tidak khawatir dengan jawaban yang akan diberikan Gio, karena Helen yakin Gio pasti nolak.
"Woi! Jangan pacaran mulu! Gue tinggal, nih!" Melihat Helen senyum-senyum sembari menatap ke arah layar handphone, membuat Tasya kegerahan. Bukan marah betulan tentunya.
"Iya, iya, bawel amat, sih."
[Besok aja, Beb. Jam 7 seperti biasanya.]
Bersamaan dengan tangannya yang hendak meletakkan kembali gawainya, sebuah pesan masuk. Tak berniat membalas lagi, Helen segera melanjutkan hukumannya.
"Akhirnya selesai juga ...." Baik Helen maupun Tasya, keduanya menggeliat lega. Setelah jari-jarinya keriting menulis beratus-ratus kalimat di kertas.
"Yuk, cabut. Gue ke ruangan Pak Rudy dulu, ya," ajak Helen. Keduanya beranjak dari kursi meninggalkan tempat itu. Tempat yang paling mereka benci. Tasya pun mengekor sahabatnya itu.